H Firmandez Minta Pemerintah Revitalisasi Sabang untuk Ambil Potensi Selat Malaka

0
364

JAKARTA – Pemerintah diminta untuk merevitalisasi keberadaan Sabang sebagai pintu masuk Selat Malaka. Ratusan triliun potensi pendapatan maritim di Selat Malaka terabaikan. Potensi itu lebih banyak dinikmati oleh Malaysia dan Singapura.

Hal itu disampaikan tim pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh, Papua dan Keistimewaan Yogjakarta, H Firmandez, Kamis, 4 Juli 2019. Menurutnya, selat Malaka yang terbentang dari Sabang sampai Singapura, sepanjang 800 kilo meter merupakan h pusat lalu lintas pelayaran yang sangat potensial.

Setiap tahunnya hampir 100.000 kapal melewati Selat Malaka. Jika sebagiannya saja singgah di pelabuhan Sabang, merupakan potensi besar untuk pendapatan nasional dan Aceh. Indonesia harus mengambil contoh seperti apa yang dilakukan Malaysia pada tahun 1997 yang membangun pelabuhan khusus kontainer seluas 5.000 hektar di Tanjung Pelepas, Johor Baru.

“Jadi selama ini yang menikmati potensi Selat Malaka itu hanya Malaysia dan Singapura, ini harus jadi perhatian pemerintah. Kalau 20 persen saja kapal yang melewati Selat Malaka itu singgah di Sabang untuk mengisi air, bahan bakar, serta kebutuhan kapal lainnya, puluhan triliun devisa akan masuk. Jadi kita berharap pemerintah benar-benar memanfaatkan potensi Selat Malaka dan tak lagi mengabaikan Sabang,” jelas H Firmandez.

H Firmandez yang juga Wakil Ketua Umum Asosiasi Perdagangan Barang, Distributor, Keagenan dan Industri Indonesia (ARDINDO) Bidang Distributor dan Keagenan ini menambahkan, Indonesia juga bisa memaksimalkan pemanfaatan potensi tersebut, salah satunya melalui pelabuhan bebas Sabang.

“Keberadaan Sabang yang pernah ditetapkans ebagai pusat perkembangan ekonomi terpadu, harus dibangun menjadi international harbour, menjadi tempat singgah kapal-kapal international yang melintas Selat Malaka,” ungkapnya.

H Firmandez menambahkan, pada masa pemerintah kolonial Belanda berkuasa, Sabang juga dijadikan sebagai Kolen Station, pelabuhan alami yang dioperasikan sejak tahun 1881. Awalnya pelabuhan Sabang dijadikan pangkalan batu bara angkatan laut kerajaan Belanda, tapi kemudian dikembangkan menjadi pelabuhan ekspor impor di Sumatera. Tahun 1887 Sabang Haven bersama Firma Delange membangun fasilitas dan sarana penunjang pelabuhan.

“Sabang kemudian dijadikan pelabuhan bebas pada tahun 1895 dengan sebutan Vrij Haven yang dikelola oleh Sabang Maatschaapij. Jadi, Sabang itu sudah mejadi pelabuhan internasional sejak zaman dahulu. Ini yang harus dibangkitkan kembali,” harapnya.[HK]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here