,

Dua Hari Terjebak Banjir, Ratusan Penumpang Terancam Kelaparan

TAPAKTUAN – Ribuan mobil penumpang dan barang serta mobil pribadi termasuk sepeda motor hingga Jumat, 8 Desember 2017 masih terjebak banjir di Jembatan Ie Mirah, Desa Ladang Rimba, Kecamatan Trumon Tengah, Aceh Selatan.

Selama dua hari dua malam tertahan di lokasi banjir yang merendam badan jalan negara lintasan Tapaktuan – Medan, Sumatera Utara, ratusan masyarakat sudah terancam kelaparan karena stok bahan makanan yang tersedia sudah tidak ada lagi.

“Kami sudah dua hari dua malam sejak Rabu sore tertahan di sini. Saya bersama para penumpang sudah kelaparan karena stok bahan makanan didalam mobil sudah tidak ada lagi. Di sini juga tidak ada warung yang buka, karena rumah-rumah penduduk juga telah terendam banjir,” kata Yayang, salah seorang sopir mobil rental yang menghubungi wartawan di Tapaktuan, Jumat, 8 Desember 2017.

Yayang mengaku membawa penumpang dari Medan, Sumatera Utara tujuan Tapaktuan. Mereka terjebak banjir di Ladang Rimba sejak Rabu sore karena air telah merendam badan jalan setinggi 2 meter lebih sehingga melumpuhkan transportasi dari arah Medan, Sumatera Utara menuju Tapaktuan, Aceh Selatan maupun sebaliknya.

Dia mengatakan, untuk bertahan hidup selama beberapa hari lalu, mereka tidak hanya menyantap roti dan makanan ringan lainnya yang dibawa penumpang tapi juga menyantap barang-barang kiriman milik masyarakat baik yang berada di dalam mobil penumpang, mobil angkutan barang maupun dalam mobil pribadi.

Dia menyebutkan, selama dua hari dua malam terjebak banjir di lokasi tersebut, telah mengakibatkan antrian kendaraan sepanjang 10 km lebih yang memenuhi kedua sisi badan jalan. Dia memperkirakan antrian kendaraan serupa juga terjadi dari arah Tapaktuan menuju Medan.

“Jumlah kendaraan yang mengantri di kawasan Desa Ladang Rimba, Trumon Tengah ini diperkirakan sudah mencapai ribuan unit. Karena arus transportasi sejak dua hari lalu benar-benar lumpuh total,” ujarnya.

Menurutnya, pada Kamis malam proses penyeberangan kendaraan menggunakan mobil trado (mobil pengangkut beco) dengan ongkos angkut kendaraan sebesar Rp 300 ribu/unit sempat berlangsung lancar. Namun pengangkutan kendaraan tersebut secara tiba-tiba terhenti pada Jumat pagi tanpa diketahui alasan dan penyebabnya.

“Sekarang ini kendaraan yang bisa melintas hanya truck interculer sepuluh roda. Sedangkan kendaraan mini bus empat roda belum bisa karena ketinggian air bisa menenggelamkan kendaraan. Kami tidak tahu kenapa mobil trado yang semalam mengangkut kendaraan melewati banjir tiba-tiba berhenti,” kata Yayang.

Ketua Pemuda Trumon Raya, Adi Samridha membenarkan pada Kamis malam satu unit mobil trado milik masyarakat setempat sempat melayani pengangkutan kendaraan melewati banjir.

“Benar semalam ada mobil trado. Tapi setelah selesai mengangkut kendaraan sekitar 300 unit lebih, tepat pada Kamis tengah malam kemarin mobil trado tersebut tidak berani lagi melintas karena debit air yang merendam badan jalan tersebut terus naik,” kata Adi Samridha.

Selain mobil trado, lanjutnya, upaya melewati banjir yang merendam badan jalan tersebut juga dilakukan puluhan masyarakat setempat dengan cara mendorong mobil dalam kondisi mesin mati serta knalpot ditutup dengan plastik. Selain itu, masyarakat setempat juga menyediakan beberapa unit perahu dan rakit yang menggunakan papan diikat di atas drum serta rakit menggunakan pohon pisang.

“Untuk jasa mendorong mobil oleh puluhan warga termasuk pengangkutan sepeda motor menggunakan rakit dipungut biaya sebesar Rp 50 ribu/mobil atau per unit sepeda motor. Sedangkan ongkos angkut orang menggunakan rakit atau perahu dipungut sebesar Rp10 ribu/orang sekali jalan,” sebutnya.

Menurutnya, banjir yang merendam badan jalan di Jembatan Ie Mirah, Desa Ladang Rimba, Trumon Tengah tersebut merupakan banjir kiriman akibat meluapnya sungai Gelombang, perbatasan Aceh Selatan dengan Pemko Subulussalam dan Aceh Singkil. Selain itu, banjir tersebut semakin diperparah akibat tingginya curah hujan yang mengguyur wilayah Kecamatan Trumon Raya beberapa hari terakhir.[HM]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *