,

Komunikasi dan Pencitraan

Oleh Ridha Yuadi

Elit politik dan penguasa butuh image, maka pencitraan pun muncul. Citra membuat seseorang berlindung di bawah bayang-bayang. Komunikasi memudahkannya.

Citra adalah soal bagaimana seseorang dilihat berdasarkan persepsi orang lain (Binus, 2014). Citra juga berarti soal bagaimana seseorang ingin dilihat oleh orang lain. Dalam konteks ini ada pemisahan antara ”yang nyata” dan “yang tampak” atau “yang ingin dinampakkan”.

Bukan modus baru bahwa setiap pemimpin atau komunitas apapun, baik politik maupun kultural, sadar maupun tidak sadar selalu melibatkan “pencitraan”. Problemnya adalah ketika “yang tampak” ini dianggap sebagai “yang nyata”; ketika “yang nyata” digeser sehingga semakin lama menguap, memudar dan akhirnya lenyap.

Baudrillard (1983) mengatakan, yang dipentingkan dalam pencitraan adalah citraan itu sendiri, kemasan, kulit, bungkus, atau medium pesannya, sedangkan isi pesan dikaburkan, digelapkan, dibelokkan, ditutupi secara luar biasa atau bahkan diabaikan.

Lalu bagaimana dengan berita yang ditulis jurnalis? Bisa jadi fakta dan bisa juga bukan fakta. Sebab, jika semua fakta mesti ditulis secara terbuka dan apa adanya, dalam tempo tiga hari, nusantara ini akan terbolak-balik. Bahwa media massa mesti menyiarkan yang faktual, itu benar! Tapi tidak semua fakta layak disiarkan.

Begitulah, penjelasan Guru Besar Ilmu Komunikasi Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Suwardi Lubis dalam suatu kesempatan bincang-bincang dengan saya. Yang pasti dalam membuat citra adalah komunikasi, untuk menjadi komunikator inspiratif tidak hanya bermodalkan pandai berkomunikasi secara lisan, tapi harus handal pula ‘berbicara’ melalui sifat dan tindakan. Di situ citra yang sesungguhnya akan muncul, buka citra yang dicitra-citrakan.[*]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *