,

Kilas Balik Kebakaran Sumur Minyak Ilegal di Ranto Peureulak

IDI- Kawasan Kecamatan Ranto Peureulak, Kabupaten Aceh Timur sejak dahulu dikenal kaya minyak dan gas bumi. Dulu kawasan ini adalah wilayah eksplorasi Asamera Ltd, Conoco Philip, Pertamina, dan PT. Pasific Oil & Gas (POG).

Setelah beberapa perusahan Migas berskala International tidak melakukan eksplorasi minyak dan gas di daerah itu. Warga mulai melakukan pengeboran minyak secara tradisional di beberapa desa dalam kawasan kecamatan tersebut.

Eksplorasi yang dilakukan masyarakat secara ilegal dan tradisional tentunya mempunyai resiko yang sangat besar terhadap keselamatan, karena sifat minyak bumi dan gas selain mengandung racun juga mudah terbakar, sehingga resiko pun tidak dapat dihindari. Berikut ini laporan kilas balik peristiwa kebakaran sumur minyak tradisional di kawasan Kecamatan Ranto Peureulak Kabupaten Aceh Timur, Provinsi Aceh.

Pada Kamis 14 November 2013, sekira pukul 10.00 malam, sebuah sumur minyak taradisional di kawasan Desa Pertamina Kecamatan Ranto Peureulak, Aceh Timur, penyabab kebakaran ditimbulkan oleh percikan api yang ditimbulkan kenelpot mesin pompo yang digunakan untuk menyedot minyak. Kala itu 13 orang pekerja di sumur minyak tradisional mengalami luka bakar serius. Adapun 16 pekerja yang terpaksa dirawat di RSUD Idi.

Adapaun warga yang menjadi korban kebakaran kala itu, yakni Abdullah(30) warga Desa Mata Ie, Rizki (12) warga Desa Mata Ie Ranto Peureulak, Wasida (45) warga Tanjung Pura Sumut, Ramlan (22) Warga Desa Mata Ie Ranto Peureulak, Ridwan (25) Warga Tanjung Tualang Kecamatan Peureulak Barat, Agus Saputra (22) warga Desa Mata Ie Kecamatan Ranto Peureulak, Wahyu Budi Efendi(29) Warga Desa Mata Ie Ranto Peureulak, Dedi Maulana(25) Warga Ranto Peureulak, Putra (15) warga Kecamatan Ranto Peureulak, M. Zaini (28) warga Tanjung Pura Sumatera Utara, Suhardi(40) warga Tanjung Pura, Sumut, Musliadi (12) warga Desa Mata Ie Kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur, tidak ada korban nyawa ketika itu.

Selang satu tahun kemudian tepatnya, pada Senin 24 November 2014, sekira pukul 8.00 malam, kejadian serupa kembali terjadi, salah satu sumur minyak tradisional di Desa Alue Udep Kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur, Sedikitnya tiga warga pekerja pengeboran minyak mentah illegal di desa tersebut menjadi korban dengan luka bakar yang sangat serius. Adapun tiga korban yang harus dirawat intensif di RSU Graha Bunda Idi, yakni : Shahril (25), M Yasir (19) keduanya warga Gampong Mata Iee, dan Syafrizal (19) warga Alue Udep, Kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur.

Hari ini, Rabu 25 April 2017, kejadian serupa kembali terjadi, kali ini sedikitnya 10 orang meninggal dunia dan puluhan lainya mengalami luka bakar serius. Agar kejadian kebakaran serupa tidak terjadi dan tidak menelan korban masyarakat maka pada hari ini secara resmi Bupati Aceh Timur, dengan tegas mengatakan akan menutup semua sumur ilegal di Kawasan kecamatan Ranto Peureulak Aceh Timur.

“Penyulingan minyak illegal ini harus segera ditutup, karena kebakaran yang menimbulkan korban jiwa sudah terjadi berulang-ulang,” ujar Bupati Aceh Timur, H. Hasballah HM.Thaib atau Rocky ketika meninjau ledakan dan kebakaran minyak di Desa Pasir Putih, Kecamatan Ranto Peureulak, Rabu 25 April 2018 siang.

Bupati Aceh Timur didampingi Wakil Bupati Aceh Timur Syahrul Bin Syama’un dan unsur Forkopimda Aceh Timur meninjau seluruh rumah sakit yang merawat korban kebakaran. Bupati menjenguk satu persatu korban. Bahkan bupati juga meninjau lokasi ledakan yang masih mengeluarkan lidah api di lokasi penyulingan minyak mentah.

“Ini bukan sekedar minyak dan air yang keluar, tapi tekanan gas juga menjadi penyebabkan api sulit dipadamkan. Tapi kita sudah minta PT Pertamina E&P Rantau, segera melakukan penutupan sumur-sumur minyak yang dibukan secara illegal oleh masyarakat,” tegas Bupati Aceh Timur. [II]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *