Jejak Turki di Pusara Syeikh Baba Daud Rumi

0
126

BANDA ACEH – Syeikh Baba Daud Rumi merupakan salah satu ulama Aceh keturunan Turki. Lebih dikenal dengan sebutan Teungku Chik di Leupue. Kitab klasiknya Masailal Muhtadi Lii Ikhwanil Mubtadi masih dijadikan kitab ajaran di dayah-dayah di Aceh.

Untuk mengenang salah satu ulama besar Aceh itu, sejumlah Komunitas Aceh-Turki, seperti Ikatan Masyarakat Aceh Turki (IKAMAT) dan Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) Turki yang bekerjasama dengan masyarakat Gampong Mulia menggelar acara Peringatan 480 Tahun Hubungan Persaudaraan Aceh-Turki. Kegiatan ini digelar di Komplek Makam Baba Daud Ar-Rumi di Gampong Mulia, Kota Banda Aceh, Selasa, 20 Agustus 2019.

Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Uskam yang ikut hadir dalam acara tersebut, dalam sambutanya mengatakan Turki dan Aceh memiliki sejarah persahabatan yang sangat panjang, yakni sudah 480 tahun. Ia berharap hubungan antara Aceh dan Turki semakin kokoh dimasa masa yang akan datang.

Aminullah sendiri sangat mengapresiasi terselenggaranya acara tersebut. Menurutnya persahabatan Aceh dan Turki perlu terus dirawat untuk kemudian semakin memperkuat ukhuwah Islamiya.

Syekh Baba Daud Rumi sendiri, lanjut Aminullah merupakan ulama besar yang memberikan pengaruh besar bagi peradaban Islam di Aceh. Meski generasi saat ini tidak pernah bertemu langsung dengannya, tapi sosok yang lebih dikenal dengan Teungku Di Leupu tersebut merupakan guru bagi masyarakat Aceh lewat peninggalan karyanya, kitab Masailal Muhtadi Lii Ikhwanil Mubtadi.

“Secara tidak langsung, kita semua adalah murid dari Syekh Baba Daud Rumi karena kita semua pernah belajar Kitab Masailal Muhtadi Lii Ikhwanil Mubtadi,” ujar Aminullah.

Aminullah mengungkapkan, Pemko sangat mendukung digelarnya kegiatan tersebut. Bukan hanya untuk mengenang sejarah Aceh dan Turki, tapi kegiatan tersebut dinilai mampu meningkatkan daya tarik wisatawan internasional, terutama wisata sejarah.

“Kita sudah memugar makam Syekh Baba Daud Rumi ini, ke depan juga akan kita sempurnakan lagi dengan membangun bagian-bagian lain di makam ini agar wisatawan yang datang ke sini semakin nyaman,” kata Aminullah.

Acara Peringatan 480 Tahun Hubungan Persaudaraan Aceh-Turki ini diisi dengan doa, zikir bersama dan pidato sejarah dari mantan Rektor UIN Ar-Raniry, Farid Wajidi Ibrahim. Acara ini juga menghadirkan dua blogger dari Turki, Edanur Yildiz dan Elif Kübra Genç. Koordinator acara, Teuku Farhan mengatakan Makam Baba Daud Ar-Rumi dipilih sebagai lokasi acara karena memiliki jejak Turki di Aceh. Untuk diketahui, Baba Daud Ar-Rumi adalah seorang ulama Aceh keturunan Turki pada abad ke-17.

Syeikh Daud Rumi merupakan putra Syeikh Ismail bin Mustafa Rumi (ulama yang datang dari Turki Usmaniyah) ia bersama Syeikh Abdur Rauf (Syiah Kuala) mengelola Dayah Manyang Leupue. Syeikh Daud Rumi juga dikenal sebagai Baba Daud, tapi karena oleh Syeikh Abdurrauf dipercayakan memimpin Dayah Leupeue maka ia dikenal sebagai Tgk Di Leupeu. Setelah menyerahkan dayah itu kepada muridnya tersebut Syeikh Abdurrauf pindah ke Kuala Aceh dan membangun lagi dayah di sana hingga kemudian ia dipanggil Tgk Syiah Kuala.

Hasil karangan Syeikh Daud Rumi antara lain Risalah Masail Muhtadihi ikhwanil Mubtadi yang ditulis dalam bahasa Melayu. Kitab ini berisi pelajaran lengkap tentang agama Islam dan digunakan di seluruh Negara Asia Tenggara.

Kitab ini berbahasa Melayu lama (Jawi) yang ditulis dengan sistim tanya jawab. Isinya membahas masalah akidah, ibadah dan berbagai ajaran Islam lainnya. Kitab ini dipakai untuk pelajaran agama permulaan di dayah dayah di Aceh hingga kini.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here