,

H Firmandez Minta Pemerintah dan Perguruan Tinggi Apresiasi Peran Pelaku Perdamaian Aceh

BANDA ACEH – Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh di DPR RI, H Firmandez, meminta pemerintah, khususnya Pemerintah Aceh dan Perguruan Tinggi di Aceh seperti Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) dan Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry, untuk memberi apresiasi kepada para pelaku perdamaian di Aceh.

H Firamndez menilai, kesannya selama ini para pelaku perdamaian di Aceh seolah terabaikan, padahal mereka terlah mempertaruhkan segalanya untuk terwujudnya perdamaian di Aceh.

“Kita tak boleh lupa, tanpa mereka tak akan terwujud perdamaian Aceh yang kita nikmati sekarang ini. Baik mereka itu dari kalangan pemerintah maupun dari mantan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), serta tokoh ulama dan elemen sipil Aceh yang terlibat dalam upaya mendamaikan konflik Aceh,” ujar H Firmandez.

Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Aceh 2 ini melanjutkan, untuk menghargai jasa para tokoh peletak dasar perdamian di Aceh, lembaga yang berkompeten memberi penghargaan itu adalah perguruan tinggi. Untuk itu ia menyarankan agar Unsyiah dan UIN Ar Raniry selaku dwi tunggal jantong hate rakyat Aceh bisa mengapresiasikannya.

“Bisa dalam bentuk pemerian gelar doctor honoris causa (HC) bisa juga pemberian anugerah perdamaian. Kita harus menghargainya, kalau orang Aceh sendiri tidak menghargai para pelaku perdamaian di Aceh, orang luar tak mungkin melakukannya,” lanjut Ketua Departemen Hubungan Lembaga Politik DPP Golkar tersebut.

H Firmandez menyarankan, Pemerintah Aceh bersama Rektorat Unsyiah dan UIN Ar Raniry bisa membentuk tim penilai dan pengkaji tingkat keterlibatan tokoh dan siapa saja yang layak untuk diberikan anugerah perdamaian.

“Katakan saja seperti Muzakkir Manaf, selaku panglima GAM posisinya saat itu sangat menentukan, apakah membawa pasukannya ke dalam damai atau terus dalam perjuangan yang artinya melanjutkan perang. Kerelaanya menerima damai dan mengabaikan tuntutan kemerdekaan, itu patut diapresiasi. Dan tentu saja ada tokoh-tokoh lain di belakangnya yang juga harus dipertimbangkan,” lanjut H Firmandez.

H Firmandez merincikan, beberapa nama tokoh pelaku perdamaian Aceh itu antara lain adalah mereka-mereka yang terlibat dalam perundingan, seperti Malik Mahmud, Zaini Abdullah, Bachtiar Abdullah, Tgk Muhammad Usman Lampoh Awe, Teuku Kamaruzzaman, Tgk Amni bin Ahmad Marzuki, dan Amdy Hamdani, Sofyan Ibrahim Tiba, Irwandi Yusuf dan Muzakkir Manaf selaku pelaku di lapangan.

Sementara dari pemeritah Indonesia seperti Jusuf Kala, Hamid Awaluddin, Farid Husein, Sofyan Djalil, Amran Zamzami, Mahyiddin Adan dan beberapa nama lainnya, yang mereka sudah terlibat sejak All Inclusive Dialogue hingga perdamaian ditandatangani.

Sementara dari ulama dan tokoh sipil Aceh ada Tgk Imam Suja’, Prof Hakim Nyak Pha, Prof Isa Sulaiman, Prof. Dr Tgk Muslim Ibrahim MA, Prof Alyasak Abubakar, Prof Daniel Djuned, Prof Dr. Yusni Sabi MA, Ir Abdul Gani Nurdin, dan beberapa nama lainnya.

“Bahkan kalau perlu kepada Martin Griffith selaku Direktur Henry Dunant Centre di Jenewa harus diberikan, karena HDC pelaku pertama yang berusaha mendamaikan Aceh, kemudian Pieter Feith yang melanjutkannya melalui Aceh Monitoring Mission yang terus memantau Aceh pada awal-awal perdamaian,” ungkap H Firmandez.

Selain itu kata H Firmandez, Pemerintah Aceh juga disarankan untuk membangun museum perdamaian Aceh, yang di dalamnya mengabadikan berbagai hal terkait proses perdamaian Aceh.

“Museum tsunami saja begitu megah kita buat. Apa lagi museum perdamaian, ini harus dipikirkan, agar generasi Aceh selanjutnya bisa paham dan tahu tentang sejarah perdamaian Aceh secara utuh,” pungkas H Firmandez.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *