,

Hendak Main Ayunan Murid SD Dicabuli Tetangga

SAWANG – Salah seorang murid kelas satu sekolah dasar (SD) di salah satu desa di dalam Kecamatan Sawang, dicabuli oleh seorang pemuda berinisial Wir (19) di rumahnya, Selasa, 24 Mei 2016 sekitar pukul 15.00 WIB.

Pelaku yang tak lain adalah tetangga yang juga saudara korban. Awalnya pelaku memanggil korban yang melintas di depan rumahnya. Setelah berada di dalam rumah, pelaku diduga langsung melakukan pencabulan dengan cara memasukkan tangannya ke dalam alat kelamin korban hingga mengeluarkan darah.

Kejahatan seksual tersebut pertama kali terungkap dari pengakuan korban kepada ibunya bernama. Kepada orang tuanya, korban mengaku sakit di bagian selangkangan akibat dicabuli oleh Wir.

“Saat pulang ke rumah, dia memanggil saya dan mengatakan sakit di bagian selangkangannya. Bang Wir (terduga-red) jahat mak, dia membuat kemaluan saya sakit dan berdarah,” ungkap S sang ibu menirukan ucapan anaknya.

Menurut keterangan ibu korban didampingi suaminya, M (40), peristiwa itu terjadi saat korban hendak bermain ayunan di rumah temannya. Saat melintas di depan rumah pelaku, korban dipanggil dan diajak masuk ke dalam rumah, lalu dicabuli pakai tangan. Merasa sakit, lalu korban menangis dan berlari pulang ke rumah.

“Walaupun anak kami mengalami trauma secara psikologis, namun kami tidak mau ribut dan mau menempuh penyelesaian damai. Karena antara keluarga kami dan ibu pelaku masih ada hubungan keluarga dan berdekatan rumah. Namun apa mau dikata kasus yang menimpa putri kami tersebut lebih dulu merebak ke permukaan hingga akhirnya sampai juga ke telinga penegak hukum (polisi),” aku ibu korban.

Kepala desa setempat Zai, mengatakan kasus dugaan pencabulan tersebut mulai merebak secara luas di tengah-tengah masyarakat pasca korban pergi ke sekolah, pada Rabu (25/5) pagi. Saat itu, salah seorang murid SD melihat keanehan cara berjalan korban ada perbedaan dari hari-hari sebelumnya. Kejadian itupun diceritakan kepada guru oleh murid tersebut hingga akhirnya korban dipanggil oleh guru untuk ditanyai perihal yang menimpanya.

Sama seperti pengakuan pada ibunya, korban juga menceritakan perihal yang dialaminya tersebut kepada sang guru sehingga kasus dugaan pencabulan itu sangat cepat merebak di lingkungan sekolah hingga akhirnya menjalar ke tengah – tengah masyarakat setempat. “Informasi dugaan pencabulan tersebut, terus merebak lebih luas lagi pasca ibu korban membawa anaknya tersebut untuk berobat ke Puskesmas Sawang,” ungkap Zai.

Dia menyatakan, awalnya pihak keluarga mau menempuh upaya damai secara kekeluargaan. Namun perangkat desa menolaknya, karena kasus itu bukan masalah sepele.

“Saya pikir tidak ada alasan kasus ini ditutupi sebab kami khawatir kasus serupa akan terulang kembali serta menimpa korban yang lain. Makanya saya dan ketua pemuda berinisiatif melaporkan kasus ini kepada polisi,” ungkapnya.

Kapolres Aceh Selatan AKBP Achmadi SIK yang dikonfirmasi melalui Kapolsek Sawang AKP Mustafa, Kamis, 26 Mei 2016 mengatakan, setelah menerima pengaduan dari aparat Desa Ujong Karang, pihaknya langsung melakukan pengejaran terhadap pelaku yang telah melarikan diri ke luar Aceh Selatan.

“Pelaku berhasil kami tangkap di sebuah rumah saudaranya di salah satu desa di Kuala Batee, Kabupaten Aceh Barat Daya (Abdya), pada Rabu malam, 25 Mei 2016 sekitar pukul 23.50 WIB. Keberadaan pelaku di Abdya diperoleh pihaknya dari informasi yang disampaikan orang tua korban,” kata Mustafa.

Kapolsek Sawang menambahkan, setelah dilakukan proses pemeriksaan, akhirnya pelaku langsung ditetapkan sebagai tersangka dan ditahan di Mapolsek Sawang. Namun karena kasus tindak pidana tersebut menyangkut anak di bawah umur, kata Mustafa, maka untuk kepentingan pengusutan lebih lanjut pihaknya telah menyerahkan tersangka bersama barang bukti ke Unit Perlindungan Perempuan dan Anak Satuan Reserse dan Kriminal (Satreskrim) Polres Aceh Selatan.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *