Hari Tua dan Malam-Malam Sepi Ali Hasjmy

0
307

Sakit dan sepi dalam kesunyian rumah sakit dialami Prof Ali Hasjmy di hari tuanya. Beruntung ia bisa menulis, sehingga dalam kesepian pun ia masih bisa produktif. Sebuah buku kumpulan puisi lahir dari ranjang rumah sakit Metropolitan Medical Centre (MMC), Kuningan, Jakarta, tahun 1992.

Antologi puisi yang lahir di rumah sakit itu diberi judul “Malam-Malam Sepi di Rumah Sakit MMC.” Menariknya, buku kumpulan puisi ini didesain oleh anaknya sendiri, Darma Ali Hasjmy. Versi kedua buku ini dicetak di Percetakan Gua Hira, Banda Aceh oleh penerbit Yayasan Pendidikan Ali Hasjmy.

Sebagai orang yang tergeletak di ranjang MMC, Ali Hasjmy paham betul pada makna dan arti seorang teman. Bahkan dengan perawat yang rutin menjenguknya sekalipun. Ketika buku kumpulan puisi itu sudah dicetak, dari Banda Aceh ia mengirim khusus antologi puisinya itu kepada para dokter yang merawatnya.

Ia tulis nama mereka satu-persatu, diantaranya: dokter Saifullah, dokter Sarwono, dokter Baini, dokter Nako, serta beberapa dokter lainnya. Begitu untuk perawat yang rutin mengawasi kesehatannya selama menjalani pengobatan di MMC. Ia memangil mereka dengan sebutan “Para dara perawat yang manis.”

Bukan hanya untuk dokter dan perawat saja, buku puisi itu juga dikirim satu persatu kepada orang-orang yang pernah menjengguknya dan mengirim karangan bunga selama perawatan di rumah sakit MMC, salah satunya adalah Wakil Presiden Republik Indonesia, Sudarmono. Begitulah cara Ali Hasjmy menghargai mereka yang peduli pada kesunyiannya di hari tua.

Antologi puisi tersebut, diawali dengan pusi berjudul “Derita” yang ditulis pada 34 Juni 1992. Ali Hasjmy menulis:

Di keheningan waktu,
yang begitu menghimpit,
engkau derita datang lagi,
meski kedatanganmu,
untuk mencabik-cabik,
sisa-sisa hidupku,
di malam yang begini gersang,
engkau terasa seperti teman.

Darahku,
sudah tak menguncur lagi,
jeritan perih,
sudah tidak mengusik,
pada saat keterasingan begini,
segalanya telah larut,
dalam kasih sayang Tuhan.


Ali Hasjmy yang saat itu dirawat di ruang super VIP Lilies Room, mengabadikan perlakukan bersahaja para perawat untuk dalam bait-bait puisi “Nafsu” Ia memuji mereka, yang ketika orang lain sudah bergelut dengan mimpi indahnya, tapi mereka dengan keihklasan merawatnya, yang dalam bahasa puisi dijelaskan dengan bait “mereka mengelus puncak-puncak deritaku.

Bagi Ali Hasjmy apa saja bisa jadi puisi, begitu juga ketika dalam kesunyian kamarnya, ia seolah bercengkrama dengan sebuah lukisan bunga lili. Karena itu pula kamar VIP yang tempatnya dirawat dinamai Lilie Room. Ali Hasjmy membuat lukisan bunga lili itu seolah hidup dalam puisinya.

Bahasa personifikasi yang dimainkan Ali Hasjmy berhasil membuat kesepiannya terobati hanya lewat percakapan dengan sebuah tulisan. Ia namai lukisan bunga lili itu sebagai “gadis cantik” yang ditulisnya dalam puisi “Bunga Lili” salah satu baitnya seperti kutipan di bawah ini.

Seorang gadis cantik
Menatapku dengan mata berbinar
Namaku Lili, Profesor
Jelmaan ciptaan tangan manusia
Kemudian mereka gila memujanya

Ungkapan terima kasih Ali Hasjmy kepada orang-orang yang peduli padanya selama menjalani perawatan, tidak hanya ditunjukkan dengan mengirim buku puisi setelah ia sehat, tapi juga mengukir nama-nama mereka dalam puisinya. Ia menulisnya dalam puisi “Syukur.” Beberapa nama yang disebuatnya dalam bait, Rangkulan hangat Wapres Sudarmono, lewat ciuman lembut Menteri Koperasi Bustanil Arifin, lewat mata bening Gubernur Aceh Ibrahim Hasan.

Antologi puisi “Malam-Malam Sepi di Rumah Sakit MMC” ini juga menjadi semacam dokumentasi hari-hari Ali Hasjmy menjalani perawatan. Diantara sekian banyak puisi, diselingi foto-foto orang-orang yang menjenguknya, para perawat yang memantau kesehatannya, hingga foto-foto proses pengobatan dan penyembuhannya kakinya yang dioperasi.

Bagi mereka yang menerima kiriman antologi puisi ini, tentu punya kenangan tersendiri dengan Ali Hasjmy, apa lagi foto-foto mereka dimuat dalam antologi tersebut.

Ali Hasjmy selain sebagai seorang politikus dan ulama, ia juga dikenal sebagai seorang wartawan dan sastrawan. Pada masa perjuangan kemerdekaan, karya-karyanya dimuat di berbagai media nasional. Ia memakai beberapa nama pena, seperti Aria Hadiningsum, Al Hariry dan Asmara Hakiki.[Iskandar Norman]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here