,

H Firmandez Dukung Hari Malahayati

BANDA ACEH – H Firmandez selaku Koordinator Tim Pemantau Otonomi Khusus (Otsus) Aceh di DPR RI, sangat mendukung adanya wacana Hari Malahayati. Setelah perempuan asal Aceh ini ditetapkan sebagai pahlawan nasional beberapa waktu lalu, kini nilai-nilai sejarah dan spirit Malahayati perlu diwariskan direvitalisasi oleh generasi muda.

“Saya sangat setuju dengan wacana ini. Malahayati sosok fenomenal, laksamana perempuan pertama di dunia, bukan hanya jadi kebanggaan masyarakat Aceh secara khusus, tapi juga masyarakat Indonesia secara umum,” ujar H Firmandez.

Anggota DPR RI dari daerah pemilihan (dapil) Aceh 2 ini menjelaskan, secara historis, perjuangan Malahayati pada masanya melebihi kiprah perempuan mana pun di dunia. Selain sebagai laksamana, ia juga diplomat yang diutus Sultan Aceh untuk menemui utusan Ratu Inggris, James Lancaster yang melakukan kunjungan diplomasi ke Aceh pada 6 Juni 1602.

“Kiprah Malahayati tidak hanya diakui oleh bangsanya sendiri, tapi juga oleh bangsa-bangsa di Eropa. Ketika perempuan Eropa belum mengenal emansipasi, Malahayati telah berkiprah jauh. Ia berhasil menggempur armada Portugis yang dipimpin Francois de Soza de Castro dan mengusirnya dari Aceh. Sebanyak 60 tentara Portugis tewas. Peristiwa itu membuat gempar Eropa, karena Aceh bukan hanya menyerang armada Francois de Soza de Castro tapi juga mengusir semua kapal berbendera Portugis di Selat Malaka, hingga armada Portugis melarikan diri ke Goa,” ungkap H Firmandez.

H Firmandez melanjutkan, Malahayati merupakan inisiator terbentuknya Pasukan Inong Balee, divisi tentara peempuan di Kerajaan Aceh. Kesuksesannya memimpin pasukan itu mengantarnya menjadi seorang admiral perempuan pertama di dunia.

Malahayati juga berhasil menangkap dan menahan kapal Belanda di perairan Aceh yan dinakkodai oleh Cornelis de Houtman dan Frederick de Houtman. Malah Malahayati sendiri yang membunuh Cornelis de Houtman karena melawan saat ditangkap di perairan Aceh.

“Peristiwa penangkapan itu ditulis dalam berbagai buku sejarah tentang Aceh oleh sejarawan Barat, seperti Van Zeggelen pada tahun 1835, Davis dan Jacob tahun 1894 dan Tiele tahun 1881, serta beberapa penulis barat lainnya,” lanjut H Firmandez.

Masih menurut H Firmandez, para penulis barat baik dari Eropa maupun Amerika, menggambarkan Malahayati sebagai sosok yang tegas dan berwibawa. Ketegasannya dalam menjaga kedaulatan wilayah Aceh dari upaya pencaplokan oleh bangsa barat membuat namanya fenomenal hinga sekarang.

“Sikap dan spirit Malahayati ini yang perlu direvitalisasi oleh generasi Aceh dan Indonesia secara umum sekarang. Maka wacana hari Malahayati itu patut kita dukung, agar anak bangsa ini kenal dengan pahlawannya,” pungkas H Firmandez.[HK]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *