Mahasiswa Unsyiah Temukan Ikan Jurung Raksasa di Sungai Lesten

0
1073

BLANGKEJEREN – Ikan jurung berukuran besar masih banyak ditemukan di Kabupaten Gayo Lues, terutama dalam aliran sungai di pedalaman yang jauh dari pemukiman penduduk, seperti di desa Lesten, Kecamatan Pining dan Tongra, Kecamatan Teranggun.

Meski ikan jurung atau yang disebut masayarakat Gayo Lues ikan gegaring sudah mulai langka dan harganya sangat mahal, di sungai hutan Lesten yang tembus ke Aceh Tamiang itu masih kerap ditemukan ikan jurung berukuran besar.

Seperti yang ditemukan Gusti Randa, mahasiswa Tehnik Pertambangan Universitas Syiah Kuala, Kamis, 14 September 2017. Mahasiswa asal Gayo Lues tersebut sedang melakukan kerja praktek di PT Karmizu yang sedang membangun embangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) di daerah Tampur, dengan jarak sekitar dua jam dari desa Lesten. “Di sana saya berhasil menangkap ikan jurung raksasa,” kata Mahasiswa kelahiran 21 Desember 1993 itu.

Gusti Randa menceritakan, sesampainya ia di Desa Lesten langsung menyebranggi sungai bersama pekerja PT Karmizu yang melakukan pengeboran di Tampur, dan selama dua hari mengikuti dan bekerja bersama perusahaan itu, iapun mencoba memancing di sungai Lesten.

Dengan bermodal pancing yang disangkutkan ke kayu, iapun merebus mie instan yang telah dipersiapkan dari Kota Blangkejeren, “Umpanya saya buat mie instan ke mata kail bersama teman-teman dari PT Karmizu, karena tidak ada umpan yang lain di daerah itu,” kata Randa.

Selang beberapa menit kemudian, pancing itupun langsung di tarik ikan ke dasar sungai, ia dan teman-temanya sempat kewalahan karena membutuhkan waktu setengah jam untuk mengankat ikan hasil tangkapanya itu.

“Alhamdulilah ikan jurung yang kami dapat berukuran besar, meski tidak kami ukur panjang dan beratnya, saya perkirakan mencapai satu meterlah, dan sudah susah mengangkatnyapun,” kantanya.

Rupayanya kata Gusti Randa, di sungai itu masih banyak ikan-ikan berukuran raksasa, dan para pemancing tidak akan membawa ikan jurung yang berukuran kecil meskipun sudah tersangkut di mata pancing ataupun di alat penangkapan ikan lainya.

“Ikan besar itu cukup untuk lauk kami selama dua hari, dan sebelum ikan itu habis, kami tidak melakukan aktifitas memancing lagi, kabarnya ikan di daerah itu tidak boleh menangkap berlebihan, hanya untuk dimakan di lokasi saja,” ungkapnya.[Win Porang]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here