,

Karim Pun Sujud Syukur di Jalan TMMD

Jam masih menunjukkan pukul 08.50 WIB. Cuaca dingin masih menyelimuti Uer Uer. Dari arah timur, pria renta tampak melangkah gontai, menyusuri tepian sungai menuju puncak bukit. Rasa lelah tampak tak bisa ia sembunyikannya, sembari terengah-engah, butiran demi butiran keringgat mengucur ke pundaknya meski suasana masih pagi. Sesekali ia usap wajahnya yang sudah berkeriput.

Seorang tentara menghampirinya. “Mau kemana pak,” tanyanya. Hari itu, Minggu, 30 Juli 2017 TNI dari Kodim 0113/Gayo Lues masih mengerjakan pembangunan jembatan penghubung Kacang Minyak dengan Uer Uer.

“Mau melihat kebun nak, kabarnya sudah dibuka jalan sampai ke kebun saya di Uer Uer,” jawab lelaki tua itu. Ia kemudian melanjutkan perjalananya sembari menyisir celah-celah gunung yang jalannya sudah dibuka oleh TNI melalui program TNI Manunggal Masuk Desa (TMMD). Ada 6,5 kilometer jalan baru yang dibuka di tengah belantara tersebut.

Lelaki tua it uterus berjalan, naik dan turun bukit, menyisir liku-liku perbukitan seorang diri dengan ciri khas petani yang mengikat parang di sebalah kanan pingganya, dan memikul cangkul di pundaknya.

50 meter berjalan kaki, lelaki itupun hilang dari pandangan warga dan anggota TNI yang sedang bergotong royong, sesekali kepulan asap rokoknya tampak mengepul di celah-celah gunung yang tak ada penghuninya. Ia telah melewati satu gunung terjal.

Tepat pukul 12:50 WIB, lelaki yang mengarunggi hutan belantara itupun kembali, tampak samar di celah-celah batang pohon pinus, ia mulai turun ke sungai Kacang Minyak sembari berkumur, mencuci muka, membasuh tanggan, telingga, mengusap air di kepala, dan kakinya.

Tak lama berselang, iapun mengangkat tanggan seraya membaca doa, kemudian bergabung dengan Ali, warga setempat yang sedang shalat dhuhur berjamaah diimami Serda Santoso anggota Kodim Gayo Lues. Mereka shalat beralaskan rerumputan, persis di sisi jalan yang sudah dibuka oleh TNI.

Usai melaksnakan empat rakaat, ketigaya menengadahkan tangan dan berdoa. Setelah itu, lelaki tua tersebut memperkenalkan diri. Namanya Karim, usianya sudah 50 tahun dan memiliki 4 orang anak.

Ketiganyapun saling bercerita tentang kegiatan yang sedang dikerjakan, anggota TNI dan satu orang warga itupun mengaku bekerja gotong royong bersama warga lainya membuat jembatan dan membuka jalan.

Dan Karim menceritakan pengalaman pahitnya saat membuka perkebunan di Uer Uer 35 tahun yang lalu bersama orang tuanya. “Kami meninggalkan kebun itu lantaran tidak ada jalan, hasil kebun yang kami bawa ke kota tidak terbayarkan dengan jerih payah mengangkutya,” kata Karim yang pernah suatu saat meninggalkan buah jeruk purut di tenggah jalan lantaran tak sanggup lagi memikulnya setengah hari ke desa Badak.

Meski sekarang sudah berusia senja, Karim mengaku kebun yang dibukanya seluas empat hektar itu akan diwariskanya kepada empat orang anaknya yang kini sudah beranjak dewasa, meskipun ada tetangganya yang sudah menawar membeli dengan harga Rp 15 juta per hektar.

“Kalau dulu Rp 5 juta per hektarpun tidak ada pembelinya, tapi setelah kabar berita jalan sudah dibuka TNI, harganyapun langsung naik, dan peminatnyapun sangat banyak,” katanya.

Meski begitu, ia berniat tidak akan menjual kebun yang dibukanya bersama almarhum orang tuanya dulu, niat dalam dirinya kini menanam serai wanggi bersama anaknya dan kemudian membagikan satu hektar per orang.

Karim warga keturunan Desa Badak, Kecamatan Dabun Gelang yang menetap di desa Kutelintang, Kecamatan Blangkejeren itu kembali bersujud di tanah jalan, anggota TNI dan warga di sekitarnya tampak heran melihat hal itu. “Terima kasih ya Allah, engkau telah mendengar doa kami selama 30 tahun ini,” katanya yang kembali sujud dengan suara yang lirih sembari meneteskan air mata.

Keadaanpun berubah menjadi haru dan hening, dan Serda Santoso meminta pamit menuju kemah untuk beristirahat sejenak sebelum kembali melanjutkan pembangunan jembatan.

Karim yang sudah mengikatkan parang di pingganya kembali memegang lutut Serda Santoso yang sudah berdiri, “Terima kasih anakku, kalian telah membuka jalan ini, tak ada yang bisa saya berikan selain berdoa semoga anggota TNI tetap sehat dan membantu kami,” katanya.

Serda Santoso kemudian mengangkat punggung Karim sembari berkata, “Ini memang sudah menjadi tugas dan kewajiban kami membantu masyarakat pak,” katanya yang juga ikut meneteskan air mata.

Pembukaan jalan dari Kacang Minyak hingga ke Uer Uer oleh TNI kini telah menjadikan kawasan itu tak lagi terisolir, warga dengan mudah bisa mengangkut hasil kebunnya untuk dijual ke pasar.[Win Porang]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *