H Firmandez: Pembangunan IPDN Aceh Sudah Sangat Berliku, Jangan Sampai Gagal Lagi

0
409

BANDA ACEH – Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh berharap pembangunan kampus Instutut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Regional Aceh di Jantho tidak gagal lagi. Menurutnya pembangunan kamus itu sudah sangat berliku, dari tahun 2014 hingga kini sudah beberapa kali pindah lokasi.

“Sejak dulu sudah kita perjuangkan ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) untuk tetap membangun kampus Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) Regional di Aceh, tapi karena berbagai persoalan hingga kini belum wujud,” ungkap H Firmandez.

Anggota Komisi VII DPR RI ini menambahkan, pembangunan IPDN Regional Aceh awalnya direncanakan dibangun di Kota Sabang, kemudian digeser ke Janto, Kabupaten Aceh Besar, lalu pindah lagi ke Kabupaten Bireuen, dan sekarang dikembalikan lagi ke Jantho, Aceh Besar.

H Firmandez mengungkapkan, ketika lokasi pembangunannya dialihkan ke Bireuen, pihaknya bersama Bupati Bireuen, H Saifannur sudah menjumpai Rektor IPDN di Jatinagor membicarakan hal tersebut. Tapi kemudian ternyata juga tidak jadi di Bireuen, tapi dikembalikan ke Jantho.

“Kita menginginkan IPDN Regional itu tetap di Aceh, tak masalah di daerah Aceh bagian mana. Dulu karena proses yang panjang dan pindah-pindah lokasi itu, kita sempat khawatir akan dialihkan ke luar Aceh, makanya kita terus perjuangkan agar tetap di Aceh,” tegas anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Aceh 2 tersebut.

Selain itu kata H Firmandez, lambatnya realisasi pemangunan IPDN di Aceh menjadi tanda tanya besar. Jika dirunut ke belakang, pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) pernah diusulkan dibangun di Jantho atau Saree, Aceh Besar.

Kemudian dalam masa pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) diusulkan untuk dibangun di Sabang, waktu itu Jokowi sudah setuju dan mengeluarkan surat ihwal rencana pembangunan kampus itu di Sabang. Malah, pada November 2014 lalu, Tim IPDN yang dipimpin langsung oleh rektor, bersama guru besar IPDN dan rombongan sudah melakukan peninjauan ke Kota Sabang, dan Pemko Sabang juga sudah menyediakan lahan seluas 100 hektar. Itu pun kemudian tidak jadi.

H Firmandez menegaskan, pembangunan kampus IPDN di Aceh sangat penting. Keberadaan kampus lembaga tinggi kedinasan bisa mencetak kader pemerintahan di daerah. Lulusan IPDN dibutuhkan untuk menjadi tenaga administrator dan birokrat di pemerintahan.

“Anak-anak Aceh juga tidak lagi harus ke luar daerah untuk belajar ilmu pemerintahan. Kita harus ciptakan generasi yang mapan di bidang birokrasi dan pemerintahan sejak dini, makanya saya mendorong agar kampus IPDN ini segera dibangun di Aceh,” harap H Firmandez.

Selain itu, H Firmandez juga meminta kepada Pemerintah Aceh dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar untuk membuat segala persiapan dan kesiapan Aceh dalam pembangunan kampus IPDN tersebut, seperti penyediaan lahan, pembangunan berbagai sarana pendukung, seperti sarana olahraga dan komplek perumahan dosen, sehingga kelancaran pembangunan IPDN Regional Aceh terjamin.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here