,

Kasus Perambahan Hutan Konservasi Dilimpahkan ke Jaksa

TAPAKTUAN – Petugas Tindak Pidana Tertentu (Tipiter) Satreskrim Polres Aceh Selatan telah merampungkan pembuatan berkas perkara dugaan perambahan kawasan hutan konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Desa Keude Trumon yang melibatkan tersangkanya anak Ketua DPRK Aceh Selatan, berinisial TPR (25).

“Penyusunan berkas perkaranya sudah rampung. Bahkan kami sudah melimpahkan berkas perkara tahap satu ke Kejaksaan Negeri Aceh Selatan. Sedangkan untuk pelimpahan berkas perkara tahap dua yakni penyerahan tersangka dan barang bukti segera akan dilakukan atau menyusul dalam waktu dekat,” kata Kapolres Aceh Selatan AKBP Achmadi SIK melalui Kasatreskrim AKP Darmawanto di Tapaktuan, Selasa, 7 Februari 2017.

Darmawanto menegaskan bahwa, meskipun barang bukti alat berat excavator hingga saat ini belum ditemukan termasuk operator alat berat berinisial RS asal Medan, Sumatera Utara namun pihaknya tetap terus melanjutkan kasus tersebut dengan meminta pertanggungjawaban kepada tersangka pertama yang juga anak Ketua DPRK Aceh Selatan berinisial TPR.

“Tersangka TPR inikah orang yang menyuruh. Sedangkan operator alat berat sebagai orang yang disuruh atau pekerja lapangan. Karena keberadaannya sudah tidak diketahui lagi, maka polisi telah memasukkan operator alat berat tersebut dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) termasuk alat berat tersebut dalam daftar pencarian barang,” ungkapnya.

Sementara itu, Kanit Tipiter Satreskrim Polres Aceh Selatan, Ipda Adrianus SE mengemukakan bahwa kepastian kasus dugaan perambahan kawasan hutan konservasi di Desa Keude Trumon tersebut, statusnya dinaikkan ke tahap penyidikan setelah pihaknya menggelar perkara di Polda Aceh beberapa waktu lalu.

“Berdasarkan hasil gelar perkara di Polda Aceh, terkait perkara tersebut direkomendasikan penambahan satu pasal lagi yakni Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHAP tentang turut serta artinya bahwa ada orang yang di suruh dan yang menyuruh,” kata Ipda Adrianus.

Karena itu, selain anak Ketua DPRK Aceh Selatan polisi juga telah menetapkan operator alat berat excavator berinisal RS (55) asal Medan, Sumatera Utara dalam Daftar Pencarian Orang (DPO) termasuk alat berat excavator yang keberadaannya telah hilang dari lokasi Tempat Kejadian Perkara (TKP) dalam daftar pencarian barang.

“Yang menyuruh melakukan dugaan perambahan hutan konservasi tersebut adalah anak Ketua DPRK Aceh Selatan sedangkan yang mengerjakannya di lapangan adalah operator alat berat excavator sehingganya kedua-duanya ditetapkan sebagai tersangka. Karena sudah beberapa kali dilayangkan surat panggilan tidak dipenuhi dan keberadaannya pun tidak diketahui lagi. Maka operaror alat berat tersebut telah dimasukkan ke dalam DPO termasuk alat berat excavator yang keberadaannya sudah hilang dalam proses pencarian polisi,” jelas Adrianus.

Adrianus menegaskan bahwa pihak Polres Aceh Selatan tetap melanjutkan proses hukum terkait dugaan perambahan kawasan hutan konservasi Suaka Margasatwa Rawa Singkil di Desa Keude Trumon tersebut.

“Kasus ini tetap dilanjutkan sampai ke pengadilan. Buktinya setelah selesai gelar perkara di Polda Aceh, kami juga telah melayangkan Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP) ke Kejaksaan Negeri (Kejari) Aceh Selatan pada tanggal 13 Januari 2017 lalu. Tidak benar tudingan yang menyebutkan polisi telah menghentikan kasus ini, hanya saja dalam proses pengusutannya membutuhkan waktu,” papar Adrianus.

Dalam kasus ini, menurut Adrianus, para tersangka dijerat dengan pasal berlapis yakni Pasal 40 ayat 1 jo pasal 19 ayat 1 dan pasal 33 ayat 1 Undang-undang Nomor 5 tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistemnya. Selain itu, berdasarkan hasil gelar perkara di Polda Aceh, direkomendasikan penambahan satu pasal lagi yakni Pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHAP tentang ikut serta yakni ada orang yang menyuruh dan yang disuruh. [Hendri Z]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *