,

Indahnya Akrilik Perempuan Terhukum

Sejatinya para perempuan itu adalah orang-orang terhukum, raganya tersandera di balik jeruji besi Rumah Tahanan Negara (Rutan) kelas IIB Tapaktuan, Aceh Selatan. Namun, di balik pilu menunggu masa dera akibat kesalahan pada tempo yang telah berlalu, mereka dilantih menjadi perempuan-perempuan kreatif. Tangan dan jemari mereka begitu gemulai merangka bunga akrilik yang indah.

Meski dari 147 nara pidana (napi) yang ditahan di sana, hanya lima orang perempuan. Bukan berarti pemberdayaan terhadap mereka diabaikan. Bila napi pria dilatih merajut jala, para perempuan tersebut diasah kemampuannya merangkai bunga. Mereka dibina oleh Endarwati, sipir yang juga istri Kepala Rutan Tapaktuan.

Kepala Rutan kelas IIB Tapaktuan, Irman Jaya di Tapaktuan, Selasa, 16 Agustus 2016 mengatakan, program pembuatan bunga akrilik dengan menggunakan bahan baku manik dan mote telah berlangsung sejak satu bulan terakhir telah menghasilkan ratusan bunga yang bernilai jual.

Rencananya, bunga-bunga manik akrilik hasil inovasi dan kreativitas napi perempuan tersebut akan kami pajang di depan Rutan serta akan dititipkan di Dekranasda Aceh Selatan sebagai bahan contoh. Langkah promosi tersebut bertujuan agar hasil kerajinan tangan produksi napi perempuan Rutan Tapaktuan dapat diketahui secara cepat oleh para konsumen.

“Sebenarnya banyak hal yang bisa kita programkan untuk melatih para napi dan tahanan namun untuk mewujudkan program tersebut kita mengalami banyak kendala. Kendala itu tidak hanya tidak tersedianya peralatan dan anggaran juga faktor kondisi bangunan Rutan yang sangat sempit sehingga ruang gerak para tahanan sangat terbatas,” ungkapnya.

Menurutnya, keberadaan Rutan kelas IIB Tapaktuan yang merupakan peninggalan zaman Belanda dibangun sekitar tahun 1912 silam tersebut, dinilai sudah tidak layak lagi di tempati oleh para napi dan tahanan yang jumlahnya setiap tahun terus meningkat.

“Penjara ini sebenarnya kapasitasnya hanya 75 orang namun sekarang ini sudah dihuni sebanyak 147 orang napi dan tahanan, sehingga kondisi tersebut jelas-jelas sudah over kapasitas. Lagi pula, dengan kondisi bangunan yang sangat sempit jangankan dibangun tempat pelatihan kerja, untuk tempat olah raga saja tidak tersedia,” ungkap Irman Jaya.

Padahal, sambung dia, pihaknya telah memprogramkan untuk melatih para napi dengan berbagai ketrampilan kerajinan tangan seperti perbengkelan, latihan menjahit, serta kreativitas lainnya.

Meskipun demikian, lanjut Irman Jaya, pihaknya tetap terus mencetuskan program-program kerja baru yang belum pernah di laksanakan dibawah kepemimpinan sebelumnya. Beberapa program tersebut selain telah mengusulkan pembangunan Gedung baru ke Kementerian Hukum dan HAM sumber dana APBN sebesar Rp 3 miliar.

Pihaknya juga berencana akan menjalin kerja sama dengan Pemkab Aceh Selatan melalui Dinas Pendidikan untuk memberikan pendidikan lanjutan terhadap napi atau tahanan yang putus sekolah.

“Kami akan mendata tingkat pendidikan seluruh napi dan tahanan, berapa orang yang tidak tamat Sekolah Dasar (SD), berapa orang tidak tamat SMP, dan berapa orang pula tidak tamat SMA. Terhadap mereka ini, akan difasilitasi untuk mengikuti program paket A, B dan C sehingga meskipun mereka sedang mendekam dalam penjara tapi masa depannya tetap terjamin,” papar Irman Jaya.

Ia berharap, program yang akan di cetuskan tersebut mendapat sambutan positif dari Pemkab Aceh Selatan melalui Dinas Pendidikan, karena peluang mereka untuk tetap memperoleh pendidikan tetap harus dijamin oleh negara.[Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *