Mantan Kombatan Minta Lembaga Wali Nanggroe Tidak Dihilangkan

0
253
Jpeg

TAPAKTUAN – Mantan kombatan GAM wilayah Lhok Tapaktuan, T Raja Heru Trumon, sependapat dengan wacana pemilihan ulang Wali Nanggroe (WN) Aceh, sehubungan akan berakhirnya periodesasi masa tugas Wali Nanggroe Malik Mahmud Al-Haytar. Namun, ia menolak keras rencana segelintir elit politik di Aceh akan menghapus atau menghilangkan keberadaan lembaga WN di Aceh.

“Wacana pergantian WN itu tak masalah jika sosok yang menjabat saat ini kurang tepat silahkan pilih sosok yang lebih baik dan pantas. Tapi jika ada pihak tertentu yang ingin menghilangkan lembaga dan status WN di Aceh seperti statemen anggota DPD RI Ghazali Abbas maka akan saya tantang meskipun nyawa taruhannya,” kata T Raja Heru Trumon kepada wartawan di Tapaktuan, Sabtu, 17 November 2018.

Menurutnya, siapapun yang mendesak penghapusan lembaga WN di Aceh, sama halnya sengaja memprovokasi atau mengobok-obok kondisi keamanan dan ketertiban di tengah-tengah masyarakat Aceh sekarang ini sudah sangat kondusif.

“Orang yang meminta lembaga WN dihilangkan adalah orang yang tidak memahami atau tak faham substansi butir-butir MoU Helsinki sebagai cikal bakalnya terwujud perdamaian di bumi Aceh yang disepakati antara RI dan GAM di hadapan dunia internasional,” sesal T Raja Heru.

Karena itu, sambung T Raja Heru, pihaknya sebagai bagian dari pelaku sejarah pergerakan sayap militer GAM di bawah komando KPA wilayah Lhok Tapaktuan, mengingatkan kepada senator Aceh, Ghazali Abbas serta elit-elit politik lainnya di Aceh agar lebih cermat dan lebih bertanggung-jawab dalam mengeluarkan statemen terkait pembubaran lembaga WN di hadapan masyarakat.

Sebab, kata dia, jauh sebelum gonjang ganjing sekarang ini lembaga WN telah lebih dulu ada di Aceh namun sayangnya akibat digerus arus globalisasi perkembangan zaman lembaga tersebut lenyap begitu saja.

“Namun, Alhamdulillah berkat izin Allah SWT melalui perjuangan GAM lembaga WN kembali terbentuk di Aceh sehingga sejarah Aceh kembali tumbuh secara perlahan untuk dikenang oleh generasi penerus,” ungkapnya.

Menurutnya, tidak mudah menumbuhkan kembali sejarah Aceh yang sudah pernah hilang tersebut. Buktinya, harus butuh waktu selama 30 tahun lebih rakyat Aceh hidup dalam konflik bersenjata dengan begitu banyak pengorbanan nyawa dan harta yang dilakukan oleh bangsa Aceh hingga berakhir dengan terciptanya perdamaian.[HM]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here