,

Lidah, Kopi dan Pilkada

Oleh Ridha Yuadi

Ponselnya tiba-tiba berbunyi. Sebuah nama yang berawalan huruf “Z” muncul di layar telepon seluler. Mungkin karena takdir, ia pun langsung saja mengangkat Android yang berlapis anti gores itu. “Oke, oke bang, Insha Allah nanti malam jam 9 kita ketemu yaa,” pungkasnya, sumringah.

Sambil menyeruput kopi pekat panas, saya memang sengaja “menguping” pembicaraan kawan saya itu lewat ponsel dengan seseorang di seberang sana. Lama sekali mereka mengobrol via ponsel cerdas. Saya menyimak saja dengan takzim. Ya, gimana nggak “nguping”, si kawan tadi duduk bersebelahan dengan saya, praktis mau tidak mau saya mendengar apa yang dia omongkan. Apalagi mereka berbicara ihwal sang jawara Pilkada Aceh, dengan logat dan bahasa daerah yang saya tahu persis maknanya.

Lalu, beberapa menit kemudian, ping, ping! Sebuah notifikasi muncul. “Dipastikan paslon bla bla bla meunang,” ungkap sohib saya itu, memberitahu isi BlackBerry Messenger (BBM) dari koleganya tersebut. Dia pun termenung dan kembali melongok pesan yang muncul tadi. Kali ini dengan raut wajah yang asimetris.

Sore itu (15/2), saya mencoba jadi pendengar yang budiman. Apalagi ada nada pro kontra yang menyebut-nyebut pemenang Pilkada segala, makin tegaklah telinga saya mendengarnya. “Empat jam usai pencoblosan, sudah bisa dipastikan gubernur Aceh 2017-2023. Hebat betul quick koun itu!,” pikir saya, menahan geli.

Ya, hitung cepat (quick count) hasil pemilihan gubernur dan wakil gubernur Aceh 2017 telah menggemparkan tanah rencong, saudara-saudara! KIP belum menyampaikan pleno resminya tapi Aceh sudah terbelah dua. Bukan hanya kawan saya dengan koleganya, bahkan para pejabat pun dibuat sibuk olehnya. Beberapa jam usai pengumutan suara, quick count pun bergema ke mana-mana. Diwartakan dengan irama yang sangat syahdu, termasuk “menggergaji” gelas penikmat kopi di kantin SMEA Lampineung, Banda Aceh.

Padahal baru saja kita lewati peristiwa politik yang sungguh mengharukan, mulai dari nasib bekas serdadu perang, hingga umara yang tega mengkambinghitamkan uang enam ratus miliar lebih. Politikus memang kerap membuat rakyatnya tertawa. Padahal, sama sekali tak ada kelucuan dari ribuan nyawa yang melayang, atau ratusan kuping yang mesti terbuang dulu, hanya karena “perselisihan paham”. Tak perlu memutilasi diri demi menegaskan sang pemenang prematur. Semua orang tahu, menunggu memang membosankan. Namun saya tetap menyarankan; lebih baik menunggu daripada bersilat lidah.

“Silat lidah” memang mudah dilakukan, bahkan orang yang tidak menguasai ilmu taekwondo sekalipun bisa bersilat lidah. Lidah, dalam ilmu bahasa (linguistics) lazim dinamakan organ ucapan (organ of speech). Dari susunan anatominya, selain berperan sebagai organ pencernaan, lidah juga berfungsi sebagai indera pengecap dan organ pembentuk huruf dalam komunikasi. Wabil khususi, dengan adanya lidah maka kita dapat menghasilkan huruf-huruf ketika kita bersuara dan menyampaikan pesan.

Tupoksi lidah amat mulia dan bernilai tinggi. Karena itu, lidah manusia memerlukan pemeliharaan. Ibarat mesin, lidah itu lebih banyak bergerak. Ia sangat aktif dan fleksibel digerakkan ke segala arah. Beda dengan si bibir dan si rahang, yang hanya bergerak ke atas dan ke bawah.

“Lidah itu lebih tajam dari sebuah pisau,” kata Pepatah. Ini menggambarkan, bahwa sepotong daging tak bertulang yang terdapat dalam rongga mulut itu sangat berbahaya jika salah digunakan. Ucapan yang keluar dari mulut dan terartikulasikan dengan organ ucap lidah, bisa memberikan dampak berbeda-beda. Syukur kalau positif. Tapi jika negatif, ia bisa menusuk-nusuk, mengoyak-ngoyak, bahkan menggemparkan suasana jagat raya.

Benar. Sebagai salah satu organ komunikasi, lidah dapat pula berperan mendekatkan seseorang kepada Allah Yang Maha Besar. Karena lidah, seseorang menjadi hamba yang mulia. Sungguh, alangkah ironi jika seorang muslim, tidak mampu menjaga lidahnya sendiri. Persis, yang ada di pikiran Anda juga betul, bahwa tubuh kita yang sebesar ini ternyata di bawah pengaruh lidah. Maka berbahagialah bagi sesiapa yang ketika hendak berbicara, dia terlebih dahulu menimbang; apakah berguna atau tidak? Jika tidak, cukup diam saja! Bak ungkapan barat: “Silence is golden”, bahwa diam itu adalah emas.

Tidak heran jika Imam Asy-Syafi’i menegaskan, “Jika seseorang berbicara hendaklah ia memikirkan sebelum mengucapkannya, jika nyata maslahatnya ia berbicara dan jika ia ragu, ia diam sampai jelas maslahatnya”. Subhanallah, lidah-pun akan dimintakan pertanggungjawabannya kelak. “Pada hari, lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan” (QS. An Nuur: 24).

Jangan panik dan tidak perlu cemas. Mari, kita nikmati kopi yang tersisa, sembari menjaga lidah! [**]

Ridha Yuadi adalah Penikmat Kopi Aceh)

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *