,

Mahasiswa Tolak Dana ADK Dipakai untuk Biayai Saman Massal

BLANGKEJEREN – Aliansi Mahasiswa Gayo Lues menolak pengunaan anggaran dari Alokasi Dana Kampung (ADK) untuk kegiatan tari saman massal yang akan digelar pada 13 Agustus 2017 mendatang.

Untuk menyuarakan itu, puluhan mahasiswa, Selasa, 18 Juli 2017 menggelar unjuk rasa di depan Pendopo Bupati Gayo Lues. Prima selaku koordinator aksi mengungkapkan, dana ADK seharusnya digunakan untuk pembangunan desa untuk kesejahteraan masyarakat, bukan dialihkan untuk membiayai even tari.

“Sebelumnya kami sudah pernah melakukan audiensi dengan Sekda H Thalib selaku ketua panitia dan Syafrudin Kadis Pariwisata selaku sekretaris panitia, tapi kami tidak mendapatkan jawaban yang masuk akal dan memuaskan, makanya kami menggelar aksi demo,” jelasnya.

Prima menegaskan, jika memang Pemda tetap bersikeras mengadakan tari saman massal dengan sebagian anggaran dari ADK, maka itu sama saja dengan memasukkan para kepala desa dalam jurang yang berbahaya.

“Coba bayangkan, anggaran yang telah ditransfer ke masing-masing desa diminta kembali oleh Pemda berkisar Rp20 Juta hingga Rp300 juta untuk tari Saman, kan ini membodohi masyarakat,” tegasnya.

PergelaDana ADK yang dipakai untuk event tersebut keseluruhan mencapai Rp 10,8 miliar, anggaran dari Dinas Pariwisata Rp 1,5 miliar, anggaran dari APBN Rp 600 juta.

“Dulu sudah diadakan Tari Saman massal dengan 5005 penari, sudah masuk jadi rekor muri, tapi setelah itu apa yang didapatkan warga Gayo Lues, begitu juga dengan tari Saman sudah diakui Unesco sebagai warusan dunia tak benda, tapi apa keuntungan yang diperoleh, malahan anggaran daerah harus terkuras lebih banyak dari sebelum diakui Unesco itu,” ujarnya.

Sementara itu Bupati Gayo Lues, H Ibnu Hasim yang menemui mahasiswa mengatakan, tari saman merupakan budaya Gayo Lues yang telah mempersatukan seluruh warga Gayo di seluruh penjuru negeri.

“Tari saman harus dilestarikan hingga ke anak cucu kita, jadi kalau kita tidak memberdayakanya dan tidak melestarikanya, bisa dihapus dari Unesco sebagai warisan budaya tak benda,” jelasnya.

Sementara itu Ketua DPRK Gayo Lues, H Ali Husin mengaku tidak tahu anggaran untuk tari saman massal itu mencapai Rp 10 miliar lebih, sebab saat pembahasan anggaran di DPRK hanya dianggarkan Rp 1,5 miliar di Dinas Pariwisata sebagai dana promosi kesenian daerah dan dana pengelaran pentas seni daerah 145 desa sebesar Rp 300 juta.

“Kalau ada dana lain yang akan dijadikan sebagai anggaran tari saman masal itu, kami sama sekali tidak tahu dari mana sumbernya, intinya kami juga ingin mendegarkan kebenaran, dan akan melakukan pengawasan,” jelasnya.[Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *