, ,

Ke Lombok Ngopinya di Alberto

Lombok merupakan destinasi wisata favorit selain Bali. Pulau seribu masjid ini menyajikan eksotisme alam yang mempesona. Alberto Café bisa jadi altertenatif Anda menghilang penat dengan kenikmatan kopinya.

Saat meliput Hari Pers Nasional 2016 di Nusa Tenggara Barat (NTB), saya sempat diajak Kepala Bagian Humas Kementerian Dalam Negeri, Acho Maddaremmeng ke sebuah cafe. Kebetulan saya datang meliput acara itu atas undangan Kementerian Dalam Negeri.

Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo, dijadwalkan ikut menghadiri acara HPN yang juga dihadiri Presiden Jokowi. Saya sendiri bersama beberapa wartawan yang ikut dengan Kementerian Dalam Negeri datang sehari sebelum puncak acara HPN dilangsungkan. Berangkat dari Jakarta masih pagi sekali. Dan, tiba di NTB jelang siang. Jadi, masih ada waktu lowong, sebelum meliput acara puncak.

Pulau Lombok sendiri adalah salah satu destinasi favorit turis selain Bali. Letak Lombok yang tak begitu jauh dari Pulau Dewata, membuat pulau yang dikenal dengan julukan pulau seribu mesjid itu jadi pilihan alternatif turis yang bosan ‘tetirah’ di Bali. Apalagi Lombok, tak kalah indah dengan Bali. Banyak destinasi wisatanya yang punya daya tarik. Terutama pantai serta daya tarik alam lainnya. Salah satunya adalah daerah Senggigi.

Karena masih banyak waktu luang, Pak Acho mengajak kami untuk makan siang di rumah makan Taliwang Irama yang ada di Kota Mataram. Rumah makan ini, salah satu rumah makan terkenal yang menyediakan menu andalannya ayam taliwang dan kangkung plecing. Usai makan siang, Pak Acho mengajak kami untuk santai sebentar. Katanya, ada sebuah cafe yang indah dan enak untuk sekedar menyeruput kopi. Sayang ia lupa nama cafe tersebut yang sempat ia kunjungi beberapa waktu yang lalu. Namun katanya ia masih hapal letak cafe tersebut. Cafe tersebut menurut Pak Acho, ada di daerah Senggigi.

Maka meluncurlah kami menuju Senggigi, salah satu wilayah yang jadi destinasi wisata andalan di NTB. Karena tak hafal nama caafenya, mobil yang kami tumpangi pun berjalan perlahan, takut cafe yang dituju terlewat.

Jam 13.30 waktu setempat, kami sampai di Cafe Alberto. Jarak dari rumah makan Taliwang Irama ke Cafe Alberto sendiri sebenarnya tak begitu jauh. Hanya kurang setengah jam perjalanan, kami akhirnya sampai di cafe yang menurut Pak Acho sangat indah. Sejak pertama datang ke sana, Pak Acho mengaku sudah jatuh cinta dengan suasana Cafe Alberto. Karena itu begitu dapat kesempatan, ia langsung ingin mengajak sejenak menyambangi cafe favoritnya di Lombok.

Namun memang mencari cafe Alberto susah-susah gampang. Plang sebagai penunjuk keberadaan cafe tak begitu besar. Plang nama cafe tak terlalu mencolok. Di plang tertulis “Cafe Alberto Bed and Breakfast.” Bila mobil berjalan cepat, mungkin akan terlewat. Pintu masuknya pun tak begitu besar. Cafe tersebut berada di Jalan Raya Senggigi, Batu Bolong, Lombok. Bila datang dari arah Mataram, cafe ini ada di sebelah kiri jalan raya.

“Nah ini dia cafenya. Berhenti, berhenti,” teriak Pak Acho yang duduk di depan menunjuk sebuah kafe yang berdiri di pinggir jalan. Mobil pun langsung berbelok masuk ke halamannya.

Menurut Pak Rajab, supir mobil yang membawa kami ke Senggigi, mengatakan kenapa daerah sekitar cafe Alberto dinamakan batu bolong, karena memang ada batu bolong.
“Memang ada batu bolong, di pura, “katanya.

Sayang, kami datang pada siang hari. Padahal kalau menyambangi cafe tersebut saat malam hari, pasti suasana lebih romantis. Cafe tersebut langsung berhadapan dengan pantai. Ada saung atau gazebo, tempat pengunjung duduk dan makan.

Selain meja di gazebo, pihak cafe juga menyediakan meja dan kursi di pinggir pantai, tanpa peneduh, tapi langsung beratap langit. Di sekeliling ada tiang-tiang berisi obor. Wah, jika datang pada malam hari, misal untuk makan malam atau sekedar menyeruput kopi, pasti sangat romantis. Makan malam atau ngopi sembari ditemani debur ombak. Kian romantis lagi diterangi hanya oleh nyala obor yang ditancapkan di gundukan pasir pantai.

Siang itu tak jauh dari cafe beberapa orang sedang memancing di atas batu karang. Matahari terasa terik. Tapi di teras cafe, terik tak terasa, terhalang oleh atap saung atau gazebo. Angin sepoi-sepoi dari arah pantai membuat terik tak terlalu menyiksa. Bahkan angin sepoi-sepoi serasa membuai, membuat kantuk tiba-tiba datang.

Untungnya secangkir kopi lombok mujarab mengusir kantuk. Kopi datang di hidangkan pelayan, di wadahi teko porselin putih. Di pinggir cafe, di bawah naungan pohon waru, berjejer kursi-kursi panjang. Beberapa turis bule, tampak santai menikmati sepoi angin pantai. Ada yang asyik membaca, ada pula yang sekedar leyeh-leyeh.

Cafe Alberto tak sekedar tempat ngopi atau makan malam. Sebab menurut pelayan cafe, cafe Alberto juga menyediakan kamar untuk tempat menginap. Hanya saja, kamar yang disediakan jumlahnya terbatas.
“Kami hanya menyediakan empat kamar,” kata si pelayan.

Di belakang saung tempat kami duduk menyeruput kopi, memang ada sebuah bangunan. Bangunan itu langsung berhadapan langsung dengan sebuah kolam renang mungil.

“Tarif kamar di sini, 810 ribu untuk low session satu malamnya. Tapi kalau musim liburan, tarif antara 900 ribu sampai 1 juta lebih,” ujar si pelayan. [Agus Supriyatna]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *