,

Gara-gara Bendera, Panglima Sagoe Dibogem Mantan Kombatan

TAPAKTUAN – Dua mantan kombatan Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sagoe Sawang, Aceh Selatan, Misbahudin (42) dan Pipit (35) terlibat baku hantam di Desa Panton Luas, Kecamatan Sawang, Rabu sore, 12 Oktober 2016 sekitar pukul 18.00 WIB.

Aksi perkelahian satu lawan satu ini mengakibatkan Misbahudin, Panglima Sagoe Sawang, mengalami luka memar di bagian wajah dan telinga berdarah. Polsek Sawang yang menerima pengaduan dari korban Misbahudin sedang mengusut kasus perkelahian ini.

Perkelahian itu bermula dari percekcokan mulut antara Misbahudin dengan Pipit. Pada Rabu sore itu, Misbahudin yang merupakan warga Desa Sikulat, dengan mengendarai sepeda motor bersama seorang anaknya jalan-jalan ke Desa Panton Luas.

Sampai di depan rumah Kepala Desa Panton Luas bernama Dastur, Misbahudin berhenti dan terlibat perbincangan dengan Pipit, warga Desa Trieng Meduro Baroh yang saat itu sedang berada atau duduk di teras rumah Dastur. Saat itu, Pipit bertanya kepada Misbahudin apa sudah ada bendera Partai Aceh, lalu dijawab oleh Misbahudin bendera banyak ada sekitar 2.000 lembar, namun yang belum ada hanya tiang bendera.

Setelah sempat terjadi percekcokan mulut, saat itu antara keduanya nyaris terjadi baku pukul, namun berhasil dilerai oleh Kepala Desa Panton Luas, Dastur. Misbahudin yang kembali ke rumahnya ternyata setelah mengantarkan anaknya dia kembali lagi ke Desa Panton Luas menjumpai Pipit, hingga akhirnya mereka kembali terlibat perkelahian.

Tak terima dengan kejadian tersebut, pada Rabu malam, 12 Oktober 2016 malam sekitar pukul 20.00 WIB, Misbahudin yang mengalami luka di bagian telinga sebelah kiri dan kanan, membuat pengaduan ke Polsek Sawang.

Kapolsek Sawang, Iptu Zulkiram, Kamis, 13 Oktober 2016 membenarkan telah menerima pengaduan dari Misbahudin terkait perkelahian dengan Pipit yang terjadi di Desa Panton Luas.

Menurut Kapolsek, kasus tersebut hanya kesalahpahaman antara keduanya yang berujung terjadi aksi perkelahian. Dia mengaku bahwa Kepala Desa Panton Luas, Dastur telah meminta kepada pihak Polsek Sawang menjadi penengah untuk mendamaikan persoalan tersebut, sebab menurut keterangan Dastur kepada polisi antara kedua pelaku perkelahian tersebut masih mempunyai hubungan saudara.

“Keuchik Dastur telah meminta agar kasus itu didamaikan di tingkat desa saja. Kami menyambut baik permintaan itu, namun kami memberikan batas waktu selama tiga hari kepada mereka untuk membuat kesepakatan perdamaian dan kedua belah pihak sepakat untuk mencabut pengaduan kepada polisi,” ujarnya.

Menurut Kapolsek, karena kasus itu merupakan kriminal murni, maka pihaknya meminta agar tidak disangkutpautkan dengan organisasi tertentu, apalagi kasus yang bermula dari percecokan mulut karena ada kesalahpahaman itu melibatkan dua orang warga yang sama-sama berasal dari mantan kombatan serta bernaung di satu partai.

“Jika antara ke dua belah pihak sepakat untuk berdamai dan secara bersama-sama mencabut pengaduan, maka kami segera akan mengeluarkan Surat Perintah Penghentian Penyidikan (SP3) untuk menutup kasus itu,” tegasnya.[Hendri Z]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *