,

Gerakan Peradaban Aceh di Tangan Kaum Alaidin

Oleh Tuanku Warul Waliddin

Dinasti Alaidin merupakan pemegang kekuasaan Aceh selama 176 tahun dengan 13 orang sultan.  Alaiddin bermakna Meninggikan Agama atau Penjaga Agama. Kini pewarisnya bangkit kembali  untuk Aceh lebih baik.

Sedikit dari masyarakat Aceh yang familiar dengan Sebutan “Kaum ‘Alaiddin”,  Bahkan hampir tidak dikenal sebutan ini di seantaro Tanah Aceh pada hari ini. Padahal sejak Sultan Alaidin Ahmadsyah (1727 -1735) bin Abdurrahim Maharajalela bin Faqih Zainal Abidinsyah bin Malik Daim Mansursyah (Tengku Chik Direubee) yang juga Mertua dan Paman dari Sultan Iskandar Muda Johan Berdaulat.

Kaum Alaidin atau Dinasti ‘Alaiddin sudah mulai berkuasa seterusnya  hingga tercatat ada 13 Sultan Aceh yang berketurunan dari Dinasti ‘Alaiddin ini sampai kepada Sultan terakhir Sultan ‘Alaiddin Muhammad Daudsyah Johan Berdaulat yang berkuasa sejak 1878 hingga di Tangkap oleh Belanda pada 1903 dan diasingkan ke Ambon dan berakhir hayatnya di Batavia / Jakarta pada 6 Februari 1939.

Dinasti Alaiddin yang juga ada yang menyebutnya Dinasti Bugis berperan dalam mengembalikan suksesi Kesultanan Aceh ke jalur nasab yang sama dengan nasab pendiri awal kesultanan Aceh yaitu Sultan Alaidin Johansyah (Abdul Azis ALmulaqqab) bin Machdum Abi Abdillah Asyech Abdurrauf (Tuan Dikandang Sjech Bandar Darussalam).

Dimana sebelum Sultan Alaidin Ahmadsyah (1727 – 1735) berkuasa Kesultanan Aceh Darussalam sempat di Pimpin oleh Para Sultan Dinasti Syarif bergelar Al Jamalullail sebanyak 5 Sultan, diawali oleh Sultan Badrul Alam syarif Hasyim Jamaluddin (1699-1702) hingga Sultan Syamsul Alam (1726 – 1727) yang bila di akumulasi kelima Sultan ini lebih kurang berkuasa dalam Kesultanan Aceh selama 28 tahun, mengatasi gonjang ganjing perdebatan mengenai Fatwa Mufti di Mekkah terhadap Kepemimpinan Para Sulthanah di Aceh.

Menurut klaim para sejarawan sebuah surat telah dikirimkan dari Mekah pada tahun 1699 yang memuat aturan tentang tidak sahnya perempuan diangkat sebagai pemimpin. Berdasarkan surat tersebut sultanah Kamalat Syah yang sedang memerintah akhirnya digulingkan. Pemerintahan baru di bawah kepemimpinan Sultan Badrul Alam Syarif Hasyim Jamaluddin diproklamirkan.

Dinasti ‘Alaiddin Berkuasa

Secara Etimologi ‘Alaiddin bermakna Meninggikan Agama atau Penjaga Agama yang dalam hal ini agama Islam tentunya. Beberapa penulis menyebut dinasti ‘Alaiddin dengan sebutan dinasti Bugis. Ini dikarenakan kakek dari Sultan ‘Alaiddin Ahmadsyah yang bernama Daim Mansursyah alias Tengku Chik Direubee pulang dari perantauan yang lama dalam berdakwah hingga ke tanah Bugis.

Hingga akhirnya masyarakat Aceh pada waktu itu menyebut beliau Tengku di Bugis untuk Tengku Chik Direubee Alias Daim Mansursyah. Namun sedikit pula masyarakat yang mengetahui bahwa sebenarnya Tengku Chik Direubee merupakan Ayah Mertua dari Sultan Iskandar Muda, yang mana Iskandar Muda yang mempersunting Putrinya yaitu Putroe Seni/ Putroe sani.

Selain juga sebenarnya Daim Mansursyah adalah sebagai Paman Sultan Iskandar Muda apabila ditelusuri dari sisi nasab beliau ke atas. Sehingga peran Daim Mansur sesungguhnya memiliki arti yang luas dan sangat besar didalam  kehidupan seorang Iskandar Muda sejak ia kanak-kanak hingga remaja dan dinobatkan menjadi Sultan Aceh.

Selain paman, mertua dan ternyata Daim Mansyur adalah juga seorang guru yang mendidik Iskandar Muda dalam multi disiplin ilmu hingga beliau siap menjadi seorang sultan yang tangguh di masanya dan memiliki nama besar hingga hari ini.  Mulai dari guru ilmu agama, ilmu pemerintahan, ilmu strategi perang hingga ilmu teknik sipil dan Arsitektur, yang mana hampir seluruh kemampuan seorang Iskandar Muda adalah di wariskan dari gurunya Daim Mansyur.

Ternyata di balik seorang sultan yang besar ada seseorang yang membimbingnya yang mungkin istilah pada hari ini adalah “coach atau mentor” yang membawa Sultan Iskandar Muda menjadi sultan yang sukses dan terluas wilayah kekuasaannya di seluruh sumatera hingga semenanjung tanah Malaka.

Pernah dalam sebuah catatan menyebutkan bahwa Tengku Chik Direubee yang juga dikenal sebagai perintis pembangunan irigasi untuk Kecamatan-kecamatan Delima, Pidie, dan Batee. Teungku Chik Di Pasi membangun Lueng Bintang yang memasok air untuk pengairan sawah di kecamatan-kecamatan Titeue/Keumala, Kota Bakti, Mutiara, Peukan Baro, Indrajaya, Kembang Tanjung, dan Simpang Tiga. Teungku Chik Trueng Campli membangun lueng Trueng Campli yang bermuara di Pasi Lhok yang Sejak tahun 90-an, ketiga jaringan irigasi itu dijadikan satu proyek, yaitu Proyek Irigasi Baro Raya. Three rivers, one plan, and one management.

Dan tahukah kita bahwa sesungguhnya Iskandar Muda pernah diberikan tugas oleh Daim Mansyur untuk menyelesaikan project irigasi dan pembukaan jalan di kawasan ini hingga dapat diselesaikan dengan sukses sehingga hari ini di kawasan tersebut memiliki sistem irigasi dan pengairan sawah yang terbaik.

Pada tahun awal 1727 merupakan hari-hari terakhirnya Sultan Syamsul Alam (dinasti Syarif Terakhir) sebagai penguasa Aceh, adalah ketika wilayah-wilayah sagi dengan suara bulat menyerahkan mandat kepemimpinan kepada Putra Abdurrahim Maharaja Lela seorang perwira yang memimpin benteng di ibukota. Maharaja Lela yang kelak bergelar sebagai Sultan Alauddin Ahmad Syah menyanggupi tawaran tersebut lalu Sultan Syamsul Alam digulingkan pada bulan Januari 1727

Kejatuhannya menandai berakhirnya 3 dekade kekuasaan Wangsa Syarif di kesultanan Aceh yang digantikan oleh penguasa berikutnya yang berasal dari keturunan Dinasti ‘Alaiddin.

Sebagai suksesor dari Malik Daim Mansursyah alias Tengku Chik Direubee Dinasti Alaiddin menjadi awal kebangkitan Kesultanan Aceh kembali di dalam menata pemerintahan yang didukung oleh 3 sagi  sebagai benteng pertahanan utama Ibukota Kesultanan di Bandar Aceh Darussalam.

Hubungan luar negeri diperkuat kembali dengan bangsa-bangsa kuat dunia, tercatat surat menyurat dengan inggris, portugis, dan Turki Utsmani tentunya sebagai pernyataan tunduk sebagai vassal Ottoman di sampaikan langsung oleh Sultan Aceh di masa Dinasti Alaiddin. Baik pernyataan tunduk dan patuh maupun permohonan bantuan militer terus di galakkan kembali setelah dirintis oleh Sultan Alaiddin Al Qahar pada 1547 dengan Turki Utsmani.

Dinasti Alaiddin kembali berperan didalam menghadapi invasi bangsa kulit putih eropa ke Nusantara. Pada masa Sultan Alaiddin Mansursyah (1840-1870) sempat pula direncanakan untuk merebut Batavia dari Belanda. Tercatat sejak bangsa Belanda, Inggris dan Portugis yang mulai aktif membagi wilayah jajahan (koloni) menyebabkan Kesultanan Aceh berupaya sekuat mungkin mempertahankan wilayah dan batas-batas negaranya dimasa Kolonial ini.

Tercacat dalam buku sejarah bahwa bangsa di Nusantara berhasil dijajah selama 350 tahun lamanya. Apabila kita merunut kepada tahun kemerdekaan Indonesia 1945 maka 350 tahun yang lalu dimulai sekitar akhir tahun 1500-an, sejak Alfonso D’albuquerque seorang Pelaut Portugis yang menginjakkan kakinya di Nusantara.

Namun keutuhan Kesultanan Aceh masih terpelihara hingga 26 Maret 1873 Belanda mengeluarkan maklumat perang Antara Belanda dengan Aceh. Hal ini dikarenakan Aceh tidak mau tunduk dan bersedia menyatakan tunduk dan patuh kepada Bangsa Kolonial Belanda. Sehingga pada invasi pertama tersebut Belanda dinyatakan kalah telak dan harus menarik semua pasukannya kembali keatas kapal Cittadel van Antwerpen setelah Perwiran tertingginya Jendral Kohler tertembak oleh sniper Sultan Aceh di mesjid raya Baiturrahman.

Secara masa berkuasa dan jumlah Sultan yang berkuasa ternyata Dinasti Alaiddin adalah yang terlama dan terbanyak Sultannya sepanjang Kesultanan Aceh berdiri, tercatat ada 13 Sultan yang berkuasa di sana, sejak 1727 hingga Sultan Aceh terakhir Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah ditawan Belanda pada 1903 dan diasingkan ke Ambon dan Batavia.

Yang berarti sekitar 176 tahun Dinasti Alaiddin di bawah Sultan dan para Tuanku-tuanku berhasil mempertahankan tegaknya Kesultanan Aceh hingga menjadi modal kuat lahirnya Republik Indonesia pada 1945, di mana pada saat konfrensi Meja Bundar Inggris mempertanyakan daerah mana di Indonesia yang belum tunduk secara sah kepada Belanda dan tersebutlah Aceh sebagai sebuah Kerajaan yang tidak pernah mau tunduk kebawah Kerajaan belanda.

Kaum Alaiddin Kini

Adalah mengutip dari silsilah yang turun temurun dipelihara oleh keluarga keturunan Sultan Aceh Dinasti Alaiddin yang hari ini disebut Kaum Alaiddin. Secara nasab patrilineal keturunan laki-laki disebut Tuanku dan anak perempuan disebut Tengku.

Eksistensi Kaum Alaiddin tercatat pada sekitar tahun 70-an dibawah Ketua Kaum Tuanku Hasyim, SH bin Tuanku Raja Keumala. Tuanku Hasyim, SH (Kepala Kaum Alaidin) dan Tuanku Abbas, BA (mantan Kepala DEPPEN RI di Banda Aceh), Tuanku Raja Ibrahim Sang putra Mahkota.

Tercacat pula Tuanku Mahmud bin Tuanku Abdul Majid yang menjadi salah satu Tokoh Aceh di Awal Kemerdekaan Indonesia, Tuanku Maimun bin Tuanku Hasyim, SH yang pernah menjabat Kepala Bappeda Kota Banda Aceh, Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim pensiunan dinas Kelautan Aceh, dan salah satu tokoh Aceh di Jakarta Tuanku Mirza Keumala bin Tuanku Abdul Jalil (Pejabat PDIA) dan Tengku Putroe Safiatuddin bin Tuanku Raja Ibrahim yang baru saja meninggal beberapa waktu yang lalu yang menerima gelar Pahlawan Nasional untuk Laksamana Keumalahayati, dan beberapa Tuanku lainnya yang tidak tersebutkan disini.  

Tepat pada 22 September 2018 ini di Taman Budaya, Banda Aceh atas inisiatif dan mufakat para tokoh Tuanku yang masih ada hari ini mengukuhkan salah seorang sesepuhnya yaitu Tuanku Anwar bin Tuanku Abdul Wahab (Mantan atase Perdagangan RI di Beijing) sebagai Ketua Kaum Alaiddin yang baru setelah sempat vakum beberapa periode.

Semoga momentum ini menjadi titik balik kebangkitan “Kaum ‘Alaiddin” Dalam mengembalikan kejayaan Aceh dimasa yang akan datang. Selamat.

Tuanku Warul Waliddin adalah Pang Ulee Komando Aneuk Muda Alam Peudeung (Komandan) Al Asyi. Ia juga anggota Keluarga Besar Kesultanan Aceh Darussalam dari Dinasti Alaiddin dengan nama lengkap Tuanku Warul Walidin Bin Tuanku Raja Yusuf bin Tuanku Raja Ibrahim bin Sultan Alaiddin Muhammad Daudsyah.

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *