,

Kamuflase Politik

Pilkada masih setahun lagi, tapi hiruk pikuknya sudah terasa mulai sekarang. Ramai tokoh dan politisi yang bertindak di luar kebiasaan. Mereka mulai berkamuflase untuk tujuan politiknya.

Tentang kamuflase, Charles Stamford dalam The Disorder of Law, A Critique af Legal Theori (1989) mengatakan, apa yang terlihat di permukaan tanpak tertib, teratur, jelas, rapi dan pasti, itu semua hanya kamuflase yang penuh dengan ketidakpastian.

Inilah yang sering terjadi dalam kehidupan, berlakon di luar kewajaran, keramahtamahan yang pura-pura dengan maksud tersembunyi di baliknya. Sering juga kamuflase dipakai sebagai politik bersikap untuk menyamarkan sebuah kesungguhan menggait hal yang tak biasa.

Dalam hidup ini kita lihat banyak orang bertindak di luar kebiasaannya hanya untuk menyamarkan dirinya yang sesungguhnya, namun tak selamanya seseorang mampu berkamuflase karena ia memiliki jati dirinya sendiri. Kamuflase hanya upaya menipu penampilan semata, seperti bunglon yang mampu berubah menjadi warna daun yang dihinggapinya.

Munculnya kata kamuflase juga akibat adanya tingkah-tingkah untuk menutupi keaslian. Kata ini pertama dikenal di Perancis sebagai camoufler yang bermakan penyamaran. Kamuflase dekat dengan kelicikan dan jauh dari ketegasan. Orang yang tegas tak akan menyembunyikan maksudnya dalam penyamaran.

Biasanya, kamuflase lahir dari aneka keinginan yang tak terhingga, yang tak membedakan antara mana yang lebih utama atara kebutuhan dan keinginan. Ketika keduanya disamakan, maka kamuflase dalam bersikap lahir sebagai jalan pemenuhan. Ada tingkah dan polah yang dibuat-buat antara keraguan dan keyakinan dalam bersikap. Akibatnya, terjebak pada lingkaran masalah yang terus berputar dari satu hal ke hal lainnya tanpa penyelesaian yang memadai.

Mengutip apa yang pernah dikatakan filsuf Inggris, Bertrand Russel, manusia memang memiliki keinginan yang tak terhingga, manusia berangan-angan dan dengan itu ia hidup. Angan-angan yang dimaksud Russel bisa jadi cita-cita. Setiap kita punya cita-cita dan ingin menggapainya. Namun sering kita lihat kamuflase muncul sebagai upaya menggapainya. Ibarat kata, menembak A untuk tujuan B, berkamuflase mempengaruhi A untuk menuai hasil B yang diangan-angankan.

Agar kamuflase tak selamanya mengaburkan tujuan yang sesungguhnya, maka ikhtiar harus dikembalikan pada porosnya, pada koridor yang susungguhnya. Jangan lagi berkamuflase, kalau memang jelata, bersikaplah seperti jelatan sesungguhnya tanpa harus takut kehilangan wibawa. Kata kita orang Aceh, bek ap jalo toh kapai.

Menutup tulisan ini, saya kutip apa yang pernah dikatakan seorang pemikir Italia, Nicholas Machievelli, katanya seorang wali boleh berbohong, seorang wali yang baik bukanlah wali yang jujur dan penuh belas kasihan, melainkan wali yang kejam dan selalu belajar untuk menjadi manusia yang tidak baik. Nah, kalau wali memang seperti yang dikatakan Machievelli itu, maka jangan berkamuflase dengan berpura-pura bertindak seperti aulia.

Entahlah, kalau saya ingat kamuflase wali, saya jadi terigat adigum lama orang Aceh, wali nyang peusoh krong, karong nyang ro ie mata. Banyak sudah air mata jatuh melihat ketegasan yang pura-pura dalam kamuflase. Oya, pilkada sudah hampir tiba, hati-hati dengan kamuflase atas nama apa pun.[]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Iskandar Norman

Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *