FKP Observasi Kesehatan Penyu Hijau di Tapaktuan

0
299

TAPAKTUAN – Forum Konservasi Penyu (FKP) Aceh Selatan melakukan tagging dan observasi kesehatan penyu hijau di muara sungai kota Tapaktuan, Selasa, 9 April 2019. Sebanyak 5 ekor penyu yang berkeliaran di muara atau kuala wangi, Desa Pasar, Kecamatan Tapaktuan itu, ditangkap dengan menggunakan jaring oleh pengurus FKP Aceh Selatan.

Penyu hijau yang telah berhasil ditangkap, lalu dibersihkan kulitnya dengan bros dan juga diberi obat suportif sejenis multi vitamin dengan cara disuntik. Penyuntikan penyu hijau langsung dipimpin oleh Drh. Arie Muhardi dari Pusat Kajian Satwa Liar (PKSL) FKH Unsyiah, Banda Aceh.

Setelah dilakukan penyuntikan dan pembersihan badan penyu dari lapisan lumpur, kemudian satwa dilindungi tersebut kembali di lepas liar ke muara sungai. Selain melakukan tagging dan konservasi kesehatan penyu hijau, FKP Aceh Selatan juga menggelar sosialisasi penyelamatan penyu yang diikuti puluhan mahasiswa dan masyarakat setempat.

Kegiatan sosialisasi ini menghadirkan narasumber Drh. Arie Muhardi dari Pusat Kajian Satwa Liar FH Unsyiah dan Kepala Seksi Konservasi Perikanan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Aceh, Dr. Farouk Afero.

Dalam paparannya, Arie Muhardi menjelaskan, penyu hijau hidup sehat tetapi mencari makan di muara. Hal ini menunjukkan bahwa sumber makanan atau habitatnya sudah hilang. “Artinya, karena sumber makanannya sudah hilang maka penyu ini mulai masuk ke muara untuk mencari makan,” ujarnya.

Menurutnya, populasi penyu mulai berkurang karena beberapa faktor seperti pembangunan reklamasi pantai dan pengaruh endapan sedimen dari hutan yang masuk ke laut.

“Jadi kesehatan penyu tak terlepas dari hal – hal seperti itu. Oleh karenanya, buatlah himbauan di lokasi ini jangan ada pembuangan sampah ke laut dan biarkan penyu selalu berada di sini,” pintanya.

Sementara itu, Dr. Farouk Afero mengungkapkan, Pemprov Aceh melalui DKP telah mencadangkan lebih kurang 170.000 hektar kawasan konservasi penyu di Aceh. Pencadangan kawasan tersebut berdasarkan target yang diberikan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan RI, bahwa Provinsi Aceh pada tahun 2019 harus menyediakan 30 hektar kawasan konservasi penyu.

“Atas target yang diberikan tersebut, kita telah mencadangkan kawasan konservasi yang ada di Provinsi Aceh baik yang ada di pantai barat selatan maupun yang ada di pantai timur utara,” paparnya.

Dijelaskan, untuk pantai barat selatan ada beberapa kawasan konservasi perairan daerah baik yang ada di Kabupaten Simeulu, Aceh Selatan, Aceh Barat Daya, Aceh Jaya, Sabang, Aceh Besar, dan Kabupaten Aceh Singkil.

“Untuk Kabupaten Aceh Selatan sendiri, kita sudah mencadangkan lebih kurang hampir 3.000 hektar kawasan konservasi perairan daerah. Tahun 2019 ini kita akan susun dokumen rencana pengelolaan dan zonasi kawasan konservasi perairan daerah ini,” ungkapnya.

Kabupaten Aceh Selatan, lanjutnya, sudah menjadi target prioritas utama, karena keberadaan penyu semakin lama semakin langka. Maka populasi penyu di Aceh Selatan harus dijaga dan dilindungi.

“Oleh karena itu kita sangat berharap ada usaha atau kesadaran sendiri masyarakat melakukan perlindungan pelestarian populasi penyu yang ada di daerah ini,” tandasnya.[HM]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here