,

Harimau Pining dan Dendang Didong Sesuk

Harimau Pining sebuah forum penjaga hutan dan sungai di Gayo Lues, terus berupaya melakukan langkah penyelamatan hutan. Seperti pada Kamis, 26 Januari 2017, kumpulan anak muda peduli alam ini duduk urung rembuk, berdiskusi dan menyusun strategi.

Diskusi santai namun serius itu diselingi dengan pertunjukan didong sesuk, didong yang dimainkan sambil berdiri di siang hari. Lazimnya sering didong dimainkan malam hari sambil duduk. Namun Jamil dan Sabil memainkannya siang hari sambil berdiri.

“Aeh e jernih karna tebang pilih kayu i uten, etni nebang i pucuk ni aih kati selisih mara bahaya,” Jamil dan Sabil kompak bersenandung syair. Maknanya, air yang mengalir di sungai begitu jernih, karena kayu ditebang dipilih untuk digunakan, jangan mengambil kayu di hulu sangat supaya jauh dari marabahaya.

Jamil mengaku, melakukan pertunjukan didong siang hari belum pernah mereka lakoni. Tapi bersama Sabil ia bersedia hadir dan memainkan didong sesuk di kantor Harimau Pining demi mengkampanyekan penyelamatan hutan di negeri seribu bukit tersebut.

“Kami terharu dan siap membantu program kamunitas Harimau Pining dengan kemampuan yang kami miliki di bidang seni, khususnya didong untuk mengkampanyekan perlindungan hutan,” tegasnya.

Masyarakat sangat antusias menyaksikan pertunjukan didong sesuk tersebut. Didong sesuk yang dibawakan Jamil dan Sabil bukan hanya semata-mata hiburan, tapi juga kampanye untuk membangun kesadaran masyarakat tentang pentingnya menjaga kelestarian alam.

Ketua Forum Penjaga Hutan dan Sungai Harimau Pining, Abu Kari alias Aman Jarum menjelaskan, Harimau Pining merupakan sebuah wadah tempat berkumpulnya anak muda yang peduli lingkungan. Acara itu mereka gelar sebagai langkah awal membangun konsolidasi yang baik dengan berbagai elemen masyarakat, agar bisa bergerak bersama dan terorganisir dalam menjaga kelestarian alam.

“Kami berdiskusi dengan tokoh masyarakat mengenai isu lingkungan, seperti peralihan kuasa beberapa kawasan hutan di seputaran Pining yang akan digarap oleh investor asing, Seperti Keberadaan PT. Wayang Mining Gayo Indo yang telah mengarap hutan Air Putih seharusnya dapat mempertimbangan keberdaan masyarakat adat setempat untuk menghentikan niatnya mengarap kawasan hutan menjadi areal tambang,” jelas Aman Jarum.

Aman Jarum menambahkan, investasi untuk proye besar PT. Karminzu yang sedang melaksanakan serangkaian kegiatan di kawasan desa Lesten, dari awal sudah diperigatkan harus membuka diri kepada warga lokal. Keberadaan proyek ini jangan sedikitpun merugikan masyarakat setempat, mengingat ketergantungan warga lokal terhadap keberadaan hutan adalah bagian dari sumber kehidupan bagi masyarakat Pining.

“Kami sering menyuarakan kearifan lokal guna menjaga kelestarian hutan dan sungai, seharusnya menjadi pijakan utama dari segala kebijakan, mengingat hanya warga setempatlah yang menjadi pemilik dan penguasa sah kawasan hutan yang ada pada teradisi adat istiadat mereka secara turun temurun,” tambahnya.

Ia melanjutkan, pihaknya sering mendengar pembangunan untuk mengexplotasi kekayaan alam adalah isu untuk mengangkat harkat dan martabat warga lokal untuk mendapakan kesempatan dipekerjakan, namun mereka selalu bertanya, masyarakat yang mana telah diangkat menjadi pekerja dan telah mendapatkan kehidupan yang layak?

“Siapa yang sudah mendapatkan kesejahtraan dengan adanya pembukaan Tambang itu, anak siapa, Aman siapa, di mana rumah para pekerja yang telah dipekerjakan, dan dapat gaji berapa, sementara pelaksana Proyek ini terus bekerja dan merusak hutan di sekeliling tempat tingal kami,” tegasnya.

Menurutnya, jika seandainya pun nanti beberapa warga lokal mendapatkan gaji dari perusahaan, kepastian hidup yang layak masih menjadi pertanyaan utama bagi warga, karna hutan tempat tinggal mencari nafkah dan bertahan hidup telah dirampas perusahaan tersebut.

“Konsolidasi ini semoga memberikan semangat baru khususnya bagi kami warga Pining yang mempunyai keyakinan bahwa tanah peningalan endatu kami adalah warisan yang harus dijaga secara turun temurun untuk kehidupan generasi yang akan datang. Kami berharap semua pihak bisa menghargai keraifan lokal dalam menjaga lingkungan,” pungkasnya.[Win Porang]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *