,

Mat Jais ‘Menggali’ Rupiah di Tanah Tandus

Hujan baru saja berhenti, sang surya mulai menampakan diri dari celah awan hitam yang membentang diatas kota Negeri Seribu Bukit, kendaraanpun mulai berlalulalang bertanda warga mulai melakukan aktifitasnya masing-masing.

Pria paruh baya yang semula berteduh di pondok itu mulai bergegas meninggalkan tempat persingahanya, parangnya di ikat dipinggang, dan cangkulnya mulai dipikul. Sesekali, cangkulnya diayunkan ke tanah, pindah lagi dan diayunkan lagi ke tanah.

“Lagi buat lobang tanam serai wangi,” kata Mat Jais warga desa Porang, Kecamatan Blangkejeren, Rabu, 5 Desember 2018 di Bur Jomong yang masuk wilayah desa Anak Reje, Kecamatan Blangpegayon Gayo Lues.

Mat Jais adalah seorang Pegawai Negeri Sipil (PNS) yang bekerja di kantor Sekdakab, Gayo Lues, usai melaksanakan pekerjaan rutin setegah hari di kantor, iapun memilih berkebun di tanah merah Bur Jomong. “Tanah merah ini hanya cocok tanam serai wangi,” katanya.

Semula ia pernah menanam pisang di lahan tandus tersebut, tetapi hasil yang diperoleh tidak maksimal lantaran buahnya kecil dan sering masuk ternak memakan anak pisang.
Begitu juga dengan tanaman jagung, di lahan tandus itu tidak cocok lantaran ketika hujan tak tutun tanahnya jadi gersang dan jagung yang sudah tumbuh akan kering, sementara air penyiramnya berada dibawah perkebunan yang membuat sulit petani menyelang ke atas. “Kita bukan memikirkan harga yang mahal, tetapi dari pada tumbuh rumput liar, mendingan ditanam serai wangi saja. Kasihan jadi lahan tidur,” ujarnya.

Serai wangi kata Mat Jais adalah tanaman yang bisa menghasilkan rupiah meskipun ditanam di lahan tandus, tanaman itu tidak mengenal tempat, maupun kondisi cuaca, asalkan lengket di tanah, tumbuhan itu akan hidup dengan perawatan pembersihan saja menggunakan semprot atau ditebas.

” Umur serai wangi baru bisa dipanen setelah tanan berkusar antara 4 sampai 6 bulan, dan semakin sering dipanen dan dibersihkan, maka minyaknya semakin banyak kita dapatkan, bahkan dalam satu hektar lahan bisa mencapai 40 Kg hingga 80 Kg minyak, itu semua tergantung perawatanya,” jelasnya.

Harga minyak serai wanggi kata Mat Jais terbilang menjanjikan, pasalnya, dalam 1 Kg minyak sere wanggi saat ini dihargai hingga Rp 300 ribu lebih, dan harga itu sangat pantastis jika pemilik kebun serai wangi memiliki kayu bakar dikebun tanpa harus dibeli.

“Pokoknya kalau dihitung-hitung lumayanlah hasilnya. Dari pada tanah merah ini dibiarkan begitu saja, mendingan kita gali lubang kemudian diranam sere wangi, kalau kita tidak sanggup memanenya (mengukus serai), kita juga bisa menyuruh orang dengan sistim bagi tiga dari orang itu kayu bakarnya,” terangnya.

Mat Jais menghimbau, warga yang memiliki lahan tidur tandus agar ditanan serai wangi saja, sebab, tanaman itu tidak membutuhkan perawatan khusus seperti tanaman lainya. Saat ini, kebanyakan warga Gayo Lues saat ini menanam sere wangi, kopi, dan coklat sebagai tanaman masa tua yang meningkatkan kesejahtraan.[Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *