,

Daerah Termiskin Itu Bernama Rikit Gaib

BLANGKEJEREN – Pendapatan warga Rikit Gaib hanya sekitar Rp 500 ribu per bulan. Sangat jauh dari mencukupi kebutuhan. Banyak warga yang memilih pindah ke kecamatan lain. Butuh perhatian serius dari pemerintah.

Rikit Gaib merupakan satu dari sebelas kecamatan di Kabupaten Gayo Lues. Letaknya dikelilingi bukit dan sungai. Warga dari 13 desa dalam kecamatan itu hanya bergantung hidup dari menanam serai wangi, itu pun baru bisa dipanen empat bulan sekali untuk disuling menjadi minyak atsiri. Ada beberapa warga yang mencari peruntungan dengan menanam padi, itu pun bukan untuk dijual, tapi dikonsumsi sendiri, untuk kebutuhan hidup dari satu panen ke panen selanjutnya.

Camat Rikit Gaib, Bunyamin, Kamis, 21 Januari 2016 di Blangkejeren mengungkapkan, tingkat pendidikan di kecamatan yang dipimpinnya itu juga sangat rendah, imbas dari rendahnya penghasilan warga. “Hasil alam yang bisa digarap sangat minim, setiap desa dikelilingi bukit dan sungai. Warga tidak mampu memenuhi kebutuhan sekolah anak-anak mereka,” ungkapnya.

Bunyamin
Bunyamin

Menurut Bunyamin, salah satu cara untuk mendongkrak penghasilan masyarakat di sana adalah membangun irigasi teknis dan normalisasi sungai. “Jika itu belum dilakukan, maka penhasilan masyarakat dari tahun ke tahun tidak pernah meningkat,” tegasnya.

Ia berharap pemerintah cepat turun tangan. Alasannya, setiap tahun sawah warga terus berkurang karena abrasi sungai. Pada musim hujan, sering tanaman padi gagal panen, bahkan ada yang tertimbun longsoran tanah dari bukit. Kawasan hutan gersang di sana yang ditumbuhi pinus hanya cocok untuk bertani serai wangi.

Minimnya penghasilan warga Rikit Gaib menyebabkan mereka memilih cara lain untuk bertahan hidup, yakni menambang galian C di sungai secara tradisional. Parahnya lagi, kata Bulnyamin, banyak galian C tak beriizin yang dikendalikan pihak tertentu. Imbasnya, terjadi kerusakan pada daerah aliran sungai (DAS).

“Kalau tidak dihentikan, galian C ilegal ini akan berdampak pada kerugian yang lebih besar bagi masyarakat pada masa yang akan datang. Kami berinisiatif membentuk tim terpadu penertiban,” lanjut Bunyamin.

Anggota tim terpadu berasal dari Koramil Rikit, Polsek, dan Satpol PP/WH. Tim ini nantinya bukan hanya menertibkan galian C semata, tapi juga ternak liar yang berkeliaran di pemukiman warga, pedagang kaki lima di Los Rikit Gaib, serta menertibkan kontraktor liar yang tidak melapor ke pihak desa dan kecamatan. “Tim ini juga akan mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan kosong untuk ditanami tumbuhan produktif, seperti menanam sayur dan buah di perkarangan dan belakang rumah,” jelasnya.

Bunyamin melanjutkan, pihaknya juga akan melakukan pemberdayaan imum mukim dan tokoh masyarakat desa. Setiap ada acara semisal pergelaran tari saman dua hari dua malam, harus ada persetujuan mukim dan tokoh masyarakat setempat. Administrasi desa juga akan ditertibkan. Intinya, kata Bulnyamin, masyarakat diajak untuk lebih produktif dalam pemerintahan desa dan mukim yang teratur.

Masih menurut Bunyamin, cara lainnya untuk membebaskan masyarakat Rikit Gaib dari kemiskinan adalah dengan membuka perkebunan di kawasan Arul Mirah yang dikenal sebagai daerah Bur Penomon. Daerah tersebut sangat cocok ditanami kopi karena berhawa dingin dan tekstur tanahnya sangat subur.

Alur Mirah berada di dekat Atu Peltak, pemerintah sudah membangun jembatan di sana, namun jalan menuju ke lahan untuk perkebunan belum ada. Di sana juga bisa dibangun pemukiman baru bila kebun dibuka. Meski di sana sekarang sudah ada perusahaan penampung getah pinus, namun warga kurang berminat menderes getah.

“Seharusnya dengan adanya perusahaan yang membeli getah pinus, penghasilan warga akan meningkat, tetapi yang menjadi masalah, warga tidak mau menderes, dan lebih memilih berkebun. Saya mengusulkan kepada pemerintah untuk membuka kebun di lahan seluas 2.000 hektar. Meski masuk dalam hutang lindung, itu bisa dikelola oleh masyarakat,” pungkasnya.[Win Porang]

What do you think?

0 points
Upvote Downvote

Total votes: 0

Upvotes: 0

Upvotes percentage: 0.000000%

Downvotes: 0

Downvotes percentage: 0.000000%

Written by Redaksi

Redaksi Teropong Aceh. Email: redaksi@teropongaceh.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *