,

Dampak Pembangunan PLTA Seluruh Warga Lesten Direlokasi

BLANGKEJEREN – Seluruh warga Lesten, Kecamatan Pining, Gayo Lues akan direlokasi. Kawasan yang dihuni 67 Kepala Keluarga (KK) itu masuk dalam rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Proyek itu sendiri dalam proses pengurusan izin pinjam pakai lahan.

Sekda Gayo Lues, H Thalib, Kamis, 6 Oktober 2016 saat ekspos PLTA Tampur Lesten mengatakan, Pemkab Gayo Lues harus segera merampungkan surat relokasi ke 67 KK tersebut supaya tidak bertambah lagi jumlahnya, apa lagi acara tersebut juga dihadiri oleh kepala eesa Lesten.

“Kita akan carikan tempat yang cocok dan tepat untuk warga Lesten, seperti kekawasan perbatasan Gayo Lues dengan Aceh Tamiang, lokasinya masih berdekatan, apa lagi jalanya sudah dibangun,” katanya

Sementara General Menejer PT Kamirzu Denis Stand mengatakan, pihaknya khawatir setelah mengetahui warga Lesten direlokasi akan ada penambahan penduduk yang signifikan, untuk itu ia berharap agar Pemkab Gayo Lues menetapkan jumlah penduduk yang harus direlokasi.

“Kami dari perusahaan akan membangun rumah warga yang direlokasi ini, serta membangun sekolah, tempat ibadah dan fasilitas umum lainya, begitu juga dengan ganti rugi lahanya, itu belum bisa dipastikan apakah dibayar per hektar atau ditanam dan dirawat sampai besar kemudian diserahkan kepada warga,” katanya.

Yang jelas katanya, masyarakat tidak akan dirugikan dengan relokasi dari pemukiman sekarang, pihak Perusahaan akan terus melakukan pembinaan-pembinaan terhadap masyarakat Lesten supaya prekonomianya lebih meningkat.

Sementara Sekretaris Forum Penjaga Harimau dan Sungai Pining, Ali Usman mengatakan, pihak perusahaan harus memberikan jaminan kepada warga Lesten yang akan direlokasi, baik jatah hidupnya maupun mengenai pembebasan lahan warga yang saat ini sedang panen durian, coklat dan areal persawahan.

“Kalau memang masalah PLTA ini kebutuhan negara, kita tidak akan mempermasalahkannya asal flora dan fauna tidak terancam, dan masyarakat Lesten tidak kelaparan, namun perlu saya ingatkan, kalau warga harus direlokasi, ganti rugi perkebunanya jangan dibayar dengan uang tunai, melainkan pihak perusahaan harus memberikan kebun yang siap panen juga, dengan cara dikelola dulu sebelum panen. Kalau diberikan uang ini akan berdampak buruk,” jelasnya.[Win Porang]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *