,

Jangan Cari Untung pada Proyek Bandara T Cut Ali

TAPAKTUAN – Warga diminta untuk tidak mencari untung berlebihan pada proyek pembangunan Bandar Udara (Bandara) T Cut Ali dengan mematok harga tanah di luar batas kewajaran. Sebaliknya, harus kompak mendukung pembangunan daerah.

Permintaan itu disampaikan Bupati Aceh Selatan, HT Sama Indra, Selasa, 24 Mei 2016 di Pasie Raja. “Masyarakat Pasie Raja harus kompak. Jika masih ada oknum masyarakat yang tidak mau bersatu, maka itu sama dengan menghambat pembangunan,” tegas Sama Indra.

Sebagaimana diketahui, Pemkab Aceh Selatan merencanakan perluasan area terminal dan perpanjangan landasan pacu (run way) Bandara T Cut Ali di Desa Teupin Gajah, Pasie Raja. Rencana perluasan lahan terminal dan perpanjangan landasan pacu Bandara T Cut Ali tersebut merupakan program Pemerintah Pusat melalui Kementerian Perhubungan yang didanai dari sumber anggaran APBN. Sedangkan Pemkab Aceh Selatan hanya diminta menyediakan lahan seluas lima hektar lebih.

Sama Indra melanjutkan, setelah perluasan lahan terminal dan perpanjangan landasan pacu tersebut, maka Bandara T Cut Ali sudah bisa mendarat Pesawat jenis Wings Air (Lion Grup) dan jenis ATR dengan kapasitas penumpang lebih dari 50 orang.

“Jika lalu lintas pesawat sudah banyak maka penumpangpun akan bertambah ramai. Kondisi itu secara otomatis akan berdampak terhadap perekonomian masyarakat. Dengan hidupnya perekonomian maka Kecamatan Pasie Raja akan lebih maju. Seharusnya hal itu menjadi pertimbangan utama bagi masyarakat setempat, karena manfaatnya akan dirasakan langsung oleh mereka sendiri,” tegasnya.

Sama Indra meminta kepada camat beserta seluruh jajaran Muspika Pasie Raja termasuk para imum mukim dan kepala desa, segera menggelar musyawarah dengan pihak pemilik tanah. Tokoh masyarakat juga diminta memberi pemahaman kepada msyarakat pemilik tanah bahwa pembebasan lahan tersebut bukan atas kepentingan pribadi pejabat tertentu melainkan untuk kepentingan bersama.

Camat Pasie Raja, Said Ali mengaku bahwa pihaknya telah berulang kali menggelar musyawarah dengan para kepala desa serta pihak pemilik tanah, namun hingga saat ini belum ada titik temu karena pihak pemilik tanah tersebut mematok harga di luar batas kewajaran.

Menurut dia, normalnya harga tanah disekitar Bandara T Cut Ali tersebut paling tinggi sebesar Rp 40 juta/hektar seperti yang ditetapkan oleh sebagian besar pemilik tanah di lokasi tersebut. Namun yang menjadi kendala pihaknya selama ini, masih ada segilintir oknum masyarakat yang berjumlah 5 orang lagi yang masih tetap mempertahankan harga tanah lebih dari Rp 100 juta/hektarnya.

Dia menegaskan, harga yang mencapai Rp 100 juta lebih/hektar tersebut sudah pasti tidak mungkin di sanggupi oleh Pemkab Aceh Selatan sebab disamping ketersediaan anggaran terbatas juga keputusan pembelian tanah diatas harga standar sesuai Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) berpotensi akan berkasus hukum.

“Sebenarnya, dari puluhan masyarakat pemilik tanah di lokasi tersebut sebagian besarnya sudah menyetujui pembebasan tanah sesuai harga standar, namun yang menjadi kendala sekarang ini masih ada sekitar 5 orang lagi yang belum sependapat sehingga proses pembebasan lahan tersebut masih terkendala,” ungkapnya.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *