,

Ini Dia Pernyataan Sikap Keluarga Sultan Aceh Terkait Penolakan Proyek IPAL

BANDA ACEH – Keluarga Besar Dinasti Alaiddin Kesultanan Aceh Darussalam menolak keras pembangunan proyek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di lokasi situs Kerajaan Aceh, Gampong, Pande Banda Aceh.

Penolakan tersebut disampaikan langsung anggota keluarga sultan Aceh, Tuanku Warul Walidin Bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah di hadapan Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon, dalam pertemuan Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, Papua dan Keistimewaan Yogjakarta dengan Pemerintah Aceh, Senin, 23 Oktober 2017 di Kantor Gubernur Aceh.

Tuanku Warul Waliddin menjelaskan, Gampong Pande merupakan lokasi awal dimulainya peradaban Kesultanan Aceh Darussalam yang didirikan oleh Sultan Johansyah pada 1 Ramadhan 610 Hijriah atau 22 April 1205 Masehi. Perangkat kesultana pada masa itu menetapkan lokasi 5 gampong yaitu Gampong Pande, Gampong Jawa, Peulanggahan, Keudah dan Merduati sebagai Gampong Sultan.

“Wilayah ini disebut juga wilayah dalam komplek istana Kesultanan Aceh sebelum pindah ke istana Daruddonya. Sultan memerintah langsung 5 gampong itu tanpa delegasi kepada uleebalang dan panglima sagoe,” jelasnya.

Karena itu lanjut Warul Waliddin, lokasi 5 desa yang sekarang masuk dalam Kecamatan Kutaraja (Benteng Raja –red) tersebut sangat penting untuk dipelihara dan dilestarikan, karena merupakan aset penting yang memiliki nilai sejarah, budaya, dan peradaban.

“Ini merupakan pustaka besar bagi siapa pun yang ingin mengenal Aceh lebih dalam, karena ini merupakan pusat kendali kerajaan Aceh pada masanya. Jadi, kKami atas nama keluarga keturunan Sultan Aceh sangat keberatan atas dibangunnya proyek IPAL di lokasi yang sangat bersejarah tersebut, kami minta proyek itu dihentikan dan direlokasi ke tempat lain,” harap Tuanku Warul.

Selain itu kata Tuanku Warul Waliddin, di lokasi bekas kesutanan Aceh tersebut dulunya terdapat istana sultan, masjid, perkantoran kerajaan, pusat pengrajin besi emas perak dan tembaga, sehingga daerah tersebut dikenal sebagai Gampong Pande. Di lokasi itu juga bertebaran banyak makam ulama dan keluarga sultan.

“Ulama dan petinggi kerajaan yang hampir semuanya meninggalkan nisan bersurat yang sampai hari ini masih dapat kit abaca pesan-pesan dari mereka itu. Warga bersama masyarakat bersama Masyarakat Peduli Sejarah Aceh (Mapesa) sejak 10 tahun terakhir setiap minggu menggelar meuseuraya (gotong royong-red) membersihkan situs-situs sejarah tersebut,” ungkap Warul Waliddin.

Warul Waliddin juga meminta kepada pemerintah untuk melakukan penelitian dan pemugaran situs-situs sejarah tersebut. “Ini merupakan sebuah pustaka besar dari masa lalu yang harus diteliti dan dipugar, karena heritage is the future, warisan adalah masa depan, semoga masa depan kita akan kembali hebat dan Berjaya,” pungkasnya.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *