,

Dampak Kebakaran Dayah, Santri Darul Huda Alami ISPA

TAPAKTUAN – Musibah kebakaran yang melanda Pondok Pesantren Darul Huda Desa Sawang 1, Kecamatan Sawang, Aceh Selatan pada Senin, 26 September 2016 sekitar pukul 16.00 WIB mengakibatkan satu orang santri bernama Baginda (25) mengalami infeksi saluran penafasan akut hingga sesak nafas karena menghirup asap kebakaran. Ia harus dilarikan ke rumah sakit Yulidin Away Tapaktuan.

Korban diketahui jatuh sakit pasca berjibaku bersama puluhan teman-temannya memadamkan kobaran api dengan menggunakan peralatan seadanya. Kobaran api disertai asap yang mengepul dari bangunan bilik santri yang disekat menggunakan tripleks diduga sempat terhirup oleh korban hingga mengakibatkan korban mengalami sesak nafas.

Mengetahui korban telah jatuh sakit, para santri dan dewan guru segera melarikan korban ke RSUD YA Tapaktuan untuk mendapatkan penanganan medis. Ketua Umum Pondok Pesantren Darul Huda, Tgk Rasyidi saat dihubungi dari Tapaktuan, Rabu, 28 September 2016 santri bernama Baginda mengalami gangguan pernafasan akibat menghirup asap. “Korban yang langsung dilarikan ke rumah sakit pasca kejadian kebakaran hingga saat ini masih menjalani perawatan intensif di RSUD YA Tapaktuan,” jelas Tgk Rasyidi.

Dia mengatakan, musibah kebakaran yang terjadi secara tiba-tiba tersebut menghanguskan beberapa rangkang (bilik) tempat tidur santri laki-laki dan satu ruang tempat belajar yang berada di lantai dua bangunan pesantren berkonstruksi permanen tersebut.

Menurutnya, saat mengetahui bangunan pesantren telah dilalap si jago merah, puluhan santri bersama dewan guru langsung melakukan upaya pemadaman dengan menyiramkan air yang diangkut dengan timba dan ember. Berkat kerja keras mereka tersebut, sekitar setengah jam kemudian kobaran api berhasil dijinakkan sehingga tidak sampai menjalar ke bangunan yang lain.

Sementara mobil pemadam kebakaran milik Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Selatan yang didatangkan dari Kecamatan Meukek baru sampai ke lokasi setelah kobaran api padam. Namun demikian, mobil pemadam tetap menyiramkan air ke bangunan gedung yang terbakar untuk memastikan bahwa tidak akan timbul lagi api.

Sejauh ini, lanjut Tgk Rasyidi, pihaknya mengaku belum mengetahui secara pasti dari mana sumber api berasal, karena saat kejadian kebakaran para santri yang seluruhnya berjumlah sekitar 300 orang beserta para dewan guru sedang melakukan aktifitas pengajian di Mushalla lantai bawah.

Tgk Rasyidi mengharapkan kepada Pemerintah Aceh dan Pemkab Aceh Selatan serta pihak-pihak terkait lainnya agar segera menyalurkan bantuan untuk memperbaiki kembali bilik tempat tidur santri dan ruang belajar santri yang sudah hangus terbakar tersebut.

Pasca kejadian kebakaran, para santri harus mengungsi tidur di bilik santri lainnya yang berada di lantai bawah dan sebagian lainnya ada yang terpaksa harus tidur di mushalla yang berada dalam kompleks pesantren.

“Kebetulan saat ini sedang berlangsungnya proses ujian semester, maka terhadap santri yang selama ini menggunakan satu ruang belajar yang telah terbakar, harus mengikuti proses ujian di mushalla. Untuk mengakhiri kondisi darurat tersebut berlangsung lama, maka kami mengharapkan kepada pihak terkait agar segera menyalurkan bantuan untuk menanggulangi dampak musibah kebakaran ini,” pinta Tgk Rasyidi.

Sementara itu, Kepala Bidang Kedaruratan Logistik dan Peralatan BPBD Aceh Selatan Rahmad Humaidy mengatakan, pihaknya telah memprogramkan penyaluran bantuan untuk memperbaiki kembali bangunan pondok pesantren Darul Huda yang terbakar tersebut sesuai ketersediaan dan kemampuan anggaran.[Hendri Z]

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *