,

Lesten Pun Akhirnya Merasa Merdeka

BLANGKEJEREN – Warga Desa Lesten, Kecamatan Pining, Kabupaten Gayo Lues senang bukan kepalang, kendaraan roda empat sudah bisa masuk ke daerah pedalaman tersebut. Lesten kini benar-benar merdeka, tak lagi jadi daerah terisolir.

Sebelumnya, satu-satunya alat transportasi menuju ke desa itu hanyalah jonder, kenderaan sejenis traktor pembajak kebun. Itu pun sering tak sepenuhnya bisa diandalkan. Pasalnya, jonder sering terperosok dalam lumpur, sering pula rusak di tengah perjalanan dalam belantara negeri seribu bukit tersebut.

Namun kini, jalan ke daerah perbatasan dengan Aceh Tamiang tersebut sudah dibuka oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gayo Lues. Hanya butuh waktu satu jam setengah dari Simpang Pining menuju Lesten dengan kenderaan roda empat.

Dibukanya jalan tersebut sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat setempat. Bila sebelumnya mereka harus berjalan kaki memikul hasil kebun untuk dijual ke pusat kecamatan, kini bisa menggunakan jasa kenderaan pengangkut yang datang secara berkala ke desa itu.

Rauh Ariga salah satu tim Bunda Paud yang baru pulang mengantarkan bantuan kepada anak-anak Lesten, Kamis, 23 Juni 2016 mengungkapkan, jonder yang biasanya digunakan mengangkut warga Lesten menuju pusat kecamatan untuk berbelanja, kini sudah tidak digunakan lagi setelah PT Lembah Alas membuka jalan tersebut.

“Sekarang sudah bisa digunakan kendaraan roda empat menuju Lesten, bahkan kendaraan roda dua jenis metikpun sudah bisa sampai menuju desa yang paling terpencil itu, kami kemarin bersama ibuk Hj Salamah baru pulang dari sana mengantarkan bantuan,” katanya.

Saat ini, perusahaan yang memenangkan proyek peningkatan jalan Pining Lesten masih tetap bekerja di lokasi, meski sepanjang dua kilo meter jalan belum diaspal, namun warga sudah merasa gembira karena waktu untuk menempuh desa tersebut hanya memakan waktu selama satu jam setegah.

“Biasanya untuk menuju Lesten memakan waktu hingga delapan jam perjalanan, itupun harus menggunakan jonder, sebelumnya kendaraan roda empat dan roda dua sama sekali tidak bisa menuju desa itu, karena jalanya berlumpur, menanjak, menurun, dan banyak rintangan lainya di tegah hutan,” jelasnya.

Dengan dibukanya jalan tembus tersebut, warga Lesten merasa sudah mendapatkan kemerdekaan dari Pemerintah, dan perbaikan jalan yang selama ini didambakan warga sudah terwujud setelah Pemkab Gayo Lues mengangarkan dana perbaikan jalan yang mencapai Rp 15 miliar tahun 2016, dan peningkatan jalan tahun 2017 juga sudah diusulkan Rp 15 miliar lagi.

“Kami disambut baik oleh warga setempat, dan jumlah anak yatim, piatu, miskin, cacat mencapai 30 orang, ditambah lagi ada anak-anak lainya yang juga diberikan bantuan oleh Bunda Paud Gayo Lues, mudah-mudahan dengan bantuan itu bisa mengurangi beban penderitaan anak Lesten,” harapnya. [Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *