Ketika Penyandang Disabilitas Ingin Jadi Musisi dan Hafizah

0
226

Adin bukanlah lelaki kebanyakan, meski fisiknya tak sesempurna orang lain, tapi semangat juangnya sangat tinggi. Tinggal di panti asuhan tak membuatnya putus asa. Justru keterbatasan fisiknya menjadi pemompa semangat untuk menjadi lebih baik.

Adin merupakan salah satu penyandang tuna netra yang dibina Dinas Sosial Provinsi Aceh di Panti Asuhan Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) Rumoh Sejahtera Beujroh Meukarya (RSBM). “Nanti saya pengen jadi pemusik. Saya suka main keybord,” katanya.

Menurut Adin, selama dirinya dibina di panti bersama anak-anak lainnya, setiap hari mereka dilatih berbagai keterampilan seperti merajut kawat bronjong, anyaman rotan, dan kelas musik. Selain itu mereka juga belajar menulis dan membaca huruf braile oleh para instruktur berpengalaman. “Kami merasa sangat senang, karena ini akan menjadi beka bagi kami setelah kami tidak lagi di panti dan di kembalikan ke masyarakat nanti,” katanya.

Begitu juga dengan Suryadin dan Salmi Irham Ramadani tuna netra lainnya. Mereka mengaku mengaku sangat senang karena selama dibina di UPTD RSBM dirinya sudah bisa menguasai baca tulis huruf braile, merajut tas, membuat bunga hias dan vas bunga.

Gadis berusia 14 tahun yang bercita-cita ingin menjadi hafizah ini mengatakan, dirinya senang karena setiap hari mereka selalu ada pelatihan keterampilan yang berguna untuk bekal hidup mereka. “Sangat senang, karena banyak kegiatan. Kami di sini dilatih banyak keterampilan, dan ada juga pelajaran-pelajaran lainnya,” katanya.

Kepala UPTD RSBM, Fachrial, didampingi Kepala Seksi (Kasi) Pelayanan dan Pemibinaan, Fuadi, Rabu, 13 Februari 2019 di Panti Asuhan yang beralamat di Ladong, Krueng Raya itu mengatakan, kegiatan peningkatan keterampilan merupakan kegiatan rutin dengan harapan agar anak-anak binaan tersebut nantinya bisa mandiri saat kembali ke tengah-tengah masyarakat. “Saat mereka nanti kembali ke masyarakat sudah punya modal, yang kira-kira modal itu memiliki nilai jual bagi mereka sendiri seperti yang kita lihat hari ini,” katanya.

Menurut Fachrial, UPTD RSBM memiliki tugas melaksanakan sebagian kegiatan teknis di bidang pelayanan, pembinaan dan rehabilitasi terhadap penyandang tunanetra yang berasal dari anak-anak keluarga kurang mampu untuk dididik dan dibekali keterampilan.

Sejak pertama kali dimasukkan ke panti untuk diasuh, anak-anak binaan langsung dididik dan dilatih keterampilan. Selama ini, hasil karya anak-anak binaan UPTD RSBM telah banyak didistribusikan untuk dipasarkan, ataupun dijual saat ada pameran-pameran yang diikuti oleh Dinas Sosial Aceh baik tingkat lokal, maupun nasional.

“Seperti belajar buku dan Alquran braile. Selain itu juga ada pelajaran musik dan peningkatan keterampilan seperti membuat bronjong, bunga, dan anyaman tas seperti hari ini,” jelasnya.

Kasi Pelayanan dan Pemibinaan, Fuadi, menambahkan, RSBM pada intinya hanya menampung disabilitas netra dari keluarga tidak mampu untuk dididik dan dilatih keterampilan oleh intruktur-intruktur yang sudah berpengalaman di bidangnya.

Fuadi menuturkan, harapannya setelah anak-anak binaan nantinya kembali ke tengah-tengah masyarakat, mereka bisa menerapkan ketrampilan dalam kehidupan sehari-hari atas apa yang telah dipelajari saat masih di panti.

“Insya Allah panti juga akan memberikan paket-paket usaha ekonomi produktif (UEP) yang mereka butuhkan dan tentu disesuaikan dengan pelatihan-pelatihan yang mereka geluti selama masih di panti ini,” katanya.

Untuk batas waktu pengasuhan, Fuadi menjelaskan, pihaknya akan menyesuaikan dengan kemampuan dan kebutuhan klien. “Untuk tempo pengasuhan kita tidak bisa pukul rata karena sangat tergantung dari kecatatan dari mereka,” katanya.[IN/rls]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here