,

Masyarakat Tolak Pengembangan PLTD Kota Fajar

KLUET UTARA – Masyarakat Desa Jambo Manyang, Kluet Utara, Aceh Selatan menolak rencana pengembangan areal dan penambahan mesin Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) Kota Fajar di desa tersebut. Pasalnya, rencana pengembangan PLTD tersebut sangat dekat dengan rumah penduduk.

Akbar salah seorang warga Jambo Manyang menjelaskan, masyarakat setempat sudah lama mengeluh dengan kebisingan yang diakibatkan oleh mesin PLTD tersebut. “Persoalan polusi udara dan kebisingan belum teratasi, sekarang ditambah lagi dengan rencana pengembangan dan penambahan mesin. Kami jelas-jelas menolaknya,” tegas Akbar, Rabu 9 November 2016.

Malah kata Akbar, kebisingan suara mesin PLTD juga sangat mengganggu masyarakat yang beribadah di Masjid sekitar, serta mengganggu proses belajar mengajar di Sekolah Dasar Negeri (SDN) Jambo Manyang yang berlokasi tidak jauh dari pembangkit listrik tersebut. “Beberapa masyarakat di sini memang sudah terbukti mengalami gangguan pendengaran dampak dari kebisingan suara mesin PLTD tersebut,” ungkapnya.

Akbar melanjutkan, sebenarnya masyarakat setempat tidak akan melakukan protes jika pengembangan lahan PLTD itu dilakukan di bagian belakang dari lokasi yang telah ada karena lokasinya tidak terlalu dekat dengan perumahan penduduk. Tapi dalam perkembangan terakhir, ternyata pengembangan lahan tersebut tidak seperti rencana semula melainkan telah berubah ke bagian samping persis berada di belakang rumah penduduk.
 
“Kami bukan tidak setuju dilakukan pengembangan lahan dan penambahan mesin PLTD sebab keberadaan pembangkit itu memang benar-benar dibutuhkan masyarakat. Tapi kami minta pengembangannya jangan terlalu dekat dengan rumah penduduk,” tegasnya.

Masih menurut Akbar, semakin peliknya persoalan tersebut disebabkan karena dalam rapat dengan masyarakat beberapa waktu lalu, pihak PLN Rayon Kota Fajar di hadapan masyarakat menyebutkan bahwa terkait rencana pembangunan pembangkit baru tersebut telah mendapat izin dari Kepala Desa Jambo Manyang dan Camat Kluet Utara serta Bupati Aceh Selatan.

Pernyataan itu, kata dia, jelas-jelas ditentang oleh masyarakat karena belum pernah dimusyawarahkan. “Jika benar kepala desa telah memberikan persetujuan berarti sama halnya beliau telah menjual masyarakat di sini kepada pihak PLN. Sebab setahu kami masyarakat tidak pernah memberikan persetujuan terkait rencana pembangunan pembangkit baru tersebut,” lanjutnya.
 
Karena itu, untuk menghindari terjadinya konflik horizontal ditengah-tengah masyarakat setempat pihaknya meminta kepada pihak PT. PLN agar mengkaji ulang rencana tersebut dengan mempertimbangkan aspirasi masyarakat. Sebab di Desa Jambo Manyang bahkan dalam wilayah Kluet Raya masih terdapat lahan kosong yang cukup luas serta jauh dari pemukiman penduduk.
 
“Kami memohon kepada PT PLN tolong ambil keputusan yang arif dan bijaksana sehingga rencana pembangunan pembangkit listrik baru tersebut tidak merugikan dan mengganggu masyarakat,” pintanya.
 
 
Salah seorang warga lainnya, Armia, menegaskan, jika pihak PT PLN bersedia membangun pembangkit yang baru di luar lokasi yang ada sekarang, dia bersedia menghibahkan tanahnya seluas 35 x 75 meter di Dusun Suak Sirudang Desa Jambo Manyang.  
 
“Saya ikhlas menghibahkan tanah saya kepada PLN jika mereka bersedia membatalkan pembangunan pembangkit listrik di samping lokasi yang telah ada sekarang lalu memindahkannya ke lokasi tanah saya,” ujarnya.

Sementara itu, Marzuki salah seorang aktivis mahasiswa di Desa Jambo Manyang mengungkapkan, terkait penolakan rencana pembangunan pembangkit listrik yang baru tersebut, pihaknya telah melayangkan surat kepada Bupati Aceh Selatan tertanggal 2 November 2016 lalu. Surat yang tembusannya turut disampaikan kepada Ketua DPRK Aceh Selatan tersebut ditandatangani sebanyak 31 orang warga Desa Jambo Manyang khususnya mereka yang bermukim di dekat pembangkit lama.
 
“Kami berharap kepada Pemkab Aceh Selatan dapat mengkaji ulang sebelum dikeluarkannya izin resmi pembangunan pembangkit PLN yang baru. Masyarakat juga meminta kepada Pemkab Aceh Selatan untuk memfasilitasi relokasi pembangkit yang telah ada sebelumnya ke lokasi yang dinilai lebih strategis,” pintanya.[Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *