Ilyas Leubee dan Kisah Barisan Gerilya Rakyat Gayo Melawan Belanda

0
515

Pada 31 Maret 1948, untuk memperkuat pertahanan rakyat dalam menghadapi serangan-serangan Belanda yang diperkirakan akan masuk ke Aceh, di Takengon, Kabupaten Aceh Tengah dibentuk Barisan Gerilya Rakyat disingkat BAGURA.

BAGURA dipimpin oleh Teungku Ilyas Leubee selaku komandan, Teungku Abubakar Salam sebagai wakil komandan, dan Chaerul sebagai kepala staf. Mereka memimpin barisan perjuangan rakyat untuk menghalau masuknya tentara Belanda dari Sumatera Timur ke bagian tengah Aceh atau dataran tinggi Gayo.

Namun, karena Belanda tak pernah bisa masuk ke Aceh, pasukan BAGURA sering ikut serta dalam berbagai pertempuran di luar daerah, termasuk memperkuat perjuangan di front Medan Area pada Desember 1946, dua tahun sebelum BAGURA resmi dibentuk di Aceh Tengah.

Teungku Ilyas Leubee bersama Laskar Pejuang Rakyat Aceh Tengah (cikal bakal BAGURA) ikut menjadi bagian dari pasukan dari Aceh dalam Resimen Istimewa Medan Area (RIMA) yang memerangi Belanda di front Medan Area. Saat itu pejuang dari Aceh Tengah yang dipimpin oleh Teungku Ilyas Leubee dan Jasa SR ditempatkan di Pancur Batu.

Pada perang-perang selanjutnya, banyak laskar BAGURA yang gugur, seperti pada pertempuran di Suka Ramai, Tanah Karo, Sumatera Utara. Tentara Belanda yang ingin menerobos masuk ke Aceh melalui daerah tersebut dihalang oleh barisan perjuang Aceh dari berbagai kesatuan, termasuk dari laskar rakyat Aceh Tengah.

Dalam perang sengit tersebut dua tokoh pejuang dari tanah Gayo yakni Panglima Aman Dimot dan Panglima Ali tewas. Mereka gugur dalam perang sengit menghalau pasukan Belanda di Tanah Karo, Sumatera Utara agar tidak masuk ke Tanah Alas, Aceh, karena saat itu Tanah Alas merupakan lumbung beras (pangan) untuk pertahanan rakyat Aceh di bagian selatan.

Dalam perjalanannya, pasukan BAGURA juga terus bahu membahu dengan berbagai pasukan dari berbagai laskar perjuangan di Aceh dalam melawan agresi Belanda yang terus berusaha masuk Aceh. Kuatnya pertahanan rakyat Aceh di perbatasan membuat Belanda tak pernah bisa masuk ke Aceh.

Pada 9 Januari 1949, Banta Cut atas nama BAGURA Kewedanan Takengon dan Muhammad Saleh Adry atas nama rakyat Kabupaten Aceh Tengah, menyerahkan sebuah resolusi kepada Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo, Jendral Mayor Tituler Teungku Muhammad Daod Beureu’eh. Dalam resolusi tersebut ditegaskan bahwa rakyat Aceh Tengah siap sedia dalam keadaan bagaimanapun juga untuk berjuang di kancah perang.

Resolusi itu diserahan di Takengon, karena pada hari itu Pejabat Penerangan Aceh Tengah menggelar rapat di bioskop Laut Tawar. Rapat dihadiri oleh para pejabat sipil dan militer. Usai pembukaan rapat, Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo, Jendral Mayor Tituler Teungku Muhammad Daod Beureu’eh tampil menyampaikan pidatonya.

Adapun inti sari dari pidato Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo, Jendral Mayor Tituler Teungku Muhammad Daod Beureu’eh saat itu adalah seperti kutipan dari buku Sekali Republiken Tetap Republiken halaman 11 dan 12 berikut ini.

Manusia dilahirkan Tuhan ke alam wujud dengan berjodoh-jodoh, dan dari kedua mahkluk itu lahirlah manusia beribu-ribu yang bertebar meratai alam ini. Masa itu tekah diatur antara seseorang dengan yang lainnya berhak hidup dan mengurus dirinya sendiri. Di samping itu telah diturunkan Tuhan utusan-Nya untuk memimpin manusia yang bertebaran itu.

Bagi orang yang tidak patuh pada amanat Tuhan, terbitlah nafsu serakahnya, sehingga milik orang lain pun mau dirampasnya. Kita telah ditakdirkan Tuhan hidup dalam alam yang disebut Surganya Tuhan, di tanah yang subur dan kaya raya. Kita telah merasakan nikmat dan karunia Tuhan ini. Lebih-lebih kita telah bernegara dan berdaulat. Mengatur hidup sendiri dengan aman dan sentosa.

Sekarang nikmat yang kita rasakan ini hendak direbut oleh orang yang tamak dan serakah, yaitu Belanda, yang mengatakan bangsa Indonesia ini tidak berhak mengatur kehidupan sendiri dan masih biadab, yang belum boleh bernegara dan berdaulat.

Dewasa ini dia (Belanda) mengadakan serangan-serangan secara besar-besaran untuk memenuhi nafsu tamak dan serakahnya itu. Tuhan menyuruh kita menyirami bumi Indonesia ini dengan darah, harta, nyawa, untuk mempertahankan negara, bangsa dan agama dari serangan musuh yang durjana. Semua warga negara wajib mempertahankannya, tidak terkecuali kaya dan miskin. Bahkan yang terutama diperintahkan Tuhan adalah pada orang-orang yang kaya, gagah, dan bertenaga.

Gubernur Militer Aceh Langkat dan Tanah Karo, Jendral Mayor Tituler Teungku Muhammad Daod Beureu’eh mengakhiri amanatnya dengan mengharap rakyat bahu membahu dan bersatu padu dalam melanjutkan perjuangan.

Setelah itu Letnan Kolonel Asjkari tampil berpidato menyampaikan menjelaskan panjang lebar tentang kondisi perjuangan tanah air dan situasi terakhir setelah Belanda melancarkan agresi kedua.

Hal yang sama juga disampaikan Bupati Aceh Tengah, Raja Abdul Wahab yang menyerukan agar rakyat Aceh Tengah tetap tabah dan semangat dalam berjuang mempertahankan kemerdekaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here