,

Gubernur Terpilih Diminta Bangun Industri di Aceh

TAPAKTUAN – Gubernur Aceh terpilih pada Pilkada serentak 15 Februari 2017 diharapkan bisa membangun dunia industri di Aceh. Hal itu dinilai penting untuk mengelola hasil alam Aceh secara maksimal.

Hal tersebut disampaikan Ketua Forum Bedah Desa Nasional (FBDN) T Sukandi, Senin, 20 Februari 2017 di Tapaktuan, Aceh Selatan. Siapa pun yang nantinya ditetapkan sebagai pemenang Pilkada 2017, Gubernur Aceh periode 2017-2022 harus memprioritaskan program peningkatan kesejahteraan rakyat dan memacu pembangunan. “Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh terpilih harus segera wujudkan pabrik industri untuk mengolah hasil sumber daya alam yang melimpah,” kata T Sukandi.

Menurutnya, Provinsi Aceh adalah salah satu daerah penghasil sumber daya alam yang luar biasa besar di Indonesia. Sayangnya selama ini kekayaan alam Aceh tersebut tidak dikelola dengan baik dan tepat.

“Artinya bahwa, Aceh hanya sebagai daerah penghasil dari sumber daya alam itu tetapi tidak bisa menjadi daerah yang mampu mengolah bahan baku mentah tersebut menjadi produk bernilai jual sehingga bisa di pasarkan ke daerah-daerah lain di Indonesia maupun untuk kebutuhan konsumsi masyarakat lokal di Aceh itu sendiri,” papar Sukandi.

Dia mencontohkan seperti sumber daya alam karet yang diproduksi oleh para petani di Aceh. Sayangnya, produksi bahan baku mentah karet tersebut seluruhnya di kirim ke Medan Sumatera Utara atau ada juga yang diekspor langsung ke luar negeri.

Seharusnya, kata dia, dengan produksi karet mentah yang melimpah di Aceh tersebut dapat diolah langsung menjadi produk jadi yang bernilai jual seperti produk sandal, sepatu hingga ban mobil atau ban sepeda motor.

“Kenapa selama ini tidak dibangun langsung pabrik pengolahan produk jadi tersebut di Aceh. Padahal Aceh memiliki sumber daya alam yang mampu mendukung pabrik industry tersebut. Jika saya dibangun pabrik industry, maka pabrik itu akan menyerap tenaga kerja sehingga dengan sendirinya menguragi pengangguran termasuk daerah juga akan mendapatkan pajak atau retribusi dari perusahaan tersebut,” sesalnya.

Selain itu, lanjut Sukandi, di Provinsi Aceh juga kaya akan sumber daya alam material bijih besi. Namun sayangnya, seluruh bahan baku mentah tersebut terpaksa diekspor ke luar negeri melalui Singapura karena tidak ada pabrik industri yang mampu mengolah bahan baku mentah menjadi produk jadi.

“Kita juga memiliki lahan perkebunan sawit yang cukup luas, tapi sayangnya kita hanya mampu membangun tingkat pabrik CPO. Sedangkan untuk mengolah bahan baku sawit masih mentah tersebut menjadi produk jadi seperti minyak goreng, masih harus dikirim ke luar daerah padahal minyak goreng itu merupakan salah satu kebutuhan dasar masyarakat kita,” ungkap Sukandi.

Oleh karena itu, T Sukandi berharap kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh yang akan dilantik sebagai kepala pemerintahan dan kepala daerah Aceh nantinya, agar mampu meningkatkan pertumbuhan perekonomian masyarakat serta memacu laju pembangunan daerah sehingga tidak terus jauh tertinggal dengan daerah lainnya di Indonesia.

“Kepada Gubernur dan Wakil Gubernur Aceh ke depan, kita sangat berharap supaya dapat mewujudlkan Aceh bukan sekedar daerah penghasil sumber daya alam, tapi Aceh juga dapat menjadi daerah yang dapat memproduksi semua kebutuhan yang di dasari oleh bahan baku yang bersumber dari Aceh itu sendiri,” pungkasnya.[Hendri Z]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *