Kisah Syafril Produksi Sagu 36 Ton Per Bulan

0
245

Syafil bukanlah pria kebanyakan, ia pandai melihat peluang, bahkan peluang yang tak dilirik oleh orang lain. Ia mampu memproduksi sagu sebanyak 18 ton per dua minggu atau sekitar 36 ton per bulan.

Sagu produksi pria berusia 42 tahun ini dipasarkan ke Medan, Sumatera Utara, dijual seharga Rp 2.300 per kilogram. Warga Gampong Kedai Kandang, Kecamatan Kluet Selatan, Kabupaten Aceh Selatan ini, menjalankan sendiri usahanya tanpa bantuan pemerintah.

Tempat usaha pengolaha sagu yang didirikian dengan modal seadanya itu, yang dinamai “Berkat Yakin Mandiri” bukan saja mampu menghasilkan pendapatan bagi dirinya saja, tapi juga bisa membuka lapangan kerja bagi warga sekitar.

“Pabrik pengolahan sagu ini sudah berdiri sejak awal tahun 2018 lalu dan mampu menyerap tenaga kerja lokal sebanyak 15 orang,” kata Syafril, saat berbincang-bincang dengan wartawan di Tapaktuan, Senin, 21 Januari 2019.

Setiap dua minggu sekali, lanjutnya, pabrik tersebut mampu memproduksi sagu yang diolah secara tradisional mencapai 18 ton. Satu kilogram sagu dilepas ke agen penampung di Medan, Sumatera Utara sebesar Rp 2.300.

Menurutnya, bahan baku untuk mengolah sagu sangat mudah dijumpai atau didapatkan di Aceh Selatan. Untuk satu batang pohon sagu dibeli pada petani di kawasan Kluet Raya, Bakongan Raya, dan Trumon Raya, dengan harga Rp 200.000.

“Harga Rp 200.000 per batang itu sudah siap dilakukan pengolahan di tempat, setiap dua minggu sekali dibutuhkan 460 potong batang sagu dengan ukuran besarnya sekitar satu meter,” jelasnya.

Untuk menghasilkan sagu berkualitas, pohon sagu tersebut dipilih yang telah mencapai ketinggian 4 meter lebih. “Mengenai bahan baku untuk keperluan pabrik mengolah sagu sejauh ini tidak ada kendala. Sebab potensi sumber daya alam di daerah ini sangat melimpah,” lanjutnya.

Hanya saja, kata Syafril kendala paling berat dan rumit yang dihadapi pihaknya selama ini adalah terkait persoalan pemasaran karena selama ini tetap harus ke agen penampung di Medan.

Syafril sangat mengharapkan peranserta Pemkab Aceh Selatan melalui dinas terkait untuk melakukan pendampingan di lapangan. Sebab, dengan kondisi seluruh hasil produksi terpaksa harus dilepas ke agen pengumpul di Medan, sering mengakibatkan harga tidak stabil, sehingga kadang-kadang membuatnya rugi.

“Sangat dibutuhkan kehadiran atau peranserta pemerintah menstabilkan harga penjualan sagu. Sehingga para pelaku usaha pengolahan sagu tidak dirugikan dengan kondisi harga penjualan sering fluktuatif,” harapnya.

Satu-satunya solusi untuk menstabilkan harga tersebut adalah dibutuhkan peranserta Disdagperinkop dan UKM Aceh Selatan untuk melakukan pendampingan baik dalam bentuk pemberian bantuan modal usaha industri maupun menampung seluruh hasil produksinya melalui Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Fajar Selatan.

Melalui terobosan seperti ini dilakukan Pemkab Aceh Selatan, mungkin hasil produksi sagu tidak perlu lagi dilepas ke agen penampung di Medan. Tapi bisa ditampung dalam Kabupaten Aceh Selatan untuk industri rumah tangga seperti untuk pembuatan roti, kerupuk dan sejumlah jenis kue lainnya yang menggunakan bahan baku sagu.[HM]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here