,

H Firmandez Dukung Perluasan Ibu Kota Provinsi Aceh Melalui Konsep Greater City

BANDA ACEH – Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh di DPR RI, H Firmandez sangat mendukung perluasan ibu kota Provinsi Aceh ke Kabupaten Aceh Besar. Pembangunannya harus dilakukan dengan konsep greater city Banda Aceh – Aceh Besar, tanpa menggeser batas wilayah.

Menurut anggota Komisi V DPR RI yang membidangi urusan infrastruktur dan perhubungan ini, Pemerintah Pusat melalui Kementerian Agraria dan Tata Ruang melalui Rencana Pembangunan Jangkan Menengah (RPJM) 2015-2019 telah meninkatkan status Banda Aceh sebagai pusat kegiatan nasional, sehingga membutuhkan pembangunan infrastruktur yang memadai.

Namun, karena luas Banda Aceh yang relatif kecil, perlu dilakukan perluasan ibu kota provinsi Aceh melalui pembangunan dengan konsep greater city antara Banda Aceh dan Aceh Besar.

“Tidak memungkinkan lagi semua fasilitas dan infrastruktur ibu kota provinsi Aceh dibangun di dalam wilayah administratif Kota Banda Aceh, karena Banda Aceh ini relatif kecil, jadi perlu ada kolaborasi dengan Aceh Besar. Saya berharap konsep greater city ini bisa diwujudkan segera, seperti apa yang sudah diterapkan di Jakarta Bogor Depok Tangerang dan Bekasi yang dikenal sebagai kawasan Jabodetabek,” jelas H Firmandez.

Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (Dapil) Aceh 2 ini melanjutkan, dengan perluasan ibu kota provinsi Aceh ke wilayah Aceh Besar tersebut, distribusi ekonomi tidak lagi hanya tersentral di Kota Banda Aceh saja, tapi terdistribusi ke wilayah-wilayah di sekitarnya.

“Greater Banda Aceh – Aceh Besar ini bermakna saling mengintegrasikan, artinya sama-sama saling menunjang dan menguntungkan. Mulai sekarang Pemerintah Aceh Besar dan Pemerintah Kota Banda Aceh bersama Pemerintah Provinsi Aceh harus memikirkan konsep yang jelas untuk pengembangannya, saya di DPR RI di komisi yang membidangi infrastruktur siap membantu mewujudkannya, ” lanjut H Firmandez.

Sebagaimana diketahui, luas Kota Banda Aceh hanya 59,03 Km2 berdasarkan digitasi Citra Satelit Resolusi Tinggi 2015, luas daratan Banda Aceh hanya 5.903 hektar, ukuran ini dinilai sangat kecil untuk ukuran ibu kota provinsi.

Sementara area yang terbangun di Banda Aceh mencapai 55 persen dari total luas, dengan sisa lebih kurang 10 persen area air (sungai), yang berarti Banda Aceh hanya memiliki 35 persen area yang belum terbangun. Namun apabila dikurangi dengan peruntukan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Perkotaan 20 persen, maka praktis Kota Banda Aceh hanya tinggal 15 persen lagi yang bisa dimanfaatkan untuk pembangunan.

“Jadi solusinya ya itu tadi, ibu kota provinsi Aceh diperluas ke wilayah Aceh Besar tanpa menggeser batas wilayahnya. Jadi nanti infrastruktur ibu kota Provinsi Aceh itu ada di Aceh Besar dan Kota Banda Aceh dengan konsep pembangunan greater city,” pungkas H Firmandez.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *