,

Falsafah Aceh dalam Memilih Pemimpin

Masyarakat Aceh memiliki filosofi tersendiri dalam memilih pemimpin. Kearifan lokal yang menjadi sandaran ketika rakyat harus memilih pemimpinnya. Keyakinan bersama itu merupakan aturan tak tertulis yang sering disampaikan dan diwarisi secara lisan, turun menurun hingga sekarang.

Dalam filosofi masyarakat Aceh, pemimpin yang layak dipilih itu adalah yang tua dalam segala hal. Tua di sini bukanlah tua usia, tapi tua dalam hal yang lain. Makanya orang Aceh menyebut pemimpin itu sebagai ureueng tuha, meski kadang yang memimpin itu lebih muda dari yang dipimpin.

Tua yang pertama yang dinilai untuk dipilih adalah tuha bijeh, maknanya nasab dan keturunannya jelas. Yang kedua tuha ulee artinya seseorang yang punya kapasitas ilmu untuk memimpin, sanggup menanggung dan menjalankan amanah kepemimpinan yang diembankan kepadanya. Inilah yang dalam dunia modern disebut oleh masyarakat Barat sebagai the right man on the right place.

Tua selanjutnya adalah tuha bulee, makna tua bulu ini adalah punya wibawa dan disegani oleh masyarakat. Nilai ketokohannya bisa menjadi panutan bagi masyarakat yang dipimpinnya.

Kemudian ada tuha pangkee, maknanya orang yang secara ekonomi sudah selesai. Orang yang sudah mapan dalam hidupnya, sehingga ketika mendapat amanah jabatan, tidak digunakan untuk memperkaya diri dan golongan. Ini juga salah satu cara masyarakat Aceh dalam mencegah munculnya pemimpin yang korup.

Itu saja tidak cukup, masyarakat Aceh sejak zaman dahulu sudah menambahnya dengan satu aturan lagi, sebagaimana disebut dalam hadih maja, tuha tuho, tuha tusoe droe. Artinya orang yang tahu diri, tahu bahwa kepemimpinannya akan dipertanggungjawabkan di mahkamah Allah. Ia tahu diri bahwa hidup di dunia sebagai hamba Tuhan, bukan hamba jabatan.

Falsafah Aceh juga melarang memilih pemimpin yang zalim. Orang Aceh menyebutnya paleh. Orang yang sudah diberi lakab (sebutan) paleh tidak boleh diangkat menjadi pemimpin.

Banyak hadih maja yang menyatakan tentang tabiat paleh ini, beberapa diantaranya seperti: paleh agam han jeut duek banja, paleh aneuk muda han lop pakat, maknanya kurang lebih, celaka pria yang tidak bisa bisa bermusyawarah, celaka anak muda yang tidak menjalankan kesepakatan bersama. Sementara untuk pemimpin diungkapkan paleh raja geudeungo haba beurangkasoe, celaka pemimpin yang mendengar bisikan siapa saja dalam kepemimpinannya.

Kemudian ada juga paleh ureung carong beuo buet, paleh ureung pubuet hana meupakat, paleh ureung kuat peusuna. Artinya, celaka orang pintar tidak mau berbuat, celaka orang berbuat tidak bermufakat, lebih celaka lagi tukang fitnah. Jadi, hindari memilih ureung paleh, mari memilih ureung tuha dalam segala hal ketuaannya, bukan tua usianya semata.[Iskandar Norman]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Iskandar Norman

Pemimpin Redaksi http://teropongaceh.com. Pernah bekerja di Tabloid Modus Aceh, Harian Aceh Independen, Harian Aceh dan Pikiran Merdeka. Menulis sejumlah buku seperti Nuga Lantui, Legenda Aceh dan Hadih Maja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *