,

Mahasiswa Jepang Bagi Buku Mitigasi Bencana untuk Pelajar di Banda Aceh

BANDA ACEH – Wakil Wali Kota Banda Aceh Zainal Arifin menerima buku mitigasi bencana gempa bumi dan tsunami hasil karya mahasiwa Universitas Waseda, Jepang, yang tergabung dalam Waseda Student Organization for The Education of Natural Disaster. Buku cerita bergambar yang terdiri dari dua edisi itu diperuntukkan bagi pelajar tingkat sekolah dasar.

Uniknya lagi, buku edisi kedua berjudul “Aku Tidak Sendiri” diangkat dari kisah nyata Wahyu –seorang anak Aceh yang tinggal sebatang kara akibat tsunami namun kini ia mampu bangkit dan mandiri. Sementara buku edisi pertama “How Saki and Koji Survived The Earthquake”, bercerita tentang anak-anak sebuah sekolah dasar di Jepang yang berhasil selamat saat tsunami 2011.

Toyokazu Sakaki, Direktur Engineers Without Borders yang mendampingi para mahasiswa perguruan tinggi yang berkedudukan di Tokyo itu mengatakan, pihaknya bersama mahasiswa Waseda datang ke Banda Aceh untuk memberikan penyuluhan dan sosialisasi mitigasi bencana alam ke beberapa sekolah tingkat SD dan SMP. “Kedua buku ini juga telah kami bagikan sebagian ke sekolah-sekolah yang kami kunjungi,” katanya di balai kota, Rabu, 5 September 2018.

“Kegiatan ini merupakan inisiatif dari mahasiswa Waseda, dan kami juga banyak belajar pengalaman dari Banda Aceh dalam menghadapi tsunami 2004 silam. Salah satunya kisah korban survive Wahyu hingga ia bisa mandiri seperti sekarang. Buku ini penting sebagai media edukasi kepada generasi muda penerus bangsa di seluruh dunia. Kami pun telah mencetaknya ke dalam bahasa Indonesia, Jepang, dan Inggris,” ungkapnya.

Sakaki kemudian mengupas sekilas tentang buku edisi pertama. “Buku pertama yang juga ditulis oleh mahasiswa Waseda ini berkisah mengenai sekolompok pelajar SD yang selamat dari tsunami 2011 yang melanda Jepang. Padahal sekolah mereka sangat dekat dengan pantai. Ternyata di sekolah ini secara rutin tiap tahunnya digelar pelatihan evakuasi jika sewaktu-waktu terjadi gempa dan tsunami,” ungkapnya.

“Buku edisi kedua tentang kisah Wahyu dan tsunami yang melanda Aceh juga akan kami bagikan kepada anak-anak di Jepang. Mohon arahan dan dukungan dari Pak Wakil agar buku ini bisa menjadi bahan pendukung materi ajar di sekolah-sekolah tingkat dasar di Banda Aceh,” pungkas Sakaki yang didampingi oleh Suzuki Tomoji representatif OISCA International College Foundation di Indonesia.


Kepada tamunya, Zainal Arifin menyatakan sangat menghargai kegiatan sosialisasi mitigasi bencana yang digagas oleh mahasiswa dari Jepang tersebut. “Kami menyambut baik hadirnya buku yang sangat bagus ini. Sangat bermanfaat untuk sosialisasi mitigasi bencana kepada masyarakat khususnya pelajar sekolah dasar di Banda Aceh,” kata pria yang akrab disapa Cek Zainal tersebut.

“Selama ini simulasi bencana juga rutin kita lakukan di sekolah-sekolah, dan dengan adanya buku yang menarik untuk dibaca dan mudah dicerna tentu akan menambah literasi anak-anak kami dalam hal mitigasi bencana. Terima kasih atas karya yang luar biasa ini,” katanya kepada belasan mahasiswa Waseda yang hadir.

Katanya lagi, bencana tsunami membawa duka yang mendalam dan juga bahagia bagi masyarakat Aceh. “Bahagianya apa, konflik bersenjata selama bertahun-tahun di Aceh berbuah damai pasca tsunami. Sekarang, Banda Aceh dan Aceh pada umumnya sudah sangat aman. Tolong sampaikan kondisi ini kepada masyarakat dunia,” pinta Cek Zainal yang pada pertemuan itu turut didampingi Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setdako Banda Aceh Iskandar.[rls]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *