,

Imigrasi Tidak Deportasi 6 WNA Asal Tiongkok yang Ditangkap di Aceh Selatan

TAPAKTUAN – Sebanyak 6 Warga Negara Asing (WNA) yang ditangkap di lokasi tambang emas Gampong Pasie Rasian, Kecamatan Pasie Raja, Aceh Selatan tidak dideportasi ke negara asalnya. Alasan pihak imigrasi, mereka merupakan para pekerja asing yang didatangkan khusus oleh PT Nagan Raya Kencana.

Penjelasan itu disampaikan Kepala Imigrasi kelas IIB Meulaboh, Imam Santoso saat dimintai konfirmasi via sambungan telepon dari Tapaktuan, Rabu, 17 Januari 2018. Menurut Imam Santoso, alasan lain pihaknya tidak mendeportasi enam orang WNA tersebut karena memiliki visa.

“Jika mereka bebas visa kunjungan otomatis langsung kita tindak tegas. Tapi kenyataannya WNA tersebut ada memiliki visa kunjungan. Jika mereka nantinya ingin bekerja tetap di Aceh Selatan maka harus melengkapi surat-surat izin yang lengkap sesuai aturan perundang-undangan yang berlaku,” jelasnya.

Imam Santoso melanjutkan, pihaknya tidak gegabah menindak WNA, karena kecurigaan berlebihan terhadap keberadaan orang asing bisa menimbulkan trauma dan ketakutan para investor datang ke Aceh sehingga menghambat investasi.

“Kita harus melihat jauh ke depan tidak bagus jika kita selalu mencurigai secara berlebihan. Apalagi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Aceh sedang berupaya mengundang investor untuk berinvestasi,” lanjutnya.

Selain itu kata Imam Santoso, keenam WNA tersebut belum melakukan tindakan yang di luar koridor hukum, karena mereka belum berstatus sebagai pekerja tetap melainkan masih sebagai tenaga ahli untuk survey lokasi.

“Perusahaan yang rencananya akan memakai tenaga ahli WNA tersebut di Pasie Raja Aceh Selatan masih melakukan langkah-langkah persiapan untuk kegiatan eksplorasi, belum memulai eksploitasi atau berproduksi. Jika kita bersikap sembrono langsung main deportasi bisa trauma para investor luar masuk ke Aceh Selatan,” tegasnya.

Meskipun demikian, lanjut Imam Santoso, pihaknya tetap akan melakukan pemantauan dan pengawasan secara ketat terkait keberadaan WNA di wilayah kerja Imigrasi kelas IIB Meulaboh khususnya di Kabupaten Aceh Selatan.

“Jika perusahaan tersebut telah beroperasi secara resmi, salah satu kewajiban yang harus di lengkapi oleh para pekerja asingnya adalah memiliki Kitab Izin Tinggal Sementara (Kitas) serta Izin Mempekerjakan Tenaga Kerja Asing (IMTA). Jadi ada tahapan-tahapan tertentu yang kita berlakukan terhadap WNA yang ingin menanamkan investasinya di dalam daerah,” jelasnya.

Dari enam orang WNA, baru empat diantaranya telah diketahui identitas passport dan keterangan visit stay. Masing-masing atas nama Wan Zhiye, jenis kelamin laki-laki, tempat tanggal lahir Hubei, 2 Oktober 1977, tempat dan tanggal pengeluaran visa Hubei, 20 November 2014, tanggal berakhir 19 November 2024, dengan keterangan visit stay (Imigrasi Meulaboh) No. 2B21TE007-R, berlaku dari tanggal 28 November 2017 sampai dengan 8 Januari 2018.

Kemudian atas nama Yang Zhongbiao, jenis kelamin laki-laki, tempat tanggal lahir Yunnan, 8 September 1980, tempat dan tanggal pengeluaran visa Yunnan, 7 Maret 2011, tanggal berakhir 6 Maret 2021, dengan Keterangan visit stay (Imigrasi Meulaboh) Nomor : 2B21TE004-R, berlaku dari tanggal 28 November sampai dengan 31 Desember 2017. Departure Kuala Namu Air Port, Medan Sumatera Utara 21 Agustus 2017. Visa exemption 23 Juli 2017.

Selanjutnya, atas nama Chen Runlin, jenis kelamin laki-laki, tempat tanggal lahir Hubei, 7 Agustus 1968, tempat dan tanggal pengeluaran visa Hubei, 13 Mei 2016, tanggal berakhir 12 Mei 2026, dengan keterangan visit stay (Imigrasi Meulaboh) nomor : 2B21TE006-R, berlaku dari tanggal 28 November 2016 sampai dengan 8 Januari 2017.

Terakhir atas nama Tang Yanping, jenis kelamin laki-laki, tempat tanggal lahir Yunnan, 18 November 1969, tempat dan tanggal pengeluaran visa Yunnan, 24 Agusutus 2017, tanggal berakhir 23 Agusutus 2027, dengan keterangan visit stay (Imigrasi Meulaboh) nomor : 2B21TE005-R, berlaku dari tanggal 28 November 2016 sampai dengan 31 Desember 2017.

Keberadaan enam WNA asal Tiongkok ini dikoordinir Bustaman petugas lapangan PT. Nagan Raya Kencana. Bustaman yang sekaligus merangkap sopir enam WNA tersebut saat dimintai konfirmasi oleh wartawan mengatakan pihak perusahan mengutus dirinya untuk mengkoordinir WNA selama berada di Aceh Selatan dan terkait proses pengurusan surat administrasi sudah diajukan ke Polres Aceh Selatan.

Sementara itu menurut keteragan warga setempat, enam WNA tersebut telah melakukan kegiatan di lokasi pengolahan limbah emas. Di lokasi itu terdapat beberapa kolam yang digali dengan lebar sekitar 5×10 meter kedalaman sekitar 3 meter. Selain itu, dalam lokasi kerja yang tertutup pagar pembatas menggunakan seng juga terdapat sejumlah tumpukan tanah dalam karung yang tersusun rapi.

“Sudah beberapa bulan WNA tersebut melakukan kegiatan di sini, kami tidak tahu kegiatan apa yang dilakukan di dalam lokasi itu. Kami tidak bisa masuk ke dalam karena tertutup pagar pembatas yang dibangun menggunakan seng. Menurut informasi yang kami ketahui mereka melakukan aktivitas penyulingan limbah emas,” kata salah seorang warga setempat.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *