H Firmandez: Peringatan Damai Aceh Jangan Hanya Seremonial, Hargai Para Pelaku Perdamaian

0
158

BANDA ACEH – Peringatan 14 tahun Perdamaian Aceh diharapkan jangan hanya sebatas seremonial semata, tapi harus dijadikan momentum untuk penguatan demokrasi. Pemerintah Aceh juga seharusnya memberi penghargaan kepada para pelaku dan peletak pondasi perdamaian Aceh.

Hal itu disampaikan Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, H Firmandez, Kamis, 15 Agustus 2019. Menurut anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Aceh 2 ini, selama ini para pelaku perdamaian di Aceh seolah telupakan, padahal mereka terlah mempertaruhkan segalanya untuk terwujudnya perdamaian di Aceh.

“Kita tak boleh lupa, tanpa mereka tak akan terwujud perdamaian Aceh yang kita nikmati sekarang ini. Baik mereka itu dari kalangan pemerintah maupun dari mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), serta tokoh ulama dan elemen sipil Aceh yang terlibat dalam upaya mendamaikan konflik Aceh,” ujar H Firmandez.

Ketua Departemen Hubungan Antar Lembaga Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar ini menambahkan, anugerah perdamaian Aceh juga bisa diberikan oleh lembaga-lembaga perguruan tinggi di Aceh, baik Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) maupun Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, Banda Aceh sebagai lembaga yang berkompeten. Anugerah yang diberikan bisa dalam bentuk gelar Doctor Honoris Causa (HC), sementara Pemerintah Aceh juga bisa memberikan penghargaan dalam berbagai bentuk.

“Sudah 14 tahun perdamaian Aceh kemana sekarang para pelaku damai Aceh, ini yang harus menjadi perhatian bersama. Kita harus menghargai mereka, kalau kita orang Aceh sendiri tidak menghargai para pelaku perdamaian Aceh, siapa lagi yang akan memperhatikan mereka?” Tanya H Firmandez.

H Firmandez menyarankan Pemerintah Aceh bersama Unsyiah dan UIN Ar Raniry bisa membentuk tim pengkaji dan penilai tingkat keterlibatan para tokoh dan siapa saja yang layah untuk diberikan anugerah perdamaian, baik dari pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) maupun untuk mereka-mereka yang mewakili Pemerintah Republik Indonesia.

H Firmandez menyebutkan beberapa nama yang layak untuk menerima anugerah perdamaian Aceh diantaranya: Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bachtiar Abdullah, Tgk Muhammad Usman Lampoh Awe, Teuku Kamaruzzaman, Tgk Amni bin Ahmad Marzuki, Amdy Hamdany, Sofyan Ibrahim Tiba, Irwandi Yusuf dan Muzakkir Manaf selaku panglima GAM yang membawa pasukannya untuk menerima perdamaian.

Kemudian di pihak Perintah Republik Indonesia ada nama-nama seperti: Jusuf Kala, Hamid Awaluddin, Farid Husein, Sofyan Djalil, Amran Zamzami, Mahyiddin Adan dan beberapa tokoh lainnya yang sudah terlibat sejak All Inclusive Dialogue hingga perdamaian Aceh ditandatangani.

Sementara dari kalangan ulama dan tokoh sipil Aceh ada nama-nama seperti: Tgk Imam Suja’, Prof Hakim Nyak Pha, Prof Isa Sulaiman, Prof Dr Tgk Muslim Ibrahim MA, Prof Alyasak Abubakar, Prof Daniel Djuned, Prof Yusni Sabi, Ir Abdul Gani Nurdin, serta beberapa nama lainnya.

“Kita sudah 14 tahun menikmati perdamaian Aceh, apa yang telah kita berikan kepada mereka yang dengan reputasi dan bahkan nyawanya telah mengupayakan terwujudnya Aceh yang damai ini, kita harus mensyukuri nikmat damai ini, dan salah satu cara mensyukurinya adalah dengan menghargai jasa-jasa mereka yang merintis dan membuat terwujudnya perdamaian ini,” tegas H Firmandez.

Selain itu tambah H Firmandez, perdamian Aceh harus terus dirawat dan diisi dengan melakukan penguatan demokrasi, sehingga tidak terjadi persinggungan di dalam masyarakat, karena selama perdamaian Aceh sudah menunjukkan banyak kemajuan dengan berbagai capaian.

“Upaya dan langkah-langkah untuk merawat perdamaian harus terus dilakukan, agar damai Aceh dan proses demokrasi di Aceh tidak tercederai. Aceh bisa menjadi tempat study perdamian bagi negara-negara yang sedang dilanda konflik,” pungkas H Firmandez.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here