, ,

Kala Prajurit RI Mandi Air Kubang Malaysia

Menjelang peringatan hari kemerdekaan RI ke-70, saya berkesempatan menginjakan kaki di Long Nawang, salah satu desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Desa Long Nawang masuk wilayah Kabupaten Malinau, salah satu kabupaten di Kalimantan Utara yang berbatasan langsung dengan Malaysia. Kunjungan ke Long Nawang untuk meliput kegiatan Menteri Dalam Negeri, Tjahjo Kumolo yang menggelar upacara peringatan kemerdekaan di perbatasan.

Satu hari menjelang peringatan kemerdekaan, rombongan wartawan tiba terlebih dahulu di Long Nawang, setelah terbang dari Bandara Juwata, Tarakan, menggunakan pesawat kecil. Desa Long Nawang sendiri, hanya sebuah desa kecil. Rumah-rumah pendudukan setempat yang mayoritas adalah Suku Dayak Kenyah, rata-rata rumah panggung dari kayu. Suku Kenyah sendiri adalah salah satu suku Dayak terbesar sepanjang Sungai Kayan

Jalan desa cukup bagus, sudah di aspal. Padahal, saat menuju menuju ke Long Nawang dari Long Ampung, tempat pesawat yang membawa kami dari Tarakan mendarat, jalannya sangat jelek. Jalan masih jalan tanah yang bergelombang. Praktis selama setengah jam menuju Long Nawang dari Long Ampung, kami terguncang-guncang dalam mobil yang melaju cukup kencang melahap tanjakan dan tikungan. Padahal lebar jalan hanya muat satu mobil.

Setelah istirahat sejenak di Long Nawang, beberapa wartawan, termasuk saya diajak mantan Camat Kahiyan Hulu, kecamatan yang membawahi Long Nawang menuju ke Pos Lintas Batas. Kami pun berangkat, saat hari sudah menjelang sore. Dengan menumpang mobil double cabin, kami berangkat ke pos lintas batas yang langsung berbatasan dengan wilayah Malaysia. Keluar dari desa, kami langsung “disergap” jalanan ala of road, jalanan tanah yang bergelombang. Bahkan medan menuju pos lintas batas lebih berat ketimbang medan jalan dari Long Ampung ke Long Nawang.

Jalanan membelah bukit dengan banyak tanjakan dan turunan curam. Selama satu jam, kami pun harus menikmati guncangan demi guncangan. Apalagi waktu itu, karena tempat duduk dalam mobil terbatas, terpaksa sebagian duduk di bak terbuka di belakang mobil.

Meski jalan rusak bergelombang, namun mobil melaju cukup kencang. Supir sepertinya sudah terbiasa dengan rute jalan. Mereka sudah hafal medan, hanya kami penumpang yang kwalahan dengan guncangan dan bantingan, praktis sepanjang perjalanan. Suasana pun cukup ‘menyeramkan’ bagi yang tak terbiasa, karena kiri kanan jalan adalah hutan dengan pohon-pohon tinggi menjulang.

Setelah satu jam ‘tersiksa’ di jalan, kami sampai di pos lintas batas. Saat turun dari mobil, portal darurat terbuat dari kayu nampak di depan mata. Sisi kiri, bendera Merah Putih di tancapkan. Sementara sisi kirinya adalah tiang bendera Malaysia. Tiga tentara berseragam loreng menyambut kami.

Di sisi kiri atas, bangunan atau markas pos jaga nampak berdiri gagah. Inilah pos pengamanan lintas batas atau Pamtas. Plang nama Pamtas Yonif 527/BY di pasang di depan pos, menjadi penanda bahwa di situ adalah sebuah pos militer.

Empat personil tentara berseragam lengkap menyambut kami. Mereka pun memperkenalkan diri. Sertu Nuryanto, Wakil Komandan pos lalu mempersilahkan kami singgah ke bangunan utama pos jaga. Dua anak buahnya, prajurit Abdul Khalik dan Susanto ikut menemani.

Sebelah pos tampak lempengan solar cell, tempat menampung energi listrik. Solar cell itulah andalan para pejaga lintas batas untuk menjaring energi listrik. Namun, kapasitas energi listrik yang dijaring solar cell terbatas. “Kami pakai solar cell, lumayan listrik bisa nyala sampai tengah malam. Ya, sampai jam satu malamlah,” kata Sertu Nuryanto.

Energi listrik yang dijaring lewat solar cell pun kata Nuryanto, hanya untuk menyalakan lampu, atau sekedar menambah daya baterai telepon genggam. Sementara untuk hiburan pengusir penat selama berjaga sama sekali tak ada. Sama sekali tak ada televisi.
“Hiburan kami ya kalau sore dan pagi olahraga saja, main voli. TV kami enggak ada, katanya sambil menunjuk lapangan voli depan pos jaga.

IMG_20150816_173423Kalau hari mendung terus, katanya, energil listrik yang dijaring memakai solar cell dayanya berkurang. Bila listrik mati, terpaksa gela-gelapan atau hanya diterangi lilin. Untungnya, tersedia senter baterai maupun yang memakai charger. ” Kita punya senter yang di cas,” katanya.

Tidak hanya itu, untuk menelpon pun susahnya bukan main, kata Prajurit Susanto ikut menimpali. Katanya sinyal di Long Nawang, sangat terbatas. Kadang ada sinyal, tapi seringnya nyaris tanpa sinyal. Andai pun mau menelpon tak bisa sembarang tempat. Ada tempat khusus yang disebutnya ‘Pondok Cinta’ untuk tempat menelpon, karena di gubuk kayu itu yang letaknya tak jauh dari markas pos jaga sinyal bisa didapat.

Semuanya serba darurat. Bahkan untuk urusan mandi pun, semuanya darurat, karena semata mengandalkan air hujan yang ditadah, kemudian ‘ditabung’ untuk keperluan cuci, mandi dan buang air. Namun untungnya, ada satu kubangan yang berisi air yang bisa diandalkan untuk keperluan membilas badan. Nah, menariknya, kubangan itu bukan berada di wilayah kedaulatan Indonesia. Tapi terletak di wilayah Malaysia. Jaraknya hanya sepelemparan batu, ada di seberang pos jaga militer.

“Buang puntung rokok pun ke Malaysia. Mandi juga di Malaysia,” kata Prajurit Kepala Abdul Khalik sambil tertawa.

Kami pun diajak ke tempat yang disebutnya tempat mandi. Tempat mandi para penjaga tapal batas, terletak di seberang bangunan utama pos jaga. Tapi tempat itu sudah masuk wilayah Malaysia. Letaknya, dipinggir hutan. Sampai di sana, benar saja ada kubangan berisi air sedikit keruh. Abdul Khalik pun memperagakan cara mengambil air. Air di ambil pakai ember yang diikat tali, selanjutnya di masukan dalam potongan drum bekas. Hanya dinding terbuat dari terpal sebagai penghalang tempat mandi agar tak dilihat orang. Jadi, kalau mau mandi, orang harus duduk berjongkok, agar tak terlihat orang lain.

Sertu Nuryanto yang ikut menemani menambahkan, kalau musim kemarau, kadang air tak ada dalam kubangan. Untungnya untuk kemarau kali ini, air masih ada dalam kubangan. Bila air tak ada dalam kubangan, maka terpaksa harus turun ke bawah yang jaraknya lumayan jauh. ” Kalau kering ya terpaksa turun ke bawah ke Sungai, jaraknya lumayan jauh,” kata dia.

Air dalam kubangan hanya untuk mandi dan mencuci baju, kata Nuryanto. Sementara untuk memasak, menggunakan air hujan yang ditampung dalam tandon.
“Kita kan di ketinggian 900 meter di atas permukaan laut. Ya kalau untuk masak, nampung air hujan di tandon,” ujarnya.

Logistik seperti beras dan lainnya, kata dia, tak di drop. Tapi sistemnya hanya diberikan uang yang di ambil di kantor Koramil yang ada di Dewa Long Nawang. Jarak dari pos Pamtas ke Desa Long Nawang sendiri sejauh 32 kilometer. Biasanya memakai motor, dua orang anggota ditugaskan mengambil dana logistik, sekaligus sambil belanja sembako.

“Kemarin kami ambil uang logistik, tak ada kendaraan. Terpaksa berangkat subuh sampai jam dua siang, jalan kaki kesana. Kami ada sepeda motor tiga, yang dua tinggal rangka yang satu sudah rusak juga,”kata dia.

Di wilayah Malaysia sendiri, katanya, hanya ada satu pos penjagaan yang dijaga pihak polisi Malaysia. Tapi mereka hanya bertugas satu bulan. Bulan berikutnya cuti. Praktis pos tak ada yang jaga. Ketika pos penjagaan kosong, pihak Malaysia memutus jalan penghujung antara Indonesia Malaysia. Tujuannya mencegah tindak kriminal seperti penyelundupan. Tapi, ketika jalan diputus, masyarakat Indonesia yang kesulitan, terutama dalam mendapatkan sembako. Karena selama ini, mereka memang membeli sembako dari wilayah Malaysia. Jalan penghubung Malaysia-Indonesia sendiri memang melintasi pos Pamtas yang dijaga tentara. Di pos itulah para pelintas batas diperiksa. Jalan sudah masuk mobil, meski kondisi jalan masih berupa jalan tanah.

“Jalan di depan pos ini tembus ke Tapak Mega, di sana ada perusahaan kayu Malaysia yang punya kantin. Tapi sekarang sudah seperti supermarket. Kesanalah warga kita belanja sembako. Harganya lebih murah ketimbang harus belanja ke Samarinda,” tutur Nuryanto.

Diakuinya masih ada warga Indonesia yang punya ID Card Malaysia. Namun pihak Malaysia sendiri tak terlalu ketat memeriksa para pelintas yang kebanyakan memang Suku Dayak. Mereka yang melintas ke Malaysia pun, bukan hanya yang mau belanja, tapi juga yang mau berkunjung ke sanak saudaranya yang ada di wilayah Malaysia. Atau mereka yang hendak bekerja di perusahaan kayu Malaysia. Banyak yang bekerja di perusahaan kayu Malaysia sebagai buruh kasar, atau supir alat berat.

“Nah, rata-rata kan wajah Suku Dayak itu mudah dikenali karena mirip-mirip. Baru kalau yang melintas itu wajahnya lain, itu dipertanyakan,” kata Nuryanto.

Pemeriksaan di pos Pamtas pun tak ribet kata Nuryanto. Warga yang melintas hendak ke Malaysia, hanya ditanya asal dari kampung mana, tujuannya kemana, lalu keperluannya apa. ” Kita catat. Kalau lama, berapa harinya kita catat. Kembalinya kita catat lagi,” ujar Nuryanto.

Prajurit Kepala Susanto ikut menambahkan. Warga yang pergi ke Tapak Mega, selain belanja sembako juga mau beli BBM dari Malaysia. Para warga lebih memilih membeli BBM buatan Malaysia, ketimbang membeli BBM buatan Indonesia di Long Bagon. Selain jaraknya jauh, kualitasnya pun lebih bagus BBM produksi Malaysia.

Saat ditanya, apakah tiap hari rutin melakukan patroli, Sertu Nuryanto menjawab, patroli rutin dilakukan dua kali dalam seminggu. Tapi sekarang patroli lebih digencarkan, karena bunyi mesin alat berat dari kawasan Malaysia kian dekat. Bahkan, jika malam, bunyi alat berat masih terdengar. Karena itu jadwal patroli makin diperbanyak.

“Karena alat berat Malaysia takut mau masuk, takut merusak daerah kita. Suaranya kita dengar dalam , radius 500 meter hingga satu kilometer,sudah dekat dengan kita. Maka kita patroli tujuh kali sekarang,” katanya.

Kewaspadaan kata dia, harus ditingkat. Karena dulu, tentara yang berpatroli pernah menangkap alat berat milik perusahaan Malaysia yang sedang mencuri kayu di wilayah Indonesia. Apalagi, kayu di wilayah Malaysia makin berkurang. ” Selain pencurian kayu, mungkin tindakan kriminal yang lain adalah penyelundupan narkoba dan minuman keras, tapi sekarang berkurang, “ujarnya. [Agus Supriyatna]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *