Maimun Saleh dan Sejarah Sekolah Penerbangan Aceh

0
268

Tahun 1949, 14 pemuda Aceh dilatih di Sekolah Penerbangan Lhoknga, 5 lulusan terbaik dikirim ke Sekolah Penerbangan California Amerika Serikat. Satu diantaranya T Zainal Abidin berkarir menjadi Atase Militer Republik Indonesia, nasib tragis dialami Maimun Saleh, tewas dalam kecelakaan pesawat yang dipilotinya.

Pada 16 Mei 1949, Staf Umum Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) di Banda Aceh, Opsir Udara I Soejoso Karsono mengeluarkan pengumuman, membuka kesempatan kepada para pemuda Aceh berusia antara 19 sampai 25 tahun, yang berpendidikan sekurang-kurangnya Sekolah Menengah Pertama (SMP) untuk dididik dalam dinas Jawatan Meteo, Teknik Penerbangan, Pertahanan Lapangan Udara, dan bidang administrasi.

Pada 9 Agustus 1949 Angkatan Udara Republik Indonesia kembali mengumumkan, bahwa untuk mendidik kader-kader baru angkatan udara, akan dibuka Sekolah Penerbangan di Aceh.

Pengumuman itu dikeluarkan berdasarkan Maklumat AURI No.2-P yang ditandatangani oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara III Opsir Udara I Soejoso Karsono. Pendaftaran dibuka selama sepuluh hari, yakni mulai tanggal 10 hingga 20 Agustus 1949 di Kantor AURI Banda Aceh.

Dalam maklumat tersebut dijelaskan, bila pengumuman sebelumnya yang diterima adalah lulusan SMP, kini syaratnya dinaikkan menjadi lulusa Sekolah Menangah Atas (SMA). Begitu juga dengan syarat usia, bila sebelumnya dinyatakan 19 hingga 25 tahun, kini menjadi berusia kurang dari 22 tahun.

Syarat lainnya adalah berbadan sehat menurut pemeriksaan dokter, dan tinggi badan minimal 160 centi meter atau 1,6 meter. Yang diterima hanya 20 orang, mereka yang mendaftar harus terlebih dahulu mengikuti ujian masuk.

Bagi 20 orang lulusan pertama itu, akan dididik dalam beberapa disiplin ilmu penerbangan, diantaranya: pendidikan militer, teori teknik penerbangan, ilmu bumi, pengetahuan meteo, pengetahuan radio, navigasi, dan bahasa Inggris. Dari 20 peserta didik tersebut, selanjutnya akan dipilih lima orang menjadi pilot, lima orang untuk ahli radio (flight operator), dan sepuluh orang untuk fligh engineering.

Kemudian kepada calon pilot akan dilanjutkan ke jenjang pendidikan latihan terbang praktis dengan pesawat latih, pengetahuan mengenai pesawat terbang, meteo, navigasi, ilmu budi dan bahasa Inggris.

Sementara para calon ahli radio (flight operator) diberi pengetahuan yang khusus tentang pengetahuan radio, tekhnik pesawat terbang, navigasi, dan bahasa Inggris. Begitu juga dengan para calon fligh engineering.

Namun sebilan hari kemudian, yakni pada 18 Agustus 1949 kembali diumumkan melalui Maklumat AURI No.5/P yang ditandangani oleh Wakil Kepala Staf Angkatan Udara III Opsir Udara I Soejoso Karsono.

Dalam maklumat itu dijelaskan bahwa, berhubung tertundanya untuk sementara waktu pembukaan Sekolah Penerbangan untuk Bagian Opsir, maka terlebih dahulu akan dibuka Sekolah Penerbangan untuk Opsir Rendah (Onder Officier).

Kepada para peminat diminta untuk memenuhi syarat: berijazah SMP, berbadan sehat menurut pemeriksaan dokter, tidak beristri, tinggi 160 centi meter, usia maksimal 22 tahun. Yang diterima hanya 15 orang calon dan akan mendapat pangkat Kadet II, Sersan Mayor Udara Penerbangan. Bagi mereka yang lulus akan dididik selama empat bulan, setelah itu baru dimulai dengan pelajaran terbang praktis.

Pada 1 September 1949, Sekolah Penerbangan dibuka di Pangkalan Udara Lhoknga, Aceh Besar. Angkatan pertama ini diikuti oleh 14 pemuda Aceh kadet penerbangan. Mereka adalah: Maimun Saleh, T Iskandar, Aboebakar, Muchtar, T Zainal Abidin, Sufi Usman, Rusjdi Musa, Mustafa, Aijub, Zulkifli, Saadan, S Chatib, Muhammad Dahlan Malaj, dan Agus Safar.

Setelah lulus di Sekolah Penerbangan Lhoknga, ke-14 mereka kemudian melanjutkan pendidikan ke Sekolah Penerbangan Kalijati, Jawa Barat. Selanjutnya, 5 orang yang terbaik dari mereka kemudian dikirim ke Amerika Serikat untuk melanjutkan pendidikan di Sekolah Penerbangan California. Kelima pemuda Aceh itu adalah: Maimun Saleh, T Iskandar, Aboebakar, Muchtar dan T Zainal Abidin.

Setelah tamat dari Sekolah Penerbangan di California, kelima mereka kemudian menjadi pilot Angkatan Udara Republik Indonesia. T Zainal Abidin malah kemudian menjadi Kepala Staf Komando Daerah Udara I Sumatera, kemudian ia berkarir menjadi diplomat sebagai Atase Militer Republik Indonesia di Singapura.

Nasib tragis dialami oleh Maimun Saleh, ia tewas dalam kecelakaan pesawat yang dipilotinya. Untuk mengenang kiprah dan jasa Maimun Saleh dalam dunia penerbangan, Pemerintah Pusat melalui Angkatan Udara Republik Indonesia kemudian membangun monument pesawat tempur di Simpang Aneuk Galong, Kecamatan Suka Makmur (Sibreh) Aceh Besar di kampung halamannya Maimun Saleh. [Maimun Saleh]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here