,

Hidup dan Mati di Seutas Lumpe

BLANGKEJEREN – Hidup di daerah terpencil memang keras, tapi semangat tak boleh kendur. Seperti masyarakat yang hidup di pedalaman gunung Leuser misalnya. Untuk ke kebun saja, sekedar menanam cabe dan mengambil hasil hutan, mereka harus meniti jembatan dari seutas tali. Satu-satunya pengaman bagi mereka adalah seutas tali lainnya sebagai tempat berpegangan. Salah langkah bisa fatal akibatnya, jatuh ke sungai berbatuan, nyawa jadi taruhannya.

Arwin, pemuda lajang asal Desa Kacang Retak, Kecamatan Putri Betung, Gayo Lues sudah terbiasa dengan hal itu. Jembatan tali kawat itu mereka sebut lumpe. “Sudah bertahun-tahun kami melewati lumpe untuk ke kebun. Kami sangat ingin pemerintah membangun jembatan agar kami mudah ke kebun,” harapnya, Senin, 8 Februari 2016.

Meski harus meniti jembatan “maut” untuk ke kebun, Arwin tidak pernah menyerah pada nasib. Ia tidak sendiri, puluhan masyarakat di sana juga harus melakukan hal yang sama. Untuk membawa hasil kebun mereka harus meniti lumpe agar bisa dijual ke Blangkejeren.

“Kami sudah biasa meniti di atas lumpe, kami tidak boleh takut, karena itu satu-satunya jalan. Kini saya malah bisa meniti lumpe sambil sebelah tangan memegang cabai 30 kilogram di atas kepala, satu tangan lagi memegang tali lumpe. Kami sudah bisa membawa sayur ke kota seperti itu,” lanjutnya.

Saat hasil perkebunan sedang tidak ada, Arwin mengaku tetap pergi kesebrang sungai Agusen itu untuk mencari hasil hutan. Apapun jenis hasil alam yang laku dijual akan dicarinya meskipun harus menanjak gunung, dan berhadapan dengan binatang buas.
“Saya sering mengambil rotan untuk dijual ke pasar, kemudian selebihnya mencari getah pohon ramung, getah ini di masak, dan kemudian dijual di kota Blangkejeren, kegunaanya untuk menjerat burung-burung yang ada di sawah,” ceritanya.

Saban hari, pekerjaan seperti itu selalu dilakoni Arwin, pemuda yang tidak tamat SD ini pernah mencoba berdagang, namun tidak mendapatkan hasil dan tidak bisa menghidupi keluarganya, kekurangan modal menjadi faktor penyebab harus membuang diri ke tegah hutan blantara. Ia juga harus berpisah dengan masyarakat kampung demi menghidupi orang tuanya yang sedikit mengalami keterbelakangan mental.

“Kepada Pemerintah, saya berharap agar memperhatikan orang-orang yang memang membutuhkan perhatian, bukan diberikan perhatian kepada orang yang tidak butuh perhatian, tetapi meminta diperhatikan. Kalau memang ada bantuan, benar-benarlah dilakukan pendataan, berikan bantuan itu kepada yang sangat membutuhkan, bukan kepada orang yang selalu minta bantuan,” katanya berpesan.

Di Kabupaten Gayo Lues, orang yang selalu meniti maut di lumpe bukan saja Arwin, tapi sebagian besar masyarakat pedalaman Gayo Lues masih menggunakan lumpe sebagai sarana penghubung.

Daerah yang masih menggunakan lumpe antara lain: di desa Agusen, Kacang Retak, wilayah Kecamatan Putri Betung, Rikit Gaib, Pantan Cuaca, dan di Kecamatan Tripe Jaya. Selama ini, warga hanya membangun lumpe sendiri demi bisa menyebrangi sungai tanpa meminta bantuan pembangunan jembatan dari pemerintah. [Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *