,

Komandan Al Asyi Peringati 145 Tahun Perang Aceh-Belanda

BANDA ACEH – Komando Aneuk Muda Alam Peudeung (Komandan) Al Asy, Senin, 26 Maret 2018 memperingati 145 tahun perang Aceh dengan Belanda di IPAL Gampong Pande, Kecamatan Kutaraja, Banda Aceh. Sebagaimana diketahui, Kerajaan Belanda memproklamirkan perang terhadap Kerajaan Aceh pada, Rabu, 26 Maret 1873.

Pang Ulee Komadan Al Asy, Tuwanku Warol Waliddin menjelaskan, dipilihnya IPAL sebagai tempat acara karena itu merupakan lokasi tempat pertama Kerajaan Aceh didirikan. Di situ juga masih terdapat situs sejarah, seperti makan para ulama dan pembesar Kerajaan Aceh tempo dulu.

Tuwanku Warol melanjutkan, untuk menghadapi agresi Belanda, Sultan Aceh pada saat Itu langsung menggelar rapat dengan para petinggi kerajaan untuk menyusun siasat dan strategi dalam menghadapi situasi ini, sehingga sultan menggelorakan semangat perlawanan atas maklumat perang Belanda tersebut.

“Ini sebagaimana titah dalam catatan sejarah yang berbunyi, udep merdeka, mate syahid, langet singet awan peutimang, bumoe reunggang ujeun peurata, salah nariet peudeung peutupat, salah seunambat teupeuro dumna,” jelas Tuwanku Warol.

Namun, kata Tuwanku Warol, hingga pada saat maklumat perang ini dikumandangkan pada 26 Maret 1873, Belanda tak langsung menyerang Aceh. Di daratan Aceh, Panglima Tinggi Perang Kerajaan Aceh Tuwanku Hasyim Banta Muda bersama ribuan laskar dan rakyat Aceh sudah siap menyambut perang tersebut.

Baru pada 8 April 1873 Belanda mendaratkan 3.198 pasukannya bersama dengan 168 perwira di Pantai Ceureumen, Uleelheu. Armada Belanda itu dipimpin oleh Panglima Perang Mayor Jenderal JHR Kohler dibantu oleh Wakil Panglima merangkap Komandan Infantri Kolonel E.C van Daalen, dan Kapten laut JF Koopman.

Panglima Perang Belanda Mayor Jenderal JHR Kohler kemudian tewas ditembak pejuang Aceh pada 14 April 1873 di halaman Masjid Raya Biturrahman. Belanda kalah pada invansi pertamanya. Pada 29 April 1873 pasukan Belanda meninggalkan Aceh kembali ke Batavia.

Kekalahan Belanda di Aceh ini menjadi pembicaraan dan dikecam oleh parlemen Belanda yang menyampikan interpelasi soal kegagalan tersebut. Dalam sidang parlemen 15 Mei 1877, Menteri Urusan Kolonial Belanda, Jenderal GP Boom sebagaimana ditulis dalam bukunya De Erste Atjeh Expediti en hare Enguete memberi jawaban atas interpelasi itu. Ia berkata, Belanda telah menghadapi maut, bangsa yang tidak gentar menghadapi maut, bangsa yang merasa tidak mungkin dapat dikalahkan. Itulah Aceh. Yang dihadapi adalah musuh yang jumlahnya besar yang sangat gesit.

“Perang Aceh dengan Belanda berlangsung hingga 45 tahun. Aceh daerah terakhir yang dijajah Belanda di nusnatara, tapi daerah pertama yang ditinggalkannya. Perang Aceh menimbulkan biaya perang yang sangat menguras kas Kerajaan Belanda,” ungkap Tuwanku Warol.

Atas pertimbangan sejarah itu, Komandan Al Asyi melakukan peringatan, karena bagaimana pun sejaraj kedigdayaan Aceh melawan Belanda harus diperingati. “Sehingga momen bersejarah ini diharapkan dapat diperingati secara resmi oleh Pemerintah Aceh dengan mengheningkan cipta baik di instansi pemerintahan maupun sekolah-sekolah dan berbagai lembaga pendidikan, agar generasi Aceh sadar dan tahu siapa kita sebagai Aceh sesungguhnya,” pungkas Tuwanku Warol.

Pada acara peringatan 145 tahun perang Aceh dengan Belanda itu juga dilakukan doa bersama kepada syuhada perang Aceh. Acara ini turut dihadiri Abi Wahed Al Asyi, Arief Adam Alghazali, Teuku Bahagia, Muhammad Rona, Martunus dan Tengku Jal. Usai acara juga dilakukan penanaman pohon ketapang sebagai simbol kebangkitan generasi Aceh.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *