H Firmandez: Tekan Angka Pengangguran, Aceh Harus Perbanyak Lembaga Pendidikan Vokasi

0
250

BANDA ACEH – Untuk menekan angka pengangguran dan penyerapan tenaga kerja, Pemerintah Aceh harus menggiatkan pendidikan vokasi, sesuai kebutuhan zaman. Apa lagi secara nasional pemerintah menargetkan akan membangun 500 politeknik hingga tahun 2024.

Hal itu disampaikan tim pemantau otonomi khusus (Otsus) Aceh, Papua, dan Keistimewaan Yogjakarta, Senin, 20 Mei 2019. Menurut anggota DPR RI asal daerah pemilihan (dapil) Aceh 2 ini, pendidikan vokasi merupakan sistem pendidikan tinggi yang diarahkan pada penguasaan keahlian terapan tertentu sesusia dengan kebutuhan pangsa pasar ketenagakerjaan.

“Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto juga sudah menegaskan bahwa Kementerian Perindustrian akan fokus untuk memacu kompetensi sumber daya manusia di bidang industri melalui pendidikan vokasi yang berorientasi pada kebutuhan pasar kerja atau demand driven. Ini juga sudah masuk dalam RPJM 2020-2024 dengan target 500 politeknik yang yang link and match dengan industri,” jelas H Firmandez.

Karena itu lanjut H Firmandez, Pemerintah Aceh juga harus menyambut hal itu, menyelaraskannya dengan program nasional, sehingga dari 500 lembaga pendidikan vokasi yang ditargetkan oleh pemerintah tersebut, sebagiannya bisa dibangun di Aceh di berbagai tingkatan, baik tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) maupun tingkat perguruan tinggi.

“Aceh harus mengambil kesempatan ini, sehingga nantinya terciptanya sumber daya manusia yang handal, yang sesuai dengan kebutuhan zaman dan memiliki daya saing, karena kebutuhan tenaga kerja ke depan perlu spesifikasi dan berbasis kompetensi. Apa lagi pemerintah akan memberikan kemudahan perizinan dan keringanan pajak, jadi Aceh harus ambil peluang ini,” lanjut H Firmandez.

Untuk itu kata H Firmandez, Pemerintah Aceh melalui Dinas Pendidikan dan lembaga terkait lainnya harus jemput bola ke pemerintah pusat, sehingga dengan banyaknya pendidikan vokasi di Aceh nantinya, kebutuhan tenaga kerja masa depan yang berorientasi pada pengembangan industri 4.0 akan diisi oleh generasi muda Aceh, bukan oleh tenaga kerja luar daerah.

“Sasaran akhirnya nanti ke sana, dengan pendidikan vokasi yang berbasis kompetensi, peluang kerja di daerah akan diisi oleh tenaga-tenaga kerja handal dari Aceh sendiri. Sehingga nantinya tidak ada lagi istilah buya krueng teudong-dong buya tamong meuraseuki. Ini harus diupayakan dari sekarang,” pungkas H Firmandez.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here