,

H Karimun Usman: Hargai Orang yang Telah Berbuat

BANDA ACEH – Kisruh jelang musyawarah provinsi (Musprov) Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh membuat H Karimun Usman angkat bicara. Mantan dewan penasehat KADIN Aceh ini berharap pihak-pihak yang ingin mengacaukan suasana untuk intropeksi diri. Menurutnya, kalau tidak bisa berbuat, hargailah orang yang telah berbuat.

H Karimun Usman yang juga Ketua PDI-P Aceh ini menjelaskan, tidak ada yang salah dengan kepengurusan KADIN Aceh sekarang, semua telah sesuai dengan AD/ART. Soal ketua KADIN Aceh yang menjabat tiga periode itu juga suatu kekhususan bagi Aceh dan legalitasnya diakui serta disetujui oleh KADIN Indonesia.

“Saya sudah tanya langsung itu kepada salah seorang pengurus KADIN Indonesia. Mereka jelaskan itu sah dan tak masalah, karena Aceh daerah otonomi khusus. Yang jadi pertanyaan saya adalah kok baru sekarang dipermasalahkan jelang Musprov KADIN Aceh. Dulu-dulunya ke mana?” tanya H Karimun Usman.

H Karimun Usman mengungkapkan, sebagai orang yang pernah di KADIN Aceh, tahu betul bagaimana KADIN Aceh itu dibangun, mulai dari tidak punya kantor sampai kini punya kantor berlantai enam.

“Saya ikut terlibat di sana, bagaimana kita membuat Konggres Saudagar Aceh, menghadirkan Wakil Presiden Jusuf Kala untuk membuka acara. Alhamdulillah berhasil,” lanjutnya.

Masih menurut H Karimun Usman, pada periode pertama Ketua KADIN Aceh dijabat oleh H Firmandez, dengan kegigihannya bersama para pengurus berhasil membangun Balai Saudagar Aceh sebagai kantor KADIN Aceh sekarang, tapi saat itu hanya baru mampu dibangun basement dan lantai satu saja.

“Pak Firmandez kemudian terpilih menjadi salah seorang anggota DPRA, upaya mencari dana dan donatur untuk pembangunan kantor KADIN Aceh terus dilakukan hingga rampung sampai enam lantai. Tidak mudah membangun KADIN Aceh dan dunia usaha di Aceh masa itu, karena kita baru keluar dari konflik dan baru mengalami musibah gempa dan tsunami,” tegas Karimun Usman.

Selain itu kata H Karimun Usman, akibat konflik dan musibah tsunami, dunia usaha di Aceh mati suri, banyak pengusaha yang terlilit kredit macet, sehingga Aceh menjadi zona merah untuk penyaluran kredit. Tidak ada bank yang mau menyalurkan kreditnya di Aceh.

“Tapi kita perjuangkan itu, kami bersama Pak Firmandez dan pengurus KADIN Aceh lainnya menjumpai Wapres Jusuf Kalla dan Direktur Bank Indonesia Bu Mirando Gultom, menyampai persaolan-persoalan yang dihadapi pengusaha di Aceh. Akhirnya kita berhasil meyakinkan pemerintah untuk melakukan penjadwal ulang penyelesaian kredit macet pengusaha Aceh, serta bank-bank menyalurkan kembali kreditnya untuk pengusaha di Aceh,” ungkap Karimun Usman.

Bukan itu saja, kata H Karimun Usman, KADIN Aceh di bawah kepemimpinan H Firmandez juga berhasil meyakinkan pemerintah untuk memberikan proteksi bagi para pengusaha daerah, sehingga keluar Peraturan Gubernur (Pergub) tentang kebijakan agar setiap pekerjaan lelang di Aceh dikhususkan bagi perusahaan Aceh, terutama untuk pekerjaan Rp 1 miliar ke bawah, sehingga pengusaha Aceh terproteksi.
“Ini patut saya sampaikan agar setiap orang paham bahwa KADIN Aceh sudah berbuat. Hargailah orang yang telah berbuat, jangan memperkeruh suasana menjelang Musprov saja, kalau ingin berkompetisi, berkompetisilah secara sehat,” harap H Karimun Usman.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *