,

Like and Share! Kamu Masuk Surga

Kita kadang latah ketika ada warning dan perintah like and share di jejaring sosial. Apalagi ada iming-iming dan ancaman atas nama agama di baliknya. Seolah surga dan tragedi muncul dari imbas like and share itu. Kurang elok memahami pesan agama di media sosial. Belajarnya agama selayaknya orang belajar.

Ummat latah adalah mereka yang seumpama kisah seekor beruang yang teramat sayang kepada tuannya. Ketika seekor nyamuk hinggap di muka tuannya, karena begitu marahnya sang beruang menghantam nyamuk yang juga berarti menghantam muka tuannya sampai babak belur. Manakala melihat tuannya tergeletak kaku, ia baru sadar ia telah membunuh keduanya.

Fenomena like and share di media sosial telah menjadi trend dakwah gaya baru dengan konten yang mengetuk hati para pembaca untuk meneruskan pesan kepada lebih banyak orang agar semua orang dapat membaca pesan itu dan dianggap telah menyebarkan konten dakwah, dan tentu saja, dianggap mendapat imbalan kebaikan atas kerja amal ini.

Konten yang lebih mudah menarik simpati pembaca utamanya yang mengandung pesan-pesan agama, aksi brutal kaum kafir, kisah-kisah keteladanan, nasehat, motivasi dan sebagainya. Tak kurang juga berita-berita “penting” yang dianggap membantu agama dan umat jika pesan itu diteruskan. Pembuat konten bahkan membuat trigger untuk memprovokasi atau semacam pressure agar pembaca “terpaksa” meneruskan pesan tersebut untuk membuktikan keimanannya.

Di balik like and share tentu tidak terlepas dari bisnis untuk meningkatkan rank pemilik akun yang siap-siap untuk merubah wujud menjadi page untuk kebutuhan penjualan. Begitu mudah dan picik rumus pengembangan bisnis semacam ini. Ironinya, “sang pembela agama yang bertanggung jawab bagi seluruh dunia” dengan suka rela meneruskan pesan-pesan ini dengan menambahkan pengantar yang lebih menyentuh.

Silahkan saja jika itu memang dapat membantu memberikan kesadaran baru bagi penganut agama yang mungkin saja sudah jarang bersentuhan dengan kalimat yang menyentuh nurani dengan harapan terbersit niat baik di hatinya untuk merubah keadaan. Di bagian lain, ada yang hanya share saja dengan sedikit atau tanpa perintah.

Umumnya berita-berita dengan judul yang fenomenal atau menohok tokoh publik. Sebarkan… agar semua orang tahu, begitu kalimatnya dimulai. Ada pula tanpa perintah tapi disebarkan atas keprihatinan menyelamatkan atau peduli dengan agamanya. Dan titik rawannya ada di sini.

Media online semakin membanjiri jagad maya seiring kebutuhan informasi dan kepentingan untuk menyebarkan informasi. Dalam konteks ini, tak terhindarkan munculnya situs-situs yang dihadirkan untuk maksud dan tujuan yang terpola. Situs semacam ini umumnya untuk mencounter isu, mempengaruhi opini, atau menyerang suatu kelompok.

Ada pula situs yang dibangun untuk kepentingan bisnis semata dengan mengejar rating pembaca. Pesan sponsor dan media interest tentu saja menjadi hal tak terpisahkan untuk menjaga konsistensi bisnis yang berlanjut. Hanya sudut pandang pembaca bijak yang bisa menempatkan isi berita situs semacam ini.

Tidak heran jika sekarang ini muncul berbagai situs dengan menabalkan kata Islam pada nama situsnya, semisal blabla-islam.com atau islam-blabla.com. Muatannya tentu saja seputar masalah Islam sebagai menu utama. Tapi sayangnya, mereka mampu menampilkan wajah islam yang beraneka rupa.

Sebagian besar pembaca kita masih menjadi umat yang latah ketika membaca sebuah berita atau isi berita tentang seseorang/sesuatu yang menurutnya telah memojokkan Islam, dengan gegabah meneruskan (share) bacaannya kepada teman-teman pengguna akun medsos seperti facebook umumnya, padahal ia tidak memahami sama sekali esensi dari permasalahan yang sebenarnya. Atau sekedar membaca judulnya saja.

Jika itu berita fitnah, ia hanya meneruskan fitnah tanpa ia sadari. Dia tidak mau peduli siapa yang memuat berita itu, jangankan untuk menyempatkan diri melirik ke bagian Tentang Kami/Redaksi situs yang ia baca. Parahnya lagi beberapa situs memang tidak diketahui siapa di belakang medianya.

Tentu tidak semua orang mampu secara bijak menempatkan sajian informasi oleh media. Cross check dan balance sering luput dari perhatian pembaca biasa. Padahal tabayyanu merupakan unsur utama untuk meneruskan informasi agar tidak menyesatkan.

Tidak ada tanggungjawab yang membebankan ummat untuk menyebarkan sebuah opini yang baik sekalipun, apalagi menyangkut hal-hal yang belum dipahami dengan benar. Pemuka agama pun belum mampu bekerja sampai ke tahap ini, sejauh ini. Memfatwakan berita yang baik dan tidak layak. Sampaikan saja apa yang anda yakini. Tidak perlu merasa bertangung jawab. Apalagi jika berita yang disebarkan justru akan memperburuk citra agama dengan dalih menyelamatkan agama.

Masih ingat pernyataan seorang menteri bahwa ada situs-situs dengan label Islam mempengaruhi pembaca lebih parah dari situs-situs pornografi? Mari kita cerna kembali.

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Boy Abdaz

Boy Abdaz

Penikmat Facebook dan penulis novel Jejak Damai di Aceh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *