,

HM Zainuddin De Jong Atjeher dari Ndjong

Bagi sejarawan Aceh, H M Zainuddin sering menjadi rujukan. Karya-karyanya sampai kini masih jadi referensi. Pada masa pergerakan, ia bekerja di berbagai surat kabar dengan nama De Jong Atjeher.

Keberadaan H M Zainuddin sebagai penulis buku-buku sejarah Aceh tidak diragukan lagi. Berbagai karangannya tentang sejarah Aceh, kini menjadi rujukan dan referensi bagi generasi setelahnya. Tulisan singkat ini mencoba mengungkap kembali siapa sebenarnya De Jong Atjeher itu.

H M Zainuddin merupakan putra dari H Abu Bakar, seorang pedagang hasil bumi yang sering meekspor barang dagangannya ke luar negeri. Ia sering ikut berlayar membawa barang dagangannya berlayar ke Sailon, Kalkuta dan Penang dengan menggunakan kapal sendiri.

Dalam riwayat singkat di halaman akhir buku “Singa Atjeh” yang berisi boigrafi Sulthan Iskandar Muda, ia mengugkap sedikit perjalanan hidupnya hingga menjadi sejarawan. Ia lahir pada 15 Muharram 1310 Hijriah, bertepatan dengan 10 Mei 1983 di Keude Ndjong, Kewedanan Sigli, kini menjadi Kecamatan Bandar Baru, Kabupaten Pidie Jaya.

Pendidikan pertama diperolehnya di Inl School Sigli. Tamat sekolah tersebut ia dikirim oleh ayahnya ke Pulau Pinang, Malaysia untuk berdagang. Di sana ia menjadi anak muda yang serba kecukupan dengan penghasilan dari bisnis dagangnya. Dari usahanya itu pula ia kemudian bisa menunaikan ibadah haji ke Mekkah pada tahun 1913.

Usai menunaikan ibadah haji ia kembali ke Sigli pada Januari 1914, sementara usahanya di Pulau Pinang dilanjutkan oleh orang kepercayaannya. Kembalinya ia ke Sigli kala itu karena Pemerintah Hindia Belanda membuka Landbouwschool, sekolah pertanian di Beureunuen. Ia melanjutkan pendidikan di sekolah itu.

Setelah tamat Landbouwschool pada tahun 1916, ia diangkat menjadi asisten di sekolah pertanian tersebut dan diperbantukan pada Leider Landbouwschool (Landbouwkundige Ambtenar B. Dj. Rasad). Di sana ia belajar bahasa Belanda pada Alb Kroes Bandung melalui korepodensi.

Di sela-sela kesibukannya di sekolah itu, ia juga menjadi wartawan (koresponden) Dagblag terbitan Medan. Tulisan pertamanya di koran tersebut mengupas tentang verslag lengkap dari konggres Vereeniging Atjeh yang diadakan pada 16 Januari 1916. Pada waktu itu ia juga menjadi penulis pada majalah politik Sama Rata yang juga terbit di Medan. Penerbitan majalah itu dipimpin oleh Mangun Atmodjo.

Pada tahun 1918 ia menjadi Beherder Centrale Proeftuin dari Landbouwvoorlichtingsdienst di Uleekareng, dan merangkap sebagai assistent leider Sekolah Pertanian Uleekareng. Ia juga menjadi anggota Nederlandssche Verbond di Kutaraja. Pada masa itu ia H M Zainuddin masuk ke kancah politik dengan bergabung menajdi anggota Insulinde cabang Kutaraja dengan jabatan sebagai Secretaris Vereeningin.

Meski sudah masuk dalam kancah politik, ia tetap melanjutkan profesinya sebagai wartawan dengan menjadi spesial korespoden untuk koran Neratja pimpinan H A Salim, setelah koran Neratja/Hindia Baru tidak terbit. Pada masa yang sama ia juga menjadi spesial korespoden Bintang Timur pimpinan Parada Harahap. Di Bintang Timur inilah ia mengunakan nama De Jong Atjeher dalam setiap tulisannya.

Pada tahun 1921 sampai 1926 menjadi Beheerder pada Proef en Demonstatietuinen Peureulak Langsa dan Idi yang berkedudukan di Peureulak untuk memperluas sawah dalam afdeeling Aceh Timur. Bekas-bekas kebun lada dalam Landschap Peureulak dirubah menjadi areal persawahan. Meski sibuk mengurus pertanian di Peureulak, H M Zainuddin tetab menjalani profesi sebagai wartawan di Warta Timur terbitan Medan.[Iskandar Norman]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Iskandar Norman

Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *