,

Ekonomi Aceh Hanya Tumbuh 1,42 Persen

BANDA ACEH – Pertumbuhan ekonomi Aceh dengan migas pada akhir 2015 hanya sekitar 1,42 persen. Dalam tahun 2016 ekonomi Aceh diperkirakan akan tumbuh 2 hingga 3,68 persen.

Hal ini sebagaimana dilaporkan Bank Indonesia Cabang Banda Aceh, Rabu 17 Februari 2016 dan dilansir di laman www.bi.go.id. Dalam laporan tersebut Deputi Direktur Bank Indonesia Cabang Banda Aceh, Ahmad Farid menjelaskan, meski hanya tumbuh 1,42 persen, angka tersebut meningkat dari triwulan ke III 2015 yang hanya 0,29 persen, serta lebih tinggi dari pertumbuhan akhir tahun 2014 yang hanya 0,38 persen.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi tanpa migas Aceh mengalami pertumbuhan sebesar 5,01 persen, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 4,24 persen.

“Pertumbuhan positif tersebut didorong oleh adanya pertumbuhan di seluruh sektor ekonomi terkecuali sektor pertambangan dan penggalian, sektor industri pengolahan, dan sektor pengadaan listrik dan gas,” jelas Ahmad Farid.

Masih menurut laporan BI, sumber pertumbuhan ekonomi Aceh pada triwulan IV 2015 berasal dari sektor-sektor utama Aceh, yakni sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan dengan sumber pertumbuhan tertinggi sebesar 1,27 persen, diikuti oleh sektor perdagangan dan reparasi mobil/motor (0,59 persen), dan sektor administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial (0,51 persen).

Sementara itu, dari sisi permintaan, kontribusi peningkatan ekonomi Aceh bersumber dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) dengan kontribusi sebesar 5,42 persen, konsumsi pemerintah 4,99 persen, dan konsumsi rumah tangga 1,82 persen.

Bank Indonesia juga memperkirakan perekonomian Aceh pada triwulan I tahun 2016 diperkirakan tumbuh meningkat pada kisaran 2,68 sampai 3,68 persen. Dari sisi penawaran, sektor pertanian diperkirakan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan sementara itu sektor pertambangan dan industri pengolahan diperkirakan masih mengalami kontraksi.

“Dari sisi permintaan, peningkatan konsumsi diperkirakan memberikan andil utama dalam pertumbuhan namun tingginya impor masih menjadi penghambat. Pada triwulan I tahun 2016 inflasi Aceh diperkirakan masih berada pada level antara 3,53 persen hingga 4,53 persen. Tekanan diperkirakan bersumber baik dari inflasi kelompok volatile food, administred price,” jelas Ahmad Farid.[HK]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *