H Firmandez Minta Pemerintah Tuntaskan Pembangunan Pelabuhan Lapang

0
392

LHOKSUKON – Anggota Komisi VII DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Aceh 2, H Firmandez, meminta kepada Pemerintah Aceh untuk menuntaskan pembangunan Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) di Desa Kuala Cangkoi, Kecamatan Lapang, Kabupaten Aceh Utara.

Pasalnya, pembangunan pelabuhan yang sudah dimulai sejak tahun 2009 itu hingga kini belum tuntas, padahal masyarakat setempat telah merelakan pembebasan lahannya untuk pelabuhan dengan harga murah.

“Saat pembebasan lahan, masyarakat terutama nelayan berharap dengan adanya pelabuhan itu bisa memudahkan mereka, bisa memberi nilai lebih bagi hasil tangkapan mereka. Tapi sampai sepuluh tahun belum juga tuntas, ini artinya keseriusan pemerintah sangat kurang, padahal warga sudah mau melepas tanahnya,” jelas H Firmandez.

Yang lebih ironis lagi kata H Firmandez, status pelabuhan itu kini juga turun, dari Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) menjadi Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI). Ini juga menjadi kerugian bagi daerah dan masyarakat setempat, karena jika status pelabuhan PPN, aktivitas di pelabuhan akan lebih beragam dan bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak.

“Dari segi waktu sudah rugi, dari segi anggaran juga, karena bangunan yang sudah dibangun dengan anggaran besar itu sampai sekarang terbengkalai, tidak termanfaatkan, manajeman pembangunan yang seperti ini harus ditinggalkan, pemerintah harus lebih cerdas,” lanjut H Firmandez.

H Firmandez yang juga Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, Papua, dan Keistimewaan Yogjakarta ini meminta Pemerintah bisa segera membangun infrastruktur Pelabuhan Lapang hingga pelabuhan tersebut bisa optimal. Ia menilai Pelabuhan Lapang bisa menjadi salah satu lumbung Pendapatan Asli Daerah (PAD) bagi Kabupaten Aceh Utara secara khusus, dan Provisi Aceh secara umum. Apa lagi letaknya sangat berdekatan dengan Kota Lhoksukon, ibu kota Aceh Utara.

“Pelabuhan Lapang ini dulunya pelabuhan eskpor impor yang digunakan oleh para saudagar Aceh Utara pada zaman kolonial, baik dari Lhoksukon, Cot Girek, Matang Kuli, Samponiet, Seunudon, Simpang Muling, Pirak dan saudagar-saudagar sekitar Aceh Utara, seharusnya kalau dikelola dengan baik bisa lebih maju, bukan sekedar menjadi pangkalan pendaratan ikan seperti sekarang,” tambah H Firmandez.

Masih menurut H Firmandez, Pelabuhan Lapang dari sisi bisnis sangat potensial untuk dikembangkan, bahkan dalam catatannya sebagai mantan Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Aceh, sudah beberapa kali investor luar negeri menyatakan minatnya untuk investasi di Lapang, salah satunya dari IGO Company Limited Thailand yang tertarik pada investasi pengembangan dan pengelolaan industri perikanan, karena Aceh Utara menjadi salah satu penghasil bahan baku ikan yang cukup melimpah.

“Masalahnya lagi-lagi pada kesediaan infrastruktur kita, ini yang selalu menjadi kendala di mana-mana, ketika ada investasi masuk, kita tidak siap dengan fasilitas pendukung, makanya rakyat pantas kecewa kepada Pemerintah Aceh yang sudah sepuluh tahun membiarkan Pelabuhan Lapang terbengkalai,” pungkas H Firmandez.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here